#ImamShamsiAli Arsip - Parade.id https://parade.id/tag/imamshamsiali/ Bersama Kita Satu Mon, 07 Jun 2021 13:56:26 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.1.2 https://parade.id/wp-content/uploads/2020/06/cropped-icon_parade-32x32.jpeg #ImamShamsiAli Arsip - Parade.id https://parade.id/tag/imamshamsiali/ 32 32 Ketauladanan Ibrahim AS (2-Habis) https://parade.id/ketauladanan-ibrahim-as-2-habis/ Wed, 05 Aug 2020 02:16:13 +0000 https://parade.id/?p=5317 Jakarta (PARADE.ID)- Begitu luas makna ketauladanan Ibrahim AS dalam kehidupan kita, baik secara individu maupun kolektif. Ibrahim memang menjadi sosok yang ditauladani bahkan diakui oleh tiga kelompok agama. Yahudi mengakuinya sebagai Yahudi. Kristen sebagai Kristen. Lalu Al-Quran kemudian datang menolak pengakuan itu.  Firman Allah: “Ibrahim bukanlah Yahudi  dan tidak pula Kristen. Tapi dia adalah seorang Muslim […]

Artikel Ketauladanan Ibrahim AS (2-Habis) pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Begitu luas makna ketauladanan Ibrahim AS dalam kehidupan kita, baik secara individu maupun kolektif. Ibrahim memang menjadi sosok yang ditauladani bahkan diakui oleh tiga kelompok agama. Yahudi mengakuinya sebagai Yahudi. Kristen sebagai Kristen. Lalu Al-Quran kemudian datang menolak pengakuan itu. 

Firman Allah: “Ibrahim bukanlah Yahudi  dan tidak pula Kristen. Tapi dia adalah seorang Muslim yang hanif. Dan dia juga bukan seorang yang musyrik”. 

Penolakan asosiasi Ibrahim AS dengan Yahudi dan Nasrani ini, apalagi dengan musyrik, karena dalam pandangan Islam relasi kita dengan Beliau, dan semua rasul dan nabi termasuk Muhammad SAW, bukan relasi ras, etnis atau hubungan darah. Tapi hubungan hati, akidah dan iman.

Ibrahim AS dan Generasi Masa Depan 

Berhubung karena masih dalam suasana hari raya kurban, saya ingin membahas secara singkat dan sederhana satu aspek ketauladanan Ibrahim AS yang saya yakin sangat mendesak untuk kita tauladani. Yaitu ketauladanan Beliau dalam menyiapkan generasi masa depan yang tangguh. 

Mungkin tidak salah saya katakan bahwa Beliaulah yang meletakkan dasar bagi terutusnya penutup para rasul dan nabi, Muhammad SAW. Sekaligus Beliaulah yang meletakkan fondasi bagi kebangkitan “Khaer Ummah” yang menjadi representasi para nabi dan rasul dalam mengemban amanah risalah samawi ini.

Dalam proses membentuk generasi masa depan, ada tujuh hal yang perlu kita tauladani dari Ibrahim AS. 

Pertama, bahwa Ibrahim AS membangun kesadaran penuh tentang tanggung jawab dakwah. Bahwa dakwah adalah tanggung jawab keumatan hingga akhir hidup dunia. Dan karenanya untuk kesinambungannya diperlukan  regenerasi dari orang tua ke anak ke cucu dan seterusnya. 

Sadar tanggung jawab inilah yang menjadikan Ibrahim resah dan gelisah ketika itu karena umur Beliau yang semakin rentah tapi juga tak kunjung dikaruniai anak oleh Allah SWT. Kegelisahan ini menyebabkan isterinya Sarah terpanggil mendorong Ibrahim untuk menikahi Hajar AS menjadi isteri keduanya. 

Dan dari isteri kedua inilah terlahir anak pertama, seorang anak yang lama ditunggu kehadirannya oleh sang ayah. Sang anak yang pastinya menjadi idaman hati dan sekaligus pelipur kegelisahan akan terputusnya misi kerisalahan yang menjadi misi utama kehidupan Ibrahim AS. 

Pelajaran terpenting dari sisi ketauladanan ini adalah urgensi membangun kesadaran bahwa masa depan generasi ini akan menentukan wajah masa depan umat. 

Masalahnya adalah sadarkah kita? Khususnya komunitas muslim di dunia Barat, termasuk Amerika, apakah kesadaran tentang masa depan generasi menjadi prioritàs? Atau sebaliknya Komunitas Muslim di negara ini hanyut dalam buaian impian Amerika (American Dreams) yang tak kunjung tiba? 

Mari kembali bangun kesadaran itu. Ingat keselamatan kita akan juga ditentukan oleh sadar atau tidaknya kita dalam upaya menyelamatkan generasi kita. Kelalaian kita dalam melakukan yang terbaik bagi penyelamatan generasi sesungguhnya juga kelalaian untuk menyelamatkan diri sendiri. 

Kedua, bahwa Ibrahim AS dalam upaya membangun generasi dilakukan “dengan” dan “untuk” Allah SWT. Beliau meyakini bahwa anak dan generasinya adalah karunia Allah dan untuk tujuan pengabdian kepadaNya. 

Di sinilah Ibrahim kemudian menyadari bahwa anaknya bukan untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk gagah-gagahan. Tapi memang karunia Allah untuk tujuan yang lebih mulia. Yaitu pengabdian dan li izzatil Islam. 

Itulah yang menjadikan Ibrahim begitu mudah dan siap menerima perintah Allah untuk membawa anak dan isterinya ke sebuah lembah yang tiada tumbuh-tumbuhan (biwaadin ghaeri zar’in). Sebuah perintah yang kira-kira dalam pandangan manusia satu bentuk suicidal (bunuh diri). 

Bagaimana tidak. Makkah ketika itu hanya gunung bebatuan dan padang pasir yang tandus dan kering. Kata “tiada tumbuh-tumbuhan” mengindikasikan bahwa tempat itu tidak ada sumber kehidupan. Karena air menjadi kebutuhan utama para makhluk hidup. 

Setelah perintah dilaksanakan, beberapa tahun kemudian Allah kembali menguji Ibrahim dengan perintah menyembelih anaknya. Ibrahim tanpa ragu sedikitpun melakukan itu. Walau kemudian sang anak digantikan dengan seekor domba atau kambing. 

Pelajaran penting bagi kita dari kisah ini adalah bahwa upaya kita dalam menyiapkan generasi masa depan mutlak dilakukan dalam ikatan Keilahian. Proses penyiapan generasi harus selalu dalam ikatan nilai-nilai Rabbani. Karena memang Allah menjadi pusat segala proses kehidupan kita tanpa kecuali, termasuk dalam pendidikan anak kita. 

Ini berarti bahwa dalam pendidikan anak agama harus menjadi dasar pijakan. Anda mungkin mengirim anak ke sekolah atau universitas paling bergensi. Tapi ketika anak terputus dari agama (Tuhan) maka anda telah menjatuhkan anak itu ke dalam lembah kegagalan totalitas. 

Ketiga, bahwa Ibrahim dalam mendidik anaknya mengambil metode pendewasaan. Artinya anak itu diajarkan untuk dewasa dalam menyikapi segala hal dalam hidup, bahkan yang paling pelik dan krusial sekalipun.

Ketika Allah memerintahkan Ibrahim untuk memotong anaknya, Ibrahim sangat yakin akan perintah itu. Namun demikian Ibrahim juga tidak secara serta merta melakukan perintah itu. Justru Beliau menyampaikan kepada anaknya, bahkan meminta opini anaknya. 

Meminta opini? Opini anak mengenai perintah Allah? 

Bagi sebagian tentu hal ini nampak kurang sesuai. Bagaimana mungkin sebuah perintah yang diyakini kewajibannya tapi masih meminta pertimbangan orang lain? Apalagi dari seorang anak yang baru menginjak dewasa. 

Tapi itulah Ibrahim AS. Beliau bukan seorang diktator kecil dalam rumah tangganya. Justru Beliau menyampaikan dan meminta pendapat anaknya agar sang anak dewasa dalam menyikapi perintah itu, serta ikhlas menerima perintah Allah. Bukan hanya karena Ayahnya. Apalagi karena paksaan. 

Pesan penting dari ketauladanan ini adalah hendaknya orang tua belajar membangun komunikasi dan melakukan pendekatan persuasi kepada anak dan generasi muda. Dengan demikian anak dan generasi muda kita akan membangun kedewasaan tanpa merasa terputus dan terpaksa oleh orang tuanya. 

Sayangnya memang ada gap komunikasi yang terjadi antara orang tua dan anaknya. Terkadang karena memang masalah bahasa, termasuk bahasa kultur. Juga karena lambangnya orang tua beradaptasi untuk merespon perkembangan anak-anak dengan dunianya yang serba baru. 

Tentu juga masuk dalam hal ini pentingnya para guru, ustadz, Maulana, kyai, Imam dan syeikh untuk menguasai bahasa generasi muda kita. Jika tidak maka efektifitas kemanfaatannya di tengah Komunitas Muslim di Amerika sangat terbatas.

Keempat, bahwa Ibrahim AS memastikan keselamatan iman dan Islam generasinya. Ada sense atau rasa tanggung jawab besar untuk meyakinkan diri sebagai orang tua jika anak dan generasinya tetap berada di jalan iman dan Islam. 

Disebutkan dalam Al-Quran bahwa di akhir-akhir hayatnya Ibrahim memanggil anaknya untuk menekankan sekaligus meyakinkan agar anak dan generasinya melanjutkan risalah Islam ini. Dan hendaknya mereka tidak mati kecuali dalam keadaan Islam. 

“Dan ingat ketika Ibrahim dan Ya’qub memberikan wasiat kepada anaknya. Wahai anakku sesungguhnya Allah telah memilih agama bagimu. Maka janganlah mati kecuali dalam keadaan Islam”. 

Kata wasiat ini sebuah penekanan urgensi meyakinkan akan iman dan Islam anak dan generasi kita. Wasiat itu adalah kewajiban yang tidak boleh terlalaikan, apalagi sengaja tidak dilakukan. 

Pelajaran penting dari kisah ini adalah bahwa setiap orang tua wajib meyakinkan diri dan anaknya untuk menjadikan Islam ini sebagai jalan hidupnya. Bahkan wajib mengingatkan kepada anak keturunannya untuk menjaga agama hingga pernafasan terakhir (last breath) dalam hidupnya. 

Tapi sangat disayangkan mayoritas di antara kita justeru yang cenderung diwasiatkan adalah bagaimana agar dunia anak-anak kita tetap maju dan sukses. Sekolah dan karirnya menjadi perhatian utama. Sementara agama tidak lagi penting karena dunia telah memenuhi ruang-ruang hidup kita.

Kelima, bahwa Ibrahim AS memiliki visi yang jauh ke depan tentang generasi. Beliau tidak sekedar menyadari tentang urgensi generasi dalam setahun bahkan sepuluh tahun. Tapi generasi ke generasi selanjutnya menjadi bagian dari perhatian Beliau yang mendasar. 

Kita masih ingat ketika Beliau selesai meninggikan fondasi Kakbah. Tentu kalau berbicara tentang Kakbah seharusnya yang terbetik di pikiran adalah sholat, thawaf, haji atau umrah. 

Tapi yang menarik justeru doa nabi Ibrahim bersama anaknya Ismail setelah meninggikan fondasi Kakbah adalah “Wahai Tuhan kami, jadikan kami berdua dua hambaMu yang berserah diri (Muslimatan laka)” 

Permohonan itu kemudian disambung: “Dan dari anak-anak keturunan kami juga menjadi umat yang berserah diri  kepadaMu (ummatan Muslimatan laka).”

Setelah itu Ibrahim kemudian secara khusus mendoakan penduduk Makkah, yang saat itu hanya isteri (Hajar) dan anaknya (Ismail). Tapi visi yang jauh ke depan itulah yang menjadikan Ibrahim terdorong untuk mendoakan agar Allah mengirim seorang Rasul kepada mereka. 

Seperti dalam ayat-Nya: “Wahai Tuhan kami, kirimkan kepada mereka seorang Rasul yang membacakan ayat-ayatMu, mensucikan mereka, dan mengajarkan keadaan mereka Kitab dan Hikmah”. 

Doa inilah yang dikabulkan dengan  terutusnya rasul dan nabi terakhir, baginda Rasulullah SAW. 

Pelajaran terpenting dari peristiwa di atas adalah bahwa Muslim itu dalam melihat generasi selalu menatap jauh ke depan. Bahwa generasi yang kita persiapkan adalah generasi yang melanjutkan hidup dan perjuangan, tidak saja dalam rentang waktu puluhan bahkan ratusan tahun. Tapi generasi demi generasi harapannya tetap terbangun kokoh di atas iman dan Islam itu. 

Keeanam, bahwa dalam membangun generasi Ibrahim memberikan kepercayaan besar kepada isterinya Hajar untuk membesarkan dan mendidik anaknya Ismail AS. 

Hajar yang ditinggal pergi suaminya di Makkah bersama anaknya, beliaulah yang kemudian berjuang untuk menghidupi sekaligus membesarkan dan mendidik anaknya Ismail. Dan ternyata kepercayaan Ibrahim itu kepada isterinya menghasilkan  seorang anak yang luar biasa. 

Tadi disebutkan bagaimana Ismail dengan segala Ikhlas dan berserah diri menyambut perintah Allah kepada Ayahnya untuk menyembelih dirinya. Padaha ketika itu Beliau hanyalah seorang remaja yang baru menginjak umur balig. Tapi dengan tegas mengatakan kepada Ayahnya:

“Wahai ayahku, lakukan yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang bersabar”. 

Pelajaran terpenting dari kisah ini bahwa tanggung jawab pendidikan anak itu adalah tanggung jawab bersama (shared responsibility). Tapi perlu kita ingatkan para Ibu akan tugas utama dan termulia dalam hidupnya. Yaitu meyakinkan dari sedini mungkin  bahwa anak dan generasi mendapatkan perhatian dan didikan yang sesuai dan memadai. 

Tentu pelajaran penting lainnya adalah bahwa hanya dengan orang tua yang bertanggung jawab akan terlahir anak dan generasi yang juga bertanggung jawab. Di saat anak-anak dan generasi kita tidak lagi bertanggung jawab, maka boleh jadi karena para orang tua tidak lagi melakukan tanggung jawabnya secara baik dan maksimal. 

Ketujuh, bahwa Ibrahim AS yakin seyakin yakinnya bahwa Pendidik (Murabbi) sejati itu adalah Allah SWT. Dialah sang Pencipta yang mendidik semua makhlukNya, terutama makhlukNya yang termulia, manusia. 

Karenanya Ibrahim AS secara khusus mendoakan agar Allah menjadikan keluarganya, anak isterinya, menjadi “qurrata a’yunin” (hiasan mata). Keluarga dan anak keturunan yang ketika dipandang hati menjadi sejuk dan damai. 

Bahkan Ibrahim mendoakan agar Allah menjadikan mereka Pemimpin orang-orang yang bertakwa. Pemimpin orang bertakwa diartikan sebagai tauladan dalam ketakwaan. Menjadi keluarga dan generasi yang terbaik dalam ketakwaan. 

Doa itulah yang kita semua selalu ulang-ulangi: “Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a’yunin waj’alna lilmuttaqiina imaama”. 

Karenanya mari kita doakan anak-anak dan generasi kita agar Allah jaga di atas jalan kebenaran (shiratul mustaqim). Bukan anak dan generasi yang justru melihat agama sebagai kungkungan dan beban kehidupan. 

Doakan di setiap akhir salat-salat kita, di setiap tahajjud, bahkan setiap saat kapan dan di mana saja. Sungguh doa orang tua itu adalah senjata ampuh bagi anak-anaknya. Semoga!

New York, 4 Agustus 2020 

*Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali

Artikel Ketauladanan Ibrahim AS (2-Habis) pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Ketauladanan Ibrahim AS https://parade.id/ketauladanan-ibrahim-as/ Sat, 01 Aug 2020 03:39:01 +0000 https://parade.id/?p=5121 Jakarta (PARADE.ID)- Hari (ini), Jumat 10 Dzukhijjah 1441 H (31 Juli 2020) merupakan hari penting sekaligus hari kegembiraan (perayaan) bagi seluruh Umat Islam sedunia. Hanya saja kali ini ekspresi kegembiraan itu sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini karena seluruh dunia masih berada dalam suasan musibah Covid 19 atau virus Corona. Selain pelaksanaan ibadah haji […]

Artikel Ketauladanan Ibrahim AS pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Hari (ini), Jumat 10 Dzukhijjah 1441 H (31 Juli 2020) merupakan hari penting sekaligus hari kegembiraan (perayaan) bagi seluruh Umat Islam sedunia. Hanya saja kali ini ekspresi kegembiraan itu sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini karena seluruh dunia masih berada dalam suasan musibah Covid 19 atau virus Corona.

Selain pelaksanaan ibadah haji yang dibatasi hanya oleh segelintir jamaah yang memang bermukim atau warga negara Saudi sendiri. Juga pelaksanaan Idul Adha di semua negara juga dengan keadaan yang sangat terbatas.

Jamaica Muslim Center NY misalnya, yang biasanya merayakan Idul Fitri di lapangan dengan puluhan ribu jamaah, kali ini hanya melakukannya di masjid dengan lima kali jamaah. Itupun dengan mengikuti aturan protokol distancing dan praktek keselamatan lainnya, termasuk memakai masker, menghundari sentuhan (salaman), dan seterusnya.

Tapi semua itu tidak mengurangi nilai ubudiyah (penghambaan) kita kepada Allah SWT. Karena apapun keadaannya seorang Mukmin tetap yakin, Tuhan dan interaksi antara hamba dan Tuhannya tidak mengalami perubahan dengan perubahan keadaan.

Menauladani Ibrahim AS

Baik pada ibadah haji maupun Idul Adha, sosok Ibrahim AS memang menjadi figur sentra. Hampir semua amalan yang ada pada dua bentuk ritual Islam itu terkait dengan sejarah hidup nabi Ibrahim AS.

Dan Karenanya saya kira sangat pas jika di saat saperti ini kita ingatkan diri kita kembali tentang apa saja yang harusnya ditauladani dari kehidupan Ibrahim AS. Apalagi memang secara khusus Al-Quran memerintahkan Umat ini untuk menauladani Ibrahim AS.

Allah berfirman: “Dan ikutlah (wahai Muhammad) kepada millah Ibrahim”.

Di ayat lain disebutkan: “Dan ikutlah kalian (wahai orang-orang beriman) kepada millah Ibrahim”.

Saya melihat minimal ada 7 bentuk bentuk ketauldanan yang penting bagi Umat ini untuk direnungkan, didalami, Dan diikuti.

Pertama, ketauladanan dalam proses pencarian dan pematangan iman.

Proses yang dilalui Ibrahim dalam menemukan keimanan bukan proses biasa (unconventional). Tapi proses pencarian panjang yang melibatkan pertarungan intelektualitas dan logika. Cerita itu menggambarkan bagaimana Ibrahim AS berjuang menemukan kebenaran Tuhannya.

Ketika di suatu malam beliau melihat bintang-bintang yang indah bertaburan di langit, beliau menyangka mereka itu adalah tuhan. Tapi ketika bulan terbit, Ibrahim mengira bulan itu adalah Tuhan. Di keesokan harinya Ibrahim kemudian melihat dan merasakan sinar matahari. Diapun menyangka matahari itulah tuhan karena lebih bersinar dan terasa.

Akan tetap pada akhirnya ternyata sang mentari juga hilang (terbenam) di sore hari. Ibrahimpun sampai kepada kesimpulan yang pasti bahwa Tuhan yang sesungguhnya adalah yang mencipta semua itu.

Itulah yang diikrarkan: Sesungguhnya saya menghadapkan wajahku kepada Yang menciptakan langit dan bumi, haniif dalam berislam, dan saya tidak termasuk orang-orang yang musyrik”.

Ibrahim AS Pada prinsipnya memang membangun pemikiran kritis, bahkan dalam hal-hal yang prinsip sekalipun. Hal itu terlihat misalnya ketika beliau mempertanyakan kebangkitan hari akhirat.

Ibrahim AS tanpa ragu mempertanyakan kepada Allah SWT: “Bagaimana Engkau menghidupkan orang yang telah mati?

Barangkali bagi sebagian Mukmin mempertanyakan hal seperti ini dikategorikan sebagai kelemahan, bahkan keraguan kepada agama. Tapi bagi Ibrahim justeru sebaliknya. Pertanyaan itu adalah bagian dari proses konfirmasi dan afirmasi iman.

Menyikapi pertanyaan Ibrahim itu Allah SWT menanyakan kepada Ibrahim: “tidak kamu beriman wahai Ibrahim?”.

Jawaban Ibrahim tegas: “Benar, (ya Allah saya beriman). Tapi saya ingin hatiku tenang”.

Proses logika dalam mencari kebenaran dalama agama Islam ternyata sangat didorong (encouraged). Bukankah Al-Quran sendiri menegaskan: “Maka tanyalah orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui”.

Intinya agama, bahkan aspek keimanan sekalipun, tidak diterima secara buta (blindly). Tapi melalui proses pencarian panjang yang seringkali melibatkan rasionalitas dan logika.

Itulah salah satu makna penting kenapa justeru ayat-ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah perintah untuk “membaca” (iqra’). Bagi saya membaca adalah proses berlanjut (sustainable process) dalam menemukan kebenaran sejati.

Al-Quran sendiri menampakkan diri sebagai Kitab Suci yang menjunjung tinggi logika dan rasionalitas. Kata kedua yang paling sering terulang dalam Al-Quran adalah kata-kata yang berkaitan dengan “akal” manusia.

”Tidkakah kamu berakal?”
“Tidakkah kamu berfikir?”
“Tidakkah kamu melakukan bertadabbur?”
Dan banyak lagi ayat-ayat yang mendorong fungsi akal manusia dalam menyikapi kehidupannya.

Bahkan secara khusus Allah menegaskan bahwa Al-Quran itu adalah Kitab yang diturunkan untuk dipahami secara akal (liqaumin ya’qiluun).

Sebaliknya orang-orang yang tidak ingin memahami Al-Quran justeru dituduh sebagai orang-orang yang hatinya terkunci (alaa quluubihim ghulf).

Proses penemuan kebenaran dengan rasionalitas dan logika, apalagi dalam dunia yang mengedepankan logika saat ini, akan menghasilkan keimanan yang solid. Keimanan yang tidak goyah dan mudah terbawa arus.

Mungkin bagi kami di dunia Barat hal itu dibuktikan oleh kenyataan bahwa seringkali mereka yang menemukan Islam setelah melalui proses pencarian panjang, termasuk dengan logika, berakhir dengan keyakinan yang solid (al-yaqiin ar-raasikh).

Karenanya masanya pada Ulama, ustadz, kyai dan para pendakwah agama ini untuk menyadari bahwa penyampaian agama dengan dogma-dogma yang kerap terasa dipaksakan, believe or otherwise (imani atau…), dengan ancaman-ancaman dan semacamnya, hanya akan berdampak negatif di pemikiran orang-orang, khususnya millennials yang cenderung mengedepankan rasionalitas dalam menyikapi segala hal.

Sungguh ironis dengan kenyataan bahwa paham ateisme justeru tumbuh besar di negara-negara Muslim yang dianggap konservatif seperti Suadi Arabia. Dan saya yakin, sebagaimana Kristiani di dunia Barat, hal ini sebabkan oleh penyampaian agama yang kerap tidak logis dan rasional. Walaupun kenyataannya bahwa Islam adalah agama yang sangat rasional.

Tapi sebagaimana Karen Armstrong pernah sampaikan: “Tidak ada agama atau kepercayaan yang serasional agama Islam. Sayangnya seringkali justeru orang-orang Islam yang tidak rasional dalam beragama”.

Mari kita tauladani Ibrahim AS dalam berproses memahami dan meyakini agamanya. (Bersambung)

New York, 10 Dzulhijjah 1441 H

*Presiden Nusantara Foundation, Imam Shamsi Ali

 

 

Artikel Ketauladanan Ibrahim AS pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>