Site icon Parade.id

Mengkritik Narasi Sejarah yang Hanya Berpusat pada Elite

Foto: Zainal Arifin Mochtar, dok. Detik

Jakarta (parade.id)- Pakar hukum tata negara Prof Zainal Arifin Mochtar mengkritik cara pandang yang menempatkan kemerdekaan Indonesia semata-mata sebagai hasil kerja kaum elite. Menurutnya, kemerdekaan juga lahir dari pengorbanan rakyat biasa, dan proklamasi 1945 tidak otomatis menyelesaikan seluruh persoalan bangsa.

Pandangan itu disampaikan Zainal dalam kanal YouTube pribadinya, @uchange, yang diunggah Senin (26/10/2026). Dalam video tersebut, ia mengulas buku Revolusi: Indonesia dan Kelahiran Dunia Modern karya penulis asal Belgia, David Van Reybrouck.

Zainal mengatakan buku edisi bahasa Inggris itu merupakan hadiah dari koleganya, Anies Baswedan, beberapa bulan lalu. Ia juga telah membaca versi bahasa Indonesianya.

Sejarah bukan hanya milik elite

Zainal menilai kekuatan utama buku ini ada pada cara penulisannya, yang disusun dari wawancara langsung dengan orang-orang yang mengalami peristiwa tersebut. Buku itu, katanya, tidak berhenti pada tokoh-tokoh besar.

“Kemerdekaan Indonesia bukan hanya urusan kaum elite. Ada orang-orang yang berjuang, orang-orang yang kehilangan keluarga, dan orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Ada orang-orang yang terjebak di antara berbagai angkatan bersenjata,” ujar Zainal.

Menurut dia, buku tersebut tidak hanya membahas pidato Soekarno, diplomasi, atau dokumen-dokumen penting, tetapi juga bagaimana rakyat biasa memandang kondisi dan para elite pada masa itu.

Ia menegaskan bahwa buku ini bukan panduan teknis melakukan revolusi. “Jadi, jangan bayangkan ini tentang teknik melaksanakan revolusi dan sebagainya, bukan. Buku ini bercerita tentang sejarah Indonesia, khususnya revolusi yang terjadi pada 1945,” kata Zainal.

Indonesia dalam peta sejarah dunia

Zainal menyebut Reybrouck menempatkan sejarah Indonesia sebagai bagian dari sejarah dunia, bukan sekadar kisah perjuangan satu bangsa. Proklamasi 1945, kata dia, terjadi di tengah perubahan global yang luar biasa: berakhirnya Perang Dunia II, menyerahnya Jepang, serta pengeboman Hiroshima dan Nagasaki.

Namun ia menekankan bahwa Indonesia bukan hanya penerima dampak perubahan global. “Indonesia bukan hanya penerima dari perubahan global itu, tetapi perjuangan Indonesia juga ikut mendorong perubahan dunia,” ujarnya.

Sebagai contoh, Zainal menyebut sikap Soekarno dalam menghimpun semangat perlawanan negara-negara Asia-Afrika. Semangat itu kemudian bermuara pada Konferensi Asia-Afrika 1955, yang menurutnya memberi kontribusi besar bagi perubahan peta dunia.

Paradoks pendudukan Jepang

Salah satu hal yang paling menarik bagi Zainal adalah penggambaran pendudukan Jepang yang paradoksal. Ketika Jepang menggantikan Belanda, sebagian orang menganggapnya “Cahaya Asia” yang akan membantu Indonesia keluar dari persoalan kolonial. Pada saat yang sama, masyarakat juga melihat Jepang sebagai bagian dari penjajahan itu sendiri.

Menurut Zainal, Jepang memberi kontribusi, kecil atau besar, bagi kemerdekaan Indonesia, antara lain lewat pembentukan PPKI, peran dalam BPUPKI, dan pengangkatan nama-nama tertentu seperti Soekarno. Ia menyebut Soekarno tiba-tiba menjadi “selebritas politik” pada masa Jepang, berbeda dengan sikap Belanda yang cenderung menekannya.

Meski begitu, ia mencatat bahwa peran Jepang itu sekaligus diperdebatkan. “Pada saat yang sama, banyak juga yang mengkritik seberapa besar sebenarnya kontribusi Jepang bagi kemerdekaan Indonesia,” katanya.

Menurut Zainal, perubahan tersebut juga dipengaruhi sikap Jepang terhadap sejumlah elite Indonesia, sehingga pola perjuangan Indonesia berbeda dibandingkan dengan konteks di Belanda.

Kemerdekaan bukan akhir

Zainal menilai buku ini mengoreksi pandangan yang terlalu sederhana tentang kemerdekaan. Revolusi Indonesia, katanya, bukan romantisme yang memisahkan secara hitam-putih, melainkan proses yang kompleks.

“Revolusi yang terjadi di Indonesia bukan sekadar bravado atau romantisme seolah-olah hitam melawan putih. Ini proses yang kompleks. Ada masalah politik besar, ada pengalaman personal, ada aktor-aktor besar, dan ada kepentingan global,” tutur Zainal.

Ia juga menolak anggapan bahwa kemerdekaan berarti selesainya kolonialisme. “Itu tidak berarti karena Indonesia merdeka, proses kolonialisme berakhir. Tidak. Justru sebaliknya, perjuangan Indonesia dalam konteks global, dalam konteks modern, membangun dekolonisasi tidak otomatis menyelesaikan semua masalah. Karena banyak masalah sebenarnya lahir setelah kemerdekaan,” ucapnya.

Menurut Zainal, persoalan pascakemerdekaan itu mencakup bagaimana Indonesia menyelesaikan masalah internal sekaligus urusan yang berkaitan dengan dunia global.

Kritik terhadap sejarah elitis

Zainal menyebut ada dua alasan utama mengapa buku ini layak dibaca. Pertama, buku ini menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan hal sederhana. Kedua, buku ini mengandung kritik bahwa sejarah tidak boleh hanya dimiliki kalangan elite.

“Sejarah bukan hanya milik elite. Ada peran-peran kecil yang mungkin terpinggirkan, tetapi mereka juga punya peran dalam proses kemerdekaan,” kata Zainal.

Ia mengaitkan pendekatan itu dengan karyanya sendiri bersama Muhyiddin M. Dahlan, Kronik Otoritarianisme, yang menempatkan sejarah dalam konteks lebih luas dengan melihat perjalanan bangsa lewat kronik surat kabar tentang otoritarianisme.

Rekomendasi membaca

Di akhir ulasan, Zainal menyatakan dirinya sangat menyukai sejarah dan buku tersebut. Menurutnya, Reybrouck menulis dengan cara yang luar biasa sehingga buku itu menarik dan layak dibaca banyak orang. Ia sengaja tidak membeberkan seluruh isi buku agar publik membacanya sendiri.

Zainal juga menyebut buku itu memuat komentar singkat sejarawan Yuval Noah Harari di sampul belakang.

Ulasan buku ini ia sampaikan dalam kanal @uchange, yang menurutnya didedikasikan untuk perubahan lewat membaca lebih banyak buku, merenungkan wacana, dan memikirkan hal-hal menarik yang dapat menjadi ide serta perbaikan baru.

Exit mobile version