#Novelis Arsip - Parade.id https://parade.id/tag/novelis/ Bersama Kita Satu Sun, 01 Aug 2021 04:51:50 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.2 https://parade.id/wp-content/uploads/2020/06/cropped-icon_parade-32x32.jpeg #Novelis Arsip - Parade.id https://parade.id/tag/novelis/ 32 32 Siapa yang Membuat KPK? https://parade.id/siapa-yang-membuat-kpk/ https://parade.id/siapa-yang-membuat-kpk/#respond Sun, 01 Aug 2021 04:51:50 +0000 https://parade.id/?p=14155 Jakarta (PARADE.ID) KPK lahir simpel karena kejadian tahun 1998. Ingat kejadian 1998? Masa’ kamu sudah lupa? Indonesia, yg setelah sekian lama dicengkeram oleh satu keluarga saja, akhirnya melakukan ‘reformasi’. Presiden paling sederhana dalam sejarah Indonesia akhirnya tumbang. Soeharto itu lahir di rumah geribik bambu, sederhana sekali hidupnya. Mana ada pejabat sekarang lahir di rumah geribik […]

Artikel Siapa yang Membuat KPK? pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID) KPK lahir simpel karena kejadian tahun 1998. Ingat kejadian 1998? Masa’ kamu sudah lupa?

Indonesia, yg setelah sekian lama dicengkeram oleh satu keluarga saja, akhirnya melakukan ‘reformasi’. Presiden paling sederhana dalam sejarah Indonesia akhirnya tumbang. Soeharto itu lahir di rumah geribik bambu, sederhana sekali hidupnya. Mana ada pejabat sekarang lahir di rumah geribik bambu, lantai tanah. Soeharto meniti karir dari bawah, kemudian jadi salah-satu orang paling kuat, paling kaya sedunia. Ujung ke ujung dia menguasai Indonesia.

Krisis moneter terjadi tahun 1997. Perekonomian Indonesia hancur lebur, rakyat akhirnya berontak marah, mahasiswa demonstrasi didukung nyaris seluruh rakyat Indonesia. Menteri2 Soeharto dan juga pendukung Soeharto mulai ikut menikam dari belakang, Soeharto terpaksa lengser, kehilangan pendukungnya. Kasihan. Malang sekali. Orang yg setahun sebelumnya dipuja2, dijilati pendukungnya, mendadak kehilangan semua pemujanya.

Diganti oleh Habibie, diganti Gusdur, dstnya.

Tahun 1998. Semangat reformasi ini terus bergulir. Masih panas membara. Aktivis, tokoh2 reformasi, didukung rakyat terus menggelorakan anti korupsi. Maka tahun 1999, lahir UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN serta UU Nomor 31 Tahun 1999.

Kemudian pada 2001 akhirnya lahir UU No 20 Tahun 2001 sebagai pengganti sekaligus pelengkap UU Nomor 31 Tahun 1999. Dengan UU Nomor 20 Tahun 2001, wujud KPK pun mulai terbentuk.

Selanjutnya pada 27 Desember 2002 dikeluarkan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Lahirlah KPK.

Itu sejarahnya, my friend. Lihat kronologisnya. Jangan cuma mendadak lihat berdirinya doang. Cuma lihat siapa yg ttd di sana.

Jadi, jika ada yang bangga sekali bilang KPK lahir gara2 dia, wah, tolong ingatkan catatan ini. Ingatlah, masa2 itu elit politik terdesak habis. Mereka kalah dengan gelombang reformasi, rakyat menuntut agar korupsi dihabisi, itu semangatnya besar sekali, maka akhirnya elit politik membuat UU ini. Termasuk sisa-sisa Orde Baru, ikut mengangguk, setuju. Karena mereka tdk mau jika terlihat melawan kehendak reformasi.

Hampir 20 tahun KPK berdiri, sayangnya, semakin ke sini, nyala api gelora reformasi ini semakin padam. Situasi pelan2 berbalik arah. Elit politik kembali berkuasa dalam banyak hal. Lihatlah, saksikanlah hari ini, keluarga2 kembali mencengkeram kekuasaan. Lebih enak malah, atas nama pilkada. Seolah itu betulan demokrasi, lupa jika ‘pilihan’ sudah ditentukan sejak awal. Parpol itu bahkan bisa menyingkirkan siapapun demi ambisi keluarga. Tapi okelah, silahkan saja.

Yang jadi masalah, lihatlah hari ini, koruptor dihukum ringan. Bahkan saat rakyat protes melihat drama penegakan hukum, rakyat cuma bisa nurut. Dipertontonkan terang2an koruptor dihukum ringan, sel penjara mewah, remisi diobral habis, dll, dsbgnya. KPK jelas sekali semakin lemah. Apakah elit politik tergerak, ikut menghujat koruptor, dkk? Tidak.

KPK dibentuk oleh rakyat Indonesia. Karena reformasi. Hari ini, KPK semakin lemah. Karena elit politik (yang didukung netizen fanatik).

Terakhir,

Jika tetap saja ada yang maksa bilang dialah yang bikin KPK, dialah yang menandatangani pembentukan KPK, di jaman dialah KPK terbentuk; well, tanyakan ke dia, kalau begitu siapa dulu yg tanda-tangan surat keterangan lunas BLBI, kamu menyetujuinya bukan, dll, dsbgnya? Kok kamu tidak merasa itu andil dan tanggungjawab kamu juga?

Ini cuma pertanyaan simpel loh ya. Tidak usah baper.

*Tere Liye, Penulis NovelNegeri Para Bedebah

Artikel Siapa yang Membuat KPK? pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/siapa-yang-membuat-kpk/feed/ 0
Nyanyi di Masjid https://parade.id/nyanyi-di-masjid/ https://parade.id/nyanyi-di-masjid/#respond Tue, 18 May 2021 23:21:18 +0000 https://parade.id/?p=12604 Jakarta (PARADE.ID)- Kejadian Bipang Ambawang seharusnya membuat pejabat manapun lebih hati2. Segala sesuatu yg bisa membuat ribut, hindari. Jika kita tidak paham, maka bertanya dulu, cross check kemana2. Tapi sepertinya, meskipun Bipang Ambawang sudah terjadi, tetap saja tidak kapok2nya. Kali ini giliran pemda DKI yang melakukannya. Lewat akun resmi milik Pemda DKI, mereka memposting paduan […]

Artikel Nyanyi di Masjid pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Kejadian Bipang Ambawang seharusnya membuat pejabat manapun lebih hati2. Segala sesuatu yg bisa membuat ribut, hindari. Jika kita tidak paham, maka bertanya dulu, cross check kemana2. Tapi sepertinya, meskipun Bipang Ambawang sudah terjadi, tetap saja tidak kapok2nya.

Kali ini giliran pemda DKI yang melakukannya. Lewat akun resmi milik Pemda DKI, mereka memposting paduan suara di masjid Istiqlal dalam rangka menyambut lebaran. Niatnya sih baik. Samalah kayak Bipang Ambawang, baik niatnya. Percaya. Tapi seriusan, kamu tidak tahu bagi sebagian besar muslim, bernyanyi di masjid itu termasuk dilarang?

Masa’ masjid kamu jadikann tempat nyanyi2, paduan suara? Bahkan kalaupun hanya jadi latar video, itu sensitif sekali. Yes. Tahu, niatnya baik, dalam rangka menyambut lebaran. Biar meriah. Ramai. Tapi itu berlebihan. Sama kayak promo babi panggang pas libur lebaran, itu baiiik banget niatnya. Karena bukan cuma umat Islam yg liburan pas lebaran. Tapi ayolah, sensitif sedikit.

Video2 ini sudah dihapus dari akun medsos Pemda DKI. Pejabatnya sudah minta maaf. Maka semoga yang tersisa adalah: yuks mari tingkatkan sedikit literasi kita dalam banyak hal.

Ketahuilah, saat literasi kita memadai. Pengetahuan kita luas, maka kita bisa lebih sensitif, lebih bersimpati, lebih berempati ke orang lain. Karena duuuh, hidup ini bukan sekadar niat baik saja. Hidup ini juga tentang toleransi, menjaga perasaan orang lain. Apalagi hal2 yg sangat sensitif.

Tapi kan, tapi kan di tempat lain boleh saja tuh mau pesta2, joget2, nyanyi2 di rumah ibadah. Duuh, dik, saat nyepi di Bali, kamu dilarang total berisik. Dan itu final. End discussion. Kalau kamu memang hobi mengkritisi ritual dan keyakinan agama lain, maka apapun akan jadi masalah bagi kamu. Karena bagi kamu, agama sendiri pun kamu phobia.

Mulailah saling memahami, bukan saling mengkritisi ritual agama.

Termasuk pahamilah: kita bisa tetap bernyanyi dengan latar Monas, Ancol, dan ribuan spot lainnya dalam rangka memeriahkan lebaran Idul Fitri. Termasuk bisa mempromosikan pempek palembang, siomay Bandung, dan ribuan makanan lainnya dalam rangka libur lebaran.

*Tere Liye, Penulis Novel ‘Selamat Tinggal’

Artikel Nyanyi di Masjid pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/nyanyi-di-masjid/feed/ 0
Saran buat PT KAI https://parade.id/saran-buat-pt-kai/ https://parade.id/saran-buat-pt-kai/#respond Sun, 21 Mar 2021 01:35:35 +0000 https://parade.id/?p=11490 Jakarta (PARADE.ID)- Suer, saya tdk akan nyinyir, tapi lewat postingan ini, sy mau ngasih saran untuk PT KAI, kebetulan Komut-nya baru, jadi semoga momentum ini tepat: 1. Yth Pak Kiyai, kalau beli tiket pesawat, itu rapid test sering dikasih gratis loh. Jadi, alih-alih naikin Genose dari 20.000 jadi 30.000, malah bagusnya gratisin saja. Penumpang senang. […]

Artikel Saran buat PT KAI pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Suer, saya tdk akan nyinyir, tapi lewat postingan ini, sy mau ngasih saran untuk PT KAI, kebetulan Komut-nya baru, jadi semoga momentum ini tepat:

1. Yth Pak Kiyai, kalau beli tiket pesawat, itu rapid test sering dikasih gratis loh. Jadi, alih-alih naikin Genose dari 20.000 jadi 30.000, malah bagusnya gratisin saja. Penumpang senang. PT KAI saja yg subsidi, kalaupun rugi2 dikit, PT KAI itu kan memang milik rakyat. Membuat rakyat senang sungguh mulia dan bisa masuk surga

2. Yth Pak Kiyai, mushalla di kereta2 jarak jauh itu masih bisa ditingkatkan lagi. Dibuat layout baru, dll. Terutama yang perjalanan keretanya mesti nembus dua waktu shalat. Sy percaya pasti bisa, biar wudhunya lebih enak, shalatnya lebih enak.

3. Yth Pak Kiyai, layanan makan dan minum di kereta jarak jauh itu juga mesti diperbanyak ragam dan pilihannya. Kalau bisa murah juga jualnya. Lagi2, waah, membuat penumpang hepi, rakyat hepi, adalah seharusnya cita2 mulia PT KAI.

4. Yth Pak Kiyai, percepat revitalisasi rute2 lama. Wah, ini seru loh kalau rute2 lama dibalikin lagi. Daftarnya, saya yakin direksi PT KAI mesti punya. Memang seru jika PT KAI punya jalur kereta cepat semi2 shinkansen, tapi rute2 lama juga menarik.

5. Yth Pak Kiyai, juga percepat pembangunan jalur kereta baru di luar pulau Jawa. Anak2 di kalimantan misalnya, mereka nggak pernah lihat sepur. Apalagi di Papua, Lombok, dll. Bilang sama bosnya bos di sana, bangun tol memang oke. Tapi bangun jalur rel baru juga oke loh, Pak. Bayangkan jika ada rute kereta nonstop Jakarta Bali, Lombok, Flores sampai Alor sana. Atau Jakarta sampai Banda Aceh (pas nyebrangnya penumpang tetap pakai Ferry punya Pelindo). Kita bisa nyaingin rute2 mahsyur di LN.

Kurang lebih itu Pak Kiyai. Kalau hal2 lain, sy sdh tdk punya saran lagi buat PT KAI, karena memang sdh bagus dan banyak perbaikan. Mungkin lima hal itu bisa dibantu Pak Kiyai, biar nyinyir orang juga bisa berhenti. Dijawab dgn sesuatu, kongkrit. Ada dampak positifnya Pak Kiyai di sana. Mungkin yg lain juga ada saran2 juga, tentu bagus juga didengarkan.

Ngomong2, sy itu love dgn kereta. Dulu, pas nulis novel PULANG, itu 30% nyaris ditulis di atas kereta Argo Wilis, Bandung-Yogya. Sy dulu sering ada acara ke sana. Jadi pas ke sana, sy buka laptop, colokin ke listrik, ngetik. Wah, eksotis banget. Apalagi kalau besok2 ada jalur Bakauheni-pelabuhan menuju Sabang Aceh, wah itu entah berapa jam, melewati bukit barisan, jangan2 sy bisa menyelesaikan 1 novel sendiri.

Tabik.

*Tere Liye, Penulis Novel ‘RINDU’

Artikel Saran buat PT KAI pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/saran-buat-pt-kai/feed/ 0
Masker https://parade.id/masker/ https://parade.id/masker/#respond Wed, 29 Jul 2020 14:48:48 +0000 https://parade.id/?p=4979 Jakarta (PARADE.ID)- Saya terus-terang saja, tidak suka pakai masker. Itu bikin repot, toh saya juga sehat2 saja. Ngapain pakai masker? Dulu, sy bahkan posting tulisan di page ini tentang: yg sakit sajalah pakai masker. Jangan yang sehat disuruh juga. Kalian bisa keduk tulisan2 itu, sebagai buktinya. Masalahnya, dengan situasi terkini, orang2 mulai pakai masker, dan […]

Artikel Masker pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Saya terus-terang saja, tidak suka pakai masker. Itu bikin repot, toh saya juga sehat2 saja. Ngapain pakai masker? Dulu, sy bahkan posting tulisan di page ini tentang: yg sakit sajalah pakai masker. Jangan yang sehat disuruh juga. Kalian bisa keduk tulisan2 itu, sebagai buktinya.

Masalahnya, dengan situasi terkini, orang2 mulai pakai masker, dan kita disuruh untuk pakai masker. Kenapa disuruh? Ada argumennya: boleh jadi, tanpa kita sadari, kita itu membawa virus (tanpa gejala). Bukan cuma corona, mungkin virus lain, termasuk virus bokek, virus bebal, eh, maaf jadi ngelantur. Kan kasihan, gara2 kita orang lain tertular.

Wah, setelah dipikir2, masuk akal juga alasannya ini. Maka baiklah, saya mengalah pakai masker. Meskipun saya tetap ngomel dalam hati, kesal, marah, tapi minimal sy menghormati kelompok yang pakai masker dan menyuruh pakai. Itu namanya toleransi, toleran terhadap pendapat orang lain.

Lagian tenang saja, pakai masker itu tidak harus 24 jam. Di rumah, tidak perlu pakai. Lagi tidur, tidak perlu pakai. Sendirian, di lapangan luas, atau tempat terbuka, juga tidak mendesak pakai. Kapan sih masker itu penting? Saat di tempat publik, tertutup, dan bertemu dengan orang lain, dengan jarak kurang dari dua meter. Di luar itu, tidak harus pakai masker.

Tetap boleh kerja? Boleh. Silahkan berangkat. Tapi pakai masker, sering cuci tangan, social distancing. Tetap buka toko, dll? Boleh. Tapi patuhi protokol kesehatan. Ini sudah boleh semua loh? Cari uang boleh, ke rumah ibadah boleh, dll boleh sepanjang patuhi protokol kesehatan. Paling hanya sekolah saja yang masih dari rumah. Kok belum boleh sekolah? Lagi2 ada alasannya, kasihan anak2 kita. Rentan sakit. Nggak ada pandemi saja anak2 kita sering ingusan, srot-srot, dsbgnya. Masuk akal juga. Tapi kok kuliah belum boleh? Mereka kan bukan anak2. Kasihaaan, mahasiswa2 ini jomblo2, nanti sakit siapa yang bakal ngirim pesan ‘cepet sembuh beb’. Lagian, kasihan, mahasiswa2 ini sebenarnya juga suka libur panjang. Eh, bergurau saja.

Saya benci loh pakai masker itu. Lagi lari pagi, misalnya, aduh, pakai masker itu bikin larinya nggak asyik. Tapi baiklah, mengalah, saat saya harus melintasi gang2, trotoar atau tempat2 ramai penduduk, maka wajib pasang masker. Tapi kalau di rute lari yang sepi, jarak orang lain lebih dari dua meter, tidak mendesak pakai masker.

Kedewasan kita dalam situasi pandemi begini sangat penting. Mengalah. Bukan sebaliknya, menantang, bandel, dan show off kekuatan. Apalagi urusan masker ini, aduh, itu tuh sederhana sekali. Bisa pakai masker kain, bisa dicuci, dipakai lagi. Murah, harganya cuma 5.000-an. Cuma disuruh pakai masker, kita tidak diminta memindahkan gunung. Kalaupun memang corona ini hoax, konspirasi, lebay, percayalah: pakai masker itu tetap ada manfaatnya. Minimal ‘memaksa’ kita untuk menjaga kebersihan dan kesehatan.

Saya benci pakai masker. Bahkan sebelum pandemi corona ini tiba di Indonesia, sebelum ada penderita corona di negeri ini, sy sudah menuliskannya. Tapi benci bukan berarti harus mengotot memaksakan pendapat kita ke orang lain.

Bukan berarti sy bijak, bukaaan. Melainkan sy merujuk sebuah cerita. Di agama saya, ada cerita menarik. Saat seorang imam, sukarela qunut (padahal dia berpendapat qunut itu tidak harus). Imam ini sukarela dan dengan senang hati melakukannya, demi menghormati pendapat setempat yang sebaliknya. Sy hanya meneladani cerita itu.

*Novelis, Tere Liye

Artikel Masker pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/masker/feed/ 0
Selamat Jalan, Pak Sapardi Djoko Damono https://parade.id/selamat-jalan-pak-sapardi-djoko-damono/ https://parade.id/selamat-jalan-pak-sapardi-djoko-damono/#respond Sun, 19 Jul 2020 11:23:08 +0000 https://parade.id/?p=4113 Jakarta (PARADE.ID)- Kita kehilangan salah-satu penulis besar. Pergi. Hari ini. Dan tidak akan kembali lagi. Kalian tahu, apa yang menyedihkan saat penulis pergi? Kita tidak bisa lagi menunggu-nunggu tulisannya. Jangankan sebuah buku, jangankan sepotong sajak yang indah nan menggugah, bahkan satu huruf pun tak ada lagi. Seperti menunggu di halte bus saat pagi lengang. Kabut […]

Artikel Selamat Jalan, Pak Sapardi Djoko Damono pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Kita kehilangan salah-satu penulis besar. Pergi. Hari ini. Dan tidak akan kembali lagi.

Kalian tahu, apa yang menyedihkan saat penulis pergi? Kita tidak bisa lagi menunggu-nunggu tulisannya. Jangankan sebuah buku, jangankan sepotong sajak yang indah nan menggugah, bahkan satu huruf pun tak ada lagi.

Seperti menunggu di halte bus saat pagi lengang. Kabut mengambang, dan kita tahu persis, tidak ada lagi bus yang akan datang di sana. Sudah selesai.

Tapi tidak mengapa. Karena kalian harus tahu, apa yang selalu membuat tersenyum saat penulis pergi? Tulisannya. Legacy. Warisan. Penulisnya boleh jadi sudah pergi, tapi ‘usia’ tulisannya bisa panjang sekali.

Maka kenanglah sajak hebat nan elok itu,

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Atau sajak yang satu ini,

“Pada suatu hari nanti,
jasadku tak akan ada lagi,
tapi dalam bait-bait sajak ini,
kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
suaraku tak terdengar lagi,
tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,

pada suatu hari nanti,
impianku pun tak dikenal lagi,
namun di sela-sela huruf sajak ini,
kau tak akan letih-letihnya kucari.”

Selamat jalan, Pak Sapardi Djoko Damono.

*Dari pembaca tulisan Pak Sapardi, Tere Liye

Artikel Selamat Jalan, Pak Sapardi Djoko Damono pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/selamat-jalan-pak-sapardi-djoko-damono/feed/ 0
Tukang Boong https://parade.id/tukang-boong/ https://parade.id/tukang-boong/#respond Sun, 19 Jul 2020 10:49:55 +0000 https://parade.id/?p=4110 Jakarta (PARADE.ID)- Agus dapat rezeki nomplok, dia dapat undian tiket nonton Barcelona vs Madrid, hadiah dari sponsor. Berangkatlah Agus ke Barcelona sana bareng 2 pemenang lain, wussh. Tiket pesawat ditanggung, tiket nonton, hotel, uang saku. Malamnya nonton Barcelona vs Madrid. Bahagia banget Agus. Mimpinya terkabul. Lihat Messi langsung. Besok pagi2, dia punya jadwal kosong, sebelum […]

Artikel Tukang Boong pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Agus dapat rezeki nomplok, dia dapat undian tiket nonton Barcelona vs Madrid, hadiah dari sponsor. Berangkatlah Agus ke Barcelona sana bareng 2 pemenang lain, wussh. Tiket pesawat ditanggung, tiket nonton, hotel, uang saku.

Malamnya nonton Barcelona vs Madrid. Bahagia banget Agus. Mimpinya terkabul. Lihat Messi langsung.

Besok pagi2, dia punya jadwal kosong, sebelum nanti sore pulang ke Indonesia. Jadilah dia jalan2. Petugas hotel bilang, kalau mau lihat pantai, pergilah ke Barceloneta. Bisa jalan kaki. Agus mengangguk, mulai jalan kaki ke sono. Sambil lihat2 kota.

Sampai di Platja de la Barceloneta dia bingung, gue beli tiket masuknya di mana? Keliling dia jalan, ribuan orang memadati itu pantai, nggak nemu tiket masuk. Nanya sama bule, “Mister, beli tiket masuk pantai di mana?” Maklum, Agus itu kalau di Jakarta, masuk ke pantai bayar, mau ke toilet umum bayar, bahkan kentut pun bayar (karena kentutnya keciprit, jadi terpaksa harus ke toilet).

Bule itu nanya balik, “Kamu dari mana sih? Kok nanya tiket masuk?” Agus bilang, “Indonesia.” Bule itu tertawa, “Di sini gratis, bro. Masuk saja.” Agus bingung, “Gratis? Ini ulang tahun kota Barcelona?” Karena di negaranya, pantai gratis itu kalau lagi ultah saja. “No, gratis 24 jam, bebas.” Wah, Agus terkesima. Pantai sebagus ini, gratis.

Di kota2 maju, di negara2 maju, perhatikanlah, akses ke pantai itu dibuka. Mereka menjadikan sempadan pantai sebagai bagian kehidupan kota. Lucunya, di negeri ini, pantai dikavling, dibagi2kan ke perusahaan (mau swasta, BUMN, BUMD), sama saja. Lantas mereka mulai melotot ngusir pengunjung, atau mulai mengeluarkan tiket.

Kita itu sudah terlalu lama given, pasrah, alias nurut saja dengan situasi ini. Dan crazynya lagi, kadang pantai itu terbentuk dari hutang negara, dari APBD, APBN. Langsung maupun tidak langsung, bahkan dalam kasus itu 100% swasta, ingat, tetap ada fasilitas milik negara di sana. Hutangnya dibayar rakyat, masuk pantainya diusir (atau beli tiket).

Apakah pejabat2 itu pernah ke Australia? Eropa? Amerika? Pernah cuy. Mereka ini bahkan beberapa lulusan LN. Atau malah sering dinas ke sana. Bawa rombongan keluarga, dsbgnya. Lihat pantai orang gratis, pulang ke sini, otaknya tetap korslet. Tidak berubah.

Lihatlah foto ini. Inilah Platja de la Barceloneta, hanya 7 km jalan kaki dari Camp Nou, markas sepakbola klubnya Messi. Lihat fotonya, bedebah! Elu, pejabat2 pemda, pemkot, kementerian, jika elu pernah dinas ke LN, elu pernahlah foto2 selfie gaya di fasilitas publik yg gratis. Lantas kenapa elu nggak terilhami, pulang bawa konsepnya?

Biaya perawatan, biaya kebersihan, itu gampang sekali. Dari pajak. Kafe, restoran, hotel, dll itu dipajaki, uangnya buat itu semua. Di sini kebalik logikanya, kalau nggak bayar nanti kotor. Dasar bahlul, lantas tiket masuknya itu buat apa? Tetap jorok pantainya. Oala, untuk perawatan dan kebersihan siapa tuh?

Akan lahir generasi berikutnya yg paham sekali soal ini. Sepanjang kita mau mendidiknya. Kasih mereka tulisan yang menggugah. Kasih mereka pemahaman baru. Yg membuat mereka berpikir, Oh iya, betul juga ya. Oh iya, ini masuk akal. Karena akal sehat, rasionalitas itu urusan sederhana sekali. Dan silahkan merujuk peraturan, akses ke sempadan pantai 100meter itu adalah hak rakyat. Pantai itu anugerah Tuhan gratis. Sama seperti gunung, sungai, dll.

Lihatlah foto ini. Bayangkan jika Jakarta, kota2 lain di negeri ini punya beginian. Indah sekali toh? Kita merasa ada gunanya bayar pajak. Bukan malah, bayar pajak, hutang melangit, utk ke pantai saja bayar lagi. Ambyar.

Mari didik anak2 kita, biar mereka besok lusa tidak jadi pejabat tukang boong. Apalagi memanfaatkan hal2 beginian utk jadi pejabat, pas giliran jadi, dia boong lagi.

**agar diskusi ini bisa dua jalur, beberapa komentar kalian akan kami tanggapi. termasuk yg mau ngamuk, marah2, akan kami biarkan. satpam cipirili akan melonggarkan peraturan di postingan ini.

**Novelis, Tere Liye

Artikel Tukang Boong pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/tukang-boong/feed/ 0