Jakarta (parade.id)- Arah pendidikan nasional dinilai terlalu condong pada kebutuhan ekonomi dan tenaga kerja. Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Suwendi, menyebut persoalannya tidak hanya pada regulasi, tetapi juga pada cara pandang atau mental model pelaku pendidikan.
“Ini masalah kita bersama. Bukan semata aspek regulasi, tetapi juga mental model kita. Saya sebagai dosen pun harus punya mental model yang sama,” ujarnya dalam wawancara di kanal YouTube INDEF.
Suwendi menilai capaian pendidikan tidak boleh diukur hanya dari besarnya serapan tenaga kerja. Menurutnya, pendidikan adalah upaya menghadirkan manusia yang produktif dan berkontribusi, yang membutuhkan semangat, ilmu, dan kesadaran transendental kepada Tuhan.
“Kita tidak akan mampu menghasilkan sistem pendidikan jika hanya menekankan satu aspek, misalnya intelektualisme saja, tanpa memperhatikan yang lain. Semuanya harus dibangun dan diperkuat secara sinergis,” katanya.
Ia juga mempertanyakan ukuran kontribusi pesantren yang kerap dilihat dari serapan sektor formal. Menurutnya, pesantren hadir mendampingi dan memberdayakan masyarakat serta mengisi ruang yang belum banyak disentuh. “Mengukurnya hanya dengan kontribusi tenaga kerja itu perlu diperdebatkan lebih lanjut,” tuturnya.
