#Khotbah Arsip - Parade.id https://parade.id/tag/khotbah/ Bersama Kita Satu Fri, 29 Jul 2022 01:40:04 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.9.1 https://parade.id/wp-content/uploads/2020/06/cropped-icon_parade-32x32.jpeg #Khotbah Arsip - Parade.id https://parade.id/tag/khotbah/ 32 32 Khotbah Jumat UBN: Dua Potensi Manusia https://parade.id/khotbah-jumat-ubn-dua-potensi-manusia/ Fri, 29 Jul 2022 01:40:04 +0000 https://parade.id/?p=20776 Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) Bismillahirrahmanirrahiim Surat Asy-Syams ayat 7-10: وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya, merugilah orang yang mengotorinya.” Jiwa manusia yang […]

Artikel Khotbah Jumat UBN: Dua Potensi Manusia pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir (UBN)

Bismillahirrahmanirrahiim
Surat Asy-Syams ayat 7-10:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا
فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya, merugilah orang yang mengotorinya.”

Jiwa manusia yang diciptakan Allah Ta’ala dengan sempurna, sejatinya memiliki dua potensi. Potensi untuk fujur (jahat atau maskiat) dan potensi untuk takwa. Karena itu, beruntunglah orang-orang yang menyucikan jiwanya untuk ketakwaan dan merugilah orang-orang yang mengotorinya dengan maksiat.

Sebagai seorang muslim, Allah Subhanahu wa Ta’ala menguji kita dengan dua potensi ini sekaligus mengingatkan kita untuk berhati-hati. Jangan sampai kita gagal memilah; dengan potensi yang mana kita akan menjalani kehidupan. Jangan sampai kita lengah dari ancaman kemaksiatan dan jangan pula lalai untuk selalu kontinu menyucikan diri dari belenggu kemaksiatan.

Ingatlah bahwa kita bisa tersesat menjadi jahat karena kita sendiri yang mengotori diri. Juga, kita dapat menjadi manusia yang takwa karena giat dan taat beribadah menyucikan jiwa.

Untuk menjadi orang yang dapat senantiasa membersihkan jiwa dan menjaga takwa inilah, Allah Subhanahu wa Taala memberikan modal akal kepada manusia. Akal dapat membuat manusia menemukan kebenaran, sekaligus bebas menentukan dengan cara apa ia berkarya terbaik untuk kemaslahatan dunia.

Namun, di titik kebebasan inilah, kadang manusia lengah pada aturan yang telah ditetapkan oleh Allah Taala. Kebebasan berpikir dan berkehendak ini membuat manusia lebih tinggi derajatnya dibandingkan mahluk lain. Namun, juga seringkali membuat manusia “menabrak” batasan Penciptanya.

Jika saja dengan kebebasan berakal ini, manusia menyucikan diri dan memurnikan hawa nafsunya pada kehendak Ilaahi, maka dia bisa lebih mulia dari para malaikat. Namun, bila ia menggunakan kebebasan untuk memilih memperturutkan nafsu maksiat, maka pada saat yang sama, manusia bisa lebih hina daripada hewan ternak seperti kerbau yang dicucuk hidungnya.

Status hina ini karena manusia justru menggunakan akal dan kebebasannya untuk mengotori jiwa dan melanggar aturan yang telah Allah Al-Hakam tetapkan. Untuk itu, hanya ada dua pilihan bagi kita; akankah mengambil jalan tazkiyah atau kita mengambil jalan tadsiyah (mengotori jiwa).

Tazkiyatun nafs adalah bekal utama untuk menjadi orang yang bahagia. Orang yang mulia. Orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Takwa merupakan sebaik-baik bekal. Berbekallah dengan takwa karena sebaik-baik bekal adalah takwa.

Takwa merupakan hasil dari proses tazkiyatun nafs. Juga merupakan modal utama untuk kekuatan dan kualitas terbaik diri kita. Terutama dalam rangka membangun indeks manusia Indonesia dari sisi kualitas. Salah satunya dengan membaca dan mengamalkan ayat-ayat Alquran. Di antara maksud diturunkannya Alquran adalah untuk tazkiyatun nafs.

Maka, sebagai seorang muslim dan mukmin; bila Anda ingin menambah kualitas diri, maka kuncinya adalah ber-tazkiyatun nafs berdasarkan perspektif Alquran.

Sedangkan, bila ada seorang muslim yang membaca Alquran, tetapi tidak mampu membersihkan jiwanya dan tidak dapat mewujud menjadi manusia berkualitas, maka dipastikan ada yang bermasalah dengan proses interaksinya dengan Alquran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pada surat Al A’la ayat 14:
قَدۡ اَفۡلَحَ مَنۡ تَزَكّٰ
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman).”

Kemudian surat Thaha ayat 75-76:
وَمَنْ يَّأْتِهٖ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصّٰلِحٰتِ فَاُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الدَّرَجٰتُ الْعُلٰى ۙ
جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗوَذٰلِكَ جَزَاۤءُ مَنْ تَزَكّٰى
“Dan barang siapa datang kepada-Nya dalam keadaan beriman, dan telah mengerjakan kebajikan, maka mereka itulah orang yang memperoleh derajat yang tinggi (mulia).

(Yaitu) surga-surga ‘Adn, yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah balasan bagi orang yang menyucikan diri.”

Adapun langkah-langkah yang diperlukan dalam proses penyucian jiwa yang pertama dan utama adalah ikhlas. Keikhlasan di dalam hati kita. Ikhlas di sini bukan berarti rela. Ikhlas adalah memurnikan penghambaan kepada Allah. Tidak bercampur antara tauhid dengan kemusyrikan.

Kedua adalah keseimbangan. Keseimbangan kita dalam menjalani hidup. Keseimbangan seperti yang kita minta pada doa sapu jagat, “Rabbanaa, aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar.”

Keseimbangan di sini juga bukan berarti 50-50. Namun, seimbang anatara kehidupan dunia yang baik (fid dunyaa hasanah) dan di akhirat nanti selamat hingga mencapai surga (wa fil aakhirat ihasanah) serta terlindungi dari siksa apa neraka.

Ketiga, berkesinambungan dan konsisten dalam beramal shalih.*

Artikel Khotbah Jumat UBN: Dua Potensi Manusia pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Khotbah Jumat UBN: Wajah Calon Penghuni Surga https://parade.id/khotbah-jumat-ubn-wajah-calon-penghuni-surga/ Fri, 22 Jul 2022 02:52:54 +0000 https://parade.id/?p=20668 Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) Bismillahirrahmanirrahiim Surat al-Ghasyiyyah ayat 8-10 وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌ لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ “Banyak muka pada hari itu berseri-seri. Merasa senang karena usahanya. Dalam surga yang tinggi.” Setiap perbuatan atau usaha kita di dunia pasti akan diperlihatkan balasannya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di akhirat kelak. Di hari itu, ada […]

Artikel Khotbah Jumat UBN: Wajah Calon Penghuni Surga pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir (UBN)

Bismillahirrahmanirrahiim
Surat al-Ghasyiyyah ayat 8-10
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌ
لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ
فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ

“Banyak muka pada hari itu berseri-seri. Merasa senang karena usahanya. Dalam surga yang tinggi.”

Setiap perbuatan atau usaha kita di dunia pasti akan diperlihatkan balasannya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di akhirat kelak.

Di hari itu, ada yang terlihat “wujuhuy yauma idzin khoosyiah” (wajah yang tertunduk, terhina) dan ada pula yang “wujuhuy yauma idzin naa’imah” (wajah yang berseri-seri). Ada yang tertunduk dan ada yang berseri-seri karena bahagia .

Tentu sangat beruntung orang-orang yang wajahnya berseri, lantaran amalan dan ikhtiarnya menggapai ridha Allah di dunia, diterima Allah Subhanahu wa ta’ala. Inilah wajah calon penghuni surga.

Lalu apa syaratnya agar wajah kita berseri-seri saat bertemu dengan Allah Subhanahu wa ta’ala di akhirat? Ada empat hal yang mesti kita upayakan selama hidup di dunia.

Pertama, iman. Di kehidupannya dunia, pada wajah orang yang shalih terpancar cahaya yang mengisyaratkannya sebagai calon penghuni surga. Pancaran itu sejatinya berasal dari iman yang mendasari setiap amal shalih yang dilakukannya.

Iman sendiri dibuktikan dengan lisan dan perbuatan. Menyatakan iman dengan lisan untuk orang-orang yang tidak terlahir sebagai muslim itu, sungguh membutuhkan pengorbanan. Inilah pembuktian untuk iman yang dideklarasikan dengan lisan.

Setelah dengan lisan, iman itu juga harus dibuktikan dengan perbuatan. Contohnya shalat. Dalam shalat, terdapat dua rukun, yaitu rukun fi’liyah yang berarti perbuatan dan rukun qauliyah yaitu perkataan. Dua-duanya wajib dikerjakan.

Kedua, ikhlas. Setelah iman dengan lisan dan perbuatan; landasan amal shalih yang selanjutnya adalah keikhlasan. Ikhlas, sejatinya adalah melakukan segala sesuatu hanya untuk Allah Swt semata. Pada praktiknya, orang yang ikhlas seringkali menyembunyikan amal shalihnya. Ini karena ia tidak ingin keikhlasannya terkontaminasi dengan keinginan untuk diapresiasi orang lain.

Namun demikian, ikhlas saja tidak cukup. Hal ini disebabkan, banyaknya di antara kita yang ketika beribadah hanya mengikuti perasaan, tetapi minim ilmu. Sehingga, tidak sesuai dengan tuntunan sunah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Mengikuti tuntunan sunah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam inilah yang menjadi syarat ketiga. Dengan demikian, melakukan sebuah amal shalih pada awalnya harus berorientasi ikhlas karena Allah dan kemudian, harus dibarengi dengan pengetahuan yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad saw. Inilah langkah-langkah yang harus kita lakukan dalam melakukan sebaik-baik amal.

Syarat keempat, berorientasi akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pada surat Al Isra’ ayat 19:
وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُوْرًا

“Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman; maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.”

Visi tertinggi seorang muslim dalam kehidupan dunia adalah akhirat. Namun, sayangnya, kebanyakan manusia dalam menjalani kehidupan di dunia seperti yang digambarkan dalam surat Al Kahfi ayat 104.
اَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا

“(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”

Inilah orang yang celaka, usaha terbaiknya hanya terhenti untuk dunia. Di mata Tuhan nya perbuatan mereka ini hanya sia-sia. Saat seseorang tidak memiliki orientasi akhirat; tidak memiliki visi masa depan untuk sampai di surga, maka pada malam hari hanya dimanfaatkan untuk tidur.

Padahal dengan banyak tidur, otomatis hak istimewa sebagai hamba yang ada pada malam hari akan hilang. Atau, karena terlalu sibuk dengan urusan bisnis dan karier, lalu tidur terlalu larut. Sehingga waktu tahajud terlewat. Subuh pun kesiangan.

Waktu-waktu istimewa di sepertiga malam pun hilang.

Namun, tidak demikian dengan para pekerja keras yang berorientasi akhirat, tidur selarut apa pun dan dalam kondisi yang selelah apa pun dia akan tetap menjaga waktu istimewanya dengan Allah pada sepertiga akhir malam.

Artinya, di sinilah kekuatan cara berpikir kita yang akan menjadi penyokong konsistensi dan produktivitas seorang muslim untuk terus melakukan amal shalih yang akan mengantarkannya menjejak di surga.

Kebanyakan kita berorientasi jadi orang kaya. Namun, tidak banyak orang yang menyadari hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menggambarkan bahwa orang kaya baru bisa masuk surga setelah diseleksi 500 tahun; setelah orang miskin beriman yang masuk surga.

Artinya, di sini cara berpikir atau mindset kita tentang kekayaan yang harus diubah dengan mindset orientasi akhirat. Sehingga, jadilah orang kaya yang seluruh aset dan jiwa raganya untuk akhirat, seperti Abu Bakar ra, Utsman bin Affan ra, dan Abdurrahman bin Auf ra.

Akhirnya, marilah kita selalu ingat bahwa dunia itu singkat. Karena itu, marilah kita menapaki kehidupan dengan empat hal di atas yaitu iman, ikhlas, mengikut sunah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan berorientasi akhirat. Dengan izin Allah, wajah kita akan berseri-seri di akhirat dan hidup kita di dunia juga bahagia.*

Artikel Khotbah Jumat UBN: Wajah Calon Penghuni Surga pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Khotbah Wahdah Islamiyah di Hari Raya Iduladha 1443 Hijriah https://parade.id/khotbah-wahdah-islamiyah-di-hari-raya-iduladha-1443-hijriah/ Mon, 11 Jul 2022 09:40:50 +0000 https://parade.id/?p=20500 Makassar (PARADE.ID)- Wahdah Islamiyah mengusung Tema “Keluarga Kuat, Negara Hebat” sebagai materi khotbah Hari Raya Iduladha 1443 H yang serentak dilakukan di 34 Provinsi di Indonesia. Naskah khotbah Iduladha tersebut setiap tahunnya dikeluarkan langsung oleh Dewan Syariah Wahdah Islamiyah, yang kemudian disebar ke seluruh khatib Wahdah di berbagai daerah, Ahad, (10/7/2022). Perhatian mengenai keluarga dan […]

Artikel Khotbah Wahdah Islamiyah di Hari Raya Iduladha 1443 Hijriah pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Makassar (PARADE.ID)- Wahdah Islamiyah mengusung Tema “Keluarga Kuat, Negara Hebat” sebagai materi khotbah Hari Raya Iduladha 1443 H yang serentak dilakukan di 34 Provinsi di Indonesia. Naskah khotbah Iduladha tersebut setiap tahunnya dikeluarkan langsung oleh Dewan Syariah Wahdah Islamiyah, yang kemudian disebar ke seluruh khatib Wahdah di berbagai daerah, Ahad, (10/7/2022).

Perhatian mengenai keluarga dan anak adalah materi yang telah diusung oleh Wahdah Islamiyah dari dulu, beberapa tahun lalu dalam materi khutbahnya juga telah mengangkat pentingnya menjada anak dan kini mengangkat tema tentang keluarga.

“Ternyata bukan hanya anak yang penting untuk dijaga. Tapi, keluarga juga butuh dijaga dengan belajar untuk memahami agama ini. Pembahasan tentang Iduladha, sosok yang selalu muncul adalah Nabi Ibrahim alaissalam, dalam sejarah kita tahu bahwa beliau memiliki keteladanan yang luar biasa baik untuk keluarganya dan juga ummat pada masa itu,” ujar Ustaz Yusran Anshar.

Ketua Dewan Syariah Wahdah Islamiyah tersebut menjelaskan bahwa tema keluarga ini diangkat untuk memberikan pencerahan kepada ummat akan pentingnya keluarga dalam mengatasi berbagai masalah dalam kehidupan masyarakat dan bangsa.

“Materi ini juga diangkat, sebagaimana yang kita saksikan di fenomena-fenomena akhir-akhir ini, dimana fenomena dan persoalan seperti LGBT yang sudah begitu marak dan bahkan ditampakkan secara lebih luas atau bahkan di festivalkan dan tanpa lagi memiliki rasa malu melakukan hal itu, dan juga fenomena pernikahan beda agama dan berbagai penyimpanan seksual yang lainnya serta berbagai permasalahan dalam kelurga yang terjadi di masyarakat kita,” tegasnya.

Salah satu pilar penting dalam pembagunan setiap bangsa adalah berkualitasnya keluarga, hal ini di ungkapkan oleh Sekjen Wahdah Islamiyah Ustadz Syaibani Mujiono yang menekankan pentingnya membangun ketahanan keluarga.

“Wahdah Islamiyah ingin menguatkan ketahanan keluarga dengan melihat contoh-contoh keluarga dari orang-orang yang sukses dari para Nabi dan Rasul. Karena keluarga ini adalah pilar penting dalam pembangunan ummat dan bangsa, ketika keluarga baik, kuat iman, sejahtera Insya Allah akan semakin kuat bangsa dan Negara kita. Namun, ketika keluarga itu rusak. Maka bisa saja, mudah dihancurkan suatu Negara,” ungkapnya.

“Makanya membangun keluarga yang dilandaskan atas iman dan memikirkannya tiap saat untuk bisa berkumpul tentunya di dunia dan di akhirat. Karena memang, membangun rumah tangga atau berkeluarga itu, menjadi bagian penting dalam ajaran kita,” tambahnya.

Ustadz Syaibani Mujiono juga mengucapkan selamat berhari raya Idul Adha kepada seluruh kader dan kaum muslimin, semoga Allah menerima amalan-amalan kita.

“Taqabbalallahu Minna wa minkum wa Shalihal ‘Amal Wa Antum bikhair. Selamat merayakan hari Raya Idul Adha 1443 Hijriyah semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita di bulan yang penuh berkah ini dan semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik bagi umat dan bangsa kita,” imbuhnya.*

Artikel Khotbah Wahdah Islamiyah di Hari Raya Iduladha 1443 Hijriah pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Bahaya Memutuskan Silaturahmi, Khotbah Jumat UBN https://parade.id/bahaya-memutuskan-silaturahmi-khotbah-jumat-ubn/ Fri, 20 May 2022 11:52:15 +0000 https://parade.id/?p=19680 Oleh Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) Diantara prinsip dasar sistem sosial Islam adalah membangun jalinan masyarakat muslim yang harmoni bagai satu tubuh. Ikatan persaudaraan yang terbangun sampai pada tingkatan jika salah satu organ ada yang sakit maka seluruh tubuh ikut merasakannya dan menjadi demam. Kelompok sosial yang mendapat prioritas utama untuk diperhatikan adalah kerabat serahim dan […]

Artikel Bahaya Memutuskan Silaturahmi, Khotbah Jumat UBN pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Oleh Ustaz Bachtiar Nasir (UBN)
Diantara prinsip dasar sistem sosial Islam adalah membangun jalinan masyarakat muslim yang harmoni bagai satu tubuh. Ikatan persaudaraan yang terbangun sampai pada tingkatan jika salah satu organ ada yang sakit maka seluruh tubuh ikut merasakannya dan menjadi demam.

Kelompok sosial yang mendapat prioritas utama untuk diperhatikan adalah kerabat serahim dan senasab keturunan. Merekalah yang pertama mendapatkan hak-hak persaudaraan Islam. Sebagaimana mereka pula yang berhak mendapatkan hubungan kasih sayang.

Berlaku buruk dan mengabaikan hak-hak kerabat serahim dan senasab adalah sifat orang-orang yang merugi dalam hidupnya karena telah memutuskan hubungan yang Allah perintahkan untuk disambung. Bahkan pelakunya digolongkan sebagai perbuatan jahat dan berdosa besar.

Siapakah Alarham yang berhak mendapatkan prioritas hubungan silaturrahim?
Mereka adalah kerabat dari jalur ayah dan jalur ibu. Ayah, ibu, kakek dan nenek adalah Alarham. Anak- anak dan cucu-cucu dari jalur mereka semua adalah Alarham. Saudara-saudara kandung, paman, bibi dan anak keturunan mereka adalah Alarham.
Mereka semualah yang dimaksud oleh Allah sebagai Ulul Arham (serahim dan senasab).

… ۚ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [الأنفال : 75]

“Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Alanfal: 75)

Apa saja bentuk pemutusan silaturrahim?
– Menjauhi pergaulan dengan mereka
– Enggan mengunjungi mereka
– Tidak menghadiri undangan mereka
– Menolak membantu mereka
– Tidak ikut meringankan beban mereka
– Tidak memprioritaskan menyambung hubungan dengan mereka padahal mereka lebih berhak untuk dihubungi

Beberapa bahaya memutuskan silaturrahim:
1. Dilaknat Allah dan akan dituliskan dan dibutakan diakhirat kelak.
Wahai anakku janganlah bergaul dengan pemutus silaturrahim karena aku dapati dalam Alquran mereka dilaknat Allah (Ali bin Husein)

قال الله تعالى: { فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ . أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ } . (سورة محمد:32-33).

{وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ} (الرعد:25)

2. Ditetapkan Allah sebagai orang Fasiq dan Merugi:
قال الله تعالى: {وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ * الَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِن بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ} (البقرة:26-27)

3. Disegerakan azabnya di dunia dan apa yang telah disiapkan di akhirat.

فعن أبي بكر رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “ما من ذنب أجدر أن يعجل الله لصاحبه العقوبة في الدنيا مع ما يدخر له في الآخرة من البغي وقطيعة الرحم ” . (رواه ابو داود والترمذي وابن ماجه).

4. Diharamkan masuk Surga
“لا يدخل الجنة قاطع”. (رواه البخاري ومسلم). يعني قاطع رحم.
ومعنى عدم دخول الجنة كما قال النووي رحمه الله في شرح مسلم: ( “لا يدخل الجنة قاطع” هذا الحديث يتأول تأويلين سبقا في نظائره في كتاب الإيمان أحدهما: حمله على من يستحل القطيعة بلا سبب ولا شبهة مع علمه بتحريمها فهذا كافر يخلد في النار ولا يدخل الجنة أبداً، والثاني: معناه ولا يدخلها في أول الأمر مع السابقين بل يعاقب بتأخره القدر الذي يريده الله تعالى).(انتهى كلامه رحمه الله).

5. Amalnya tidak terangkat dan tak diterima oleh Allah.
فعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: “إن أعمال بني آدم تعرض على الله تبارك وتعالى عشية كل خميس ليلة الجمعة فلا يقبل عمل قاطع رحم”.(رواه أحمد).

وقال الطِّيبي رحمه الله: إن الله يبقي أثر واصل الرحم طويلا فلا يضمحل سريعا كما يضمحل أثر قاطع الرحم.

وقال القرطبي رحمه الله تعالى: اتقوا الأرحام أن تقطعوها.

“ليس الواصل بالمكافئ ولكن الواصل الذي إذا قطعت رحمه وصلها”. (رواه البخاري).

Jumat, 20 Mei 2022

Artikel Bahaya Memutuskan Silaturahmi, Khotbah Jumat UBN pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Khotbah Jumat UBN: Tanda Sukses Ramadan Kita https://parade.id/khotbah-jumat-ubn-tanda-sukses-ramadan-kita/ Thu, 05 May 2022 12:38:29 +0000 https://parade.id/?p=19353 Jakarta (PARADE.ID)- MAQASHID syariah atau tujuan terbesar Lembaga Ramadhan disediakan Allah adalah untuk mebina diri agar menjadi orang bertaqwa, sekarang inilah saatnya membuktikan kesuksesan Ramadhan kita. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة : 183] “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang […]

Artikel Khotbah Jumat UBN: Tanda Sukses Ramadan Kita pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- MAQASHID syariah atau tujuan terbesar Lembaga Ramadhan disediakan Allah adalah untuk mebina diri agar menjadi orang bertaqwa, sekarang inilah saatnya membuktikan kesuksesan Ramadhan kita.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة : 183]

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al Baqarah: 183).

Ramadhan telah berganti dengan Syawwal, namun rahmat Ramadhan masih memberikan dampak besar bagi mereka yang berjuang membuktikan Ramadhannya menjadi sepanjang tahun. Diantaranya adalah lewat menggandengkan shiyam Ramadhan dengan shiyam 6 hari di bulan Syawwal.

مَن صامَ رمضانَ، وسِتًّا من شوَّالٍ، فكأنَّما صامَ السَّنةَ كلَّها.

الراوي : جابر بن عبدالله | المحدث : شعيب الأرناؤوط | المصدر : تخريج المسند
الصفحة أو الرقم : 14477 | أحاديث مشابهة | خلاصة حكم المحدث : صحيح لغيره

Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa shiyam Ramadhan dan shiyam 6 hari di bulan syawwal seakan-akan telah berpuasa selama sepanjang tahun.”

Allah yang Maha Rahman di bulan Ramadhan adalah Allah Yang Maha Rahman juga di bulan Syawwal, Zulqa’dah, Zulhijjah dst. Seorang yang telah bermakrifat kepada Allah Yang Maha Rahman pastilah akan berharap dan bergantung selalu kepada rahmat _Arrahman_ disetiap waktu, tempat dan semua keadaannya. Dan jika sekejap saja dia lalai dari mengingat _Arrahman_ dalam hatinya maka syaitanlah yang akan menjadi teman hidupnya.

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ [الزخرف : 36]

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az Zukhruf: 36)

Diantara bukti orang yang sukses Ramadhannya adalah yang merindukan kembali Ramadhan berikutnya dengan membuktikan hasil Ramdhannya saat ini hingga datang Ramadhan yang akan datang. Orang sukses yang demikian akan senantiasa mendapat ampunan Allah sepanjang tahunnya sampai datang Ramadhan berikutnya.

الصَّلَوَاتُ الخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إلى الجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إلى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ ما بيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الكَبَائِرَ

الراوي : أبو هريرة | المحدث : مسلم | المصدر : صحيح مسلم
الصفحة أو الرقم: 233 | خلاصة حكم المحدث : [صحيح]

Shalat-shalat yang lima dan dari Jumat ke Jumat, dan dari Ramadhan ke Ramadhan, ada penggugur dosa diantara keduanya dengan catatan, jika ditinggalkan perbuatan dosa besar.

Beribadah adalah tujuan semua penciptaan, terutama penciptaan manusia, demi kebahagiaan, kesejahteraan dan kemuliaan seorang hamba itu sendiri, karenanya beribadah bukanlah semusim saja. Semangat menghamba kepada Allah hendaklah konsisten sepanjang hayat hingga ke liang lahat. Jangan menjadi _Ramadhaniyyun_ yaitu pelaku ibadah semusim Ramadhan saja.

Semoga Allah mengabulkan semua ibadah shalat kita, shiyam kita, qiyam kita, ruku’-ruku’ kita, sujud-sujud kita, tilawah dan tadabbur kita, khusyu’ kita dan semua ibadah-ibadah kita. Aamiin. Washallallahu ala nabiyyina Muhammad.

Ustaz Bachtiar Nasir (UBN)
Makkah Al Mukarramah, Jumat, 6 Mei 2022

Artikel Khotbah Jumat UBN: Tanda Sukses Ramadan Kita pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Khotbah Jumat UBN: Al-Aqsa Memanggil Kita https://parade.id/khotbah-jumat-ubn-al-aqsa-memanggil-kita/ Fri, 22 Apr 2022 05:39:43 +0000 https://parade.id/?p=19118 Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir (UBN) Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam, dan shalawat serta salam atas junjungan kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan sampai Hari Pembalasan dan setelahnya: انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ [التوبة […]

Artikel Khotbah Jumat UBN: Al-Aqsa Memanggil Kita pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Oleh: Ustaz Bachtiar Nasir (UBN)

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam, dan shalawat serta salam atas junjungan kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan sampai Hari Pembalasan dan setelahnya:

انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ [التوبة : 41]

“Berangkatlah, baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan hartamu dan dirimu di jalan Allah. Itu lebih baik untukmu.”

Pasukan penjajah Zionis dan kawanan pemukim telah memobilisasi kebatilan mereka dengan membawa segenap kekuatan dan senjata mereka untuk melakukan serangan besar-besaran ke Masjid Al-Aqsa Al-Mubarok dalam rangka apa yang disebut “Paskah Yahudi”,
dan untuk mempraktikkan secara Illegal ritual keagamaan mereka, yaitu dengan menyembelih hewan di Masjid Al-Aqsha, sebagai bentuk peringatan Simbolis spritual bagi mereka untuk mendirikan Kuil Sulaiman yang mereka klaim, mulai dari tanggal 15 April yang lalu,
bertepatan dengan tanggal 14 Ramadhan tahun 1443 H, dalam upaya yang jelas untuk memaksakan eskalasi baru dan sangat berbahaya di dalamnya, dan untuk memaksakan siasat pembagian tempat dan waktu di lingkungan Masjid Alaqsa, tentu dengan bersekutunya kekuatan koalisi Zionis dengan kekuatan normalisasi dari beberapa negara arab dan Muslim lainnya yang mendukung mereka.

Karenanya dalam menghadapi agresi jahat Zionis ini ada beberapa hal yang harus dijalankan:

Pertama: bahwa kita saat ini tengah menghadapi kejahatan sangat serius yang akan terjadi. Serangan yang diharapkan ini dimaksudkan untuk mengkonsolidasikan aspirasi musuh Zionis untuk menjadikan Klaim mereka terkait Masjid Al-Aqsha Al-Mubaarok sebagai hak sah Zionis dan tunduk pada semua rencana mereka, sebagai pemilik dan pengontrolnya, dalam salah satu bentuk terburuk dari upaya Zionis untuk menghancurkan Al-Aqsha.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَا ۚ أُولَٰئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَا إِلَّا خَائِفِينَ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ [البقرة : 114

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah).
Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. (114)

Kedua: kita harus tegaskan bahwa Masjid Al-Aqsha yang diberkahi adalah hak eksklusif umat Islam dengan semua bagian, bangunan, dinding-dinding, di atas dan di bawahnya, dan bahwa setiap serangan terhadapnya atau sebagiannya adalah serangan terhadap ketiga tempat paling suci bagi semua Muslim; setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi;
Hal Tersebut mengharuskan seluruh umat untuk banyak berdoa dan mengeluarkan segala kemampuan yang ada untuk menghentikan agresi kriminal ini.

Mari nyatakan dukungan dan apresiasi kepada para Al-Murabitun di Al-Quds dan Al-Aqsha, dan bahaya normalisasi bagi seluruh umat, dan ke Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha yang diberkati.

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا [الأحزاب : 39]

(yaitu) orang-orang yang menyapaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan. (39)

Penghargaan juga kita berikan kepada para pahlawan Al-Quds, para pria dan wanita Al-Murabitat dan Al-Murabitin yang selalu memberikan segala yang ada di hati mereka dari Izzah iman dan Mahabbah Masjid Al-Aqsha yang diberkati, sebagai pengorbanan untuk yang diberkati Masjid Al-Aqsha dan untuk mempertahankannya, mereka adalah teladan kepahlawanan dan keperkasaan.

Para ulama dan khatib hendaknya menyerukan kepada seluruh umat untuk mendukung warga Al-Quds dan Palestina yang datang ke Masjid Al-Aqsha dan di sekitarnya dengan berbagai macam dukungan. Baik sikap moral, mengajak jamaah utk selalu mendoakan Al Quds, dan bantuan langsung lain.

Artikel Khotbah Jumat UBN: Al-Aqsa Memanggil Kita pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>