Site icon Parade.id

SBY di Unpad: Indonesia Emas 2045 Ilusi Jika Gagal Bertransformasi

Foto: SBY/tangkapan layar

Jakarta (parade.id)- Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan bahwa visi Indonesia Emas 2045 hanya akan menjadi ilusi jika bangsa ini gagal bertransformasi. Pesan itu ia sampaikan dalam orasi di Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, Selasa (13/10/2026), pada Dies Natalis ke-68 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpad.

“Indonesia bukan nation in waiting. Bukan hanya nation on the move, tetapi bangsa yang menjalankan great transformations. Kalau kita gagal bertransformasi, Indonesia emas 2045 itu ilusi,” kata SBY.

SBY datang bersama rombongan The Yudhoyono Institute (TYI), di antaranya Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan sejumlah anggota DPR RI. Ia menyebut TYI berencana menjajaki kerja sama dengan Unpad dalam waktu dekat.

Ia mengaku tidak menyampaikan orasi ilmiah yang sepenuhnya akademis. Ia memilih berbagi pengalaman memimpin pemerintahan selama 10 tahun, dengan mengaitkannya pada tiga kata kunci yang diusung FISIP Unpad: integritas, inovasi, dan kolaborasi.

Belajar dari Kegagalan Negara

SBY mengatakan ia banyak mempelajari penyebab sebuah negara gagal selama memimpin. Tujuannya agar Indonesia tidak mengalami hal serupa. Menurut dia, keberhasilan atau kegagalan bangsa ditentukan empat hal: institusi dan tata kelola negara, ekonomi yang produktif dan adil, modal manusia melalui pendidikan, serta kepemimpinan yang visioner.

“Pemimpin yang tidak mengenal sejarah tends to repeat the mistake of history,” ujarnya.

Ia mencontohkan krisis global 2008–2009 dan bencana tsunami Aceh, yang terjadi saat ia baru dua bulan menjabat presiden. Dalam situasi itu, menurut dia, yang dibutuhkan adalah keteguhan, visi, determinasi, kepatuhan pada konstitusi, dan kerja sama.

Soal target Indonesia Emas, SBY mengaku lebih konservatif. Tujuan pembangunan, katanya, harus realistis, dapat dikerjakan, dan dapat dicapai. Ia menyebut Indonesia berpeluang menjadi emerging economy pada 2030. Pada 2045, ia berharap Indonesia menjadi bangsa yang kuat dalam ekonomi, demokrasi, hukum, dan teknologi, sebagai awal dari peradaban besar.

Negarawan dan Negara di Atas Partai

SBY membedakan politisi dan negarawan. Politisi, katanya, memikirkan pemilu berikutnya, sedangkan negarawan memikirkan masa depan jauh ke depan.

“Country over party. Country first. Jangan dibalik. Jangan partai politik yang diutamakan, negaranya belakangan,” tegasnya.

Ia mengaku kini tidak lagi aktif di politik praktis dan lebih banyak menekuni seni dan olahraga. Ia menyebut dirinya hanya memberi dorongan dan restu kepada generasi yang lebih muda. Politik, kata dia, keras, tetapi tetap punya moral dan etika.

“Jangan selalu membenarkan orang yang kuat, tapi perkuatlah kebenaran,” katanya.

Pancasila, Demokrasi, dan Konstitusi

SBY menyebut Pancasila harus dibuktikan sebagai ideologi yang relevan dan menjawab tantangan zaman, tanpa dikultuskan. Dengan begitu, rakyat tidak tergoda mengadopsi ideologi lain.

Ia menegaskan tetap menganut demokrasi. “Demokrasi yang baik selalu lebih baik dibandingkan sistem politik manapun,” ujarnya. Meski begitu, menurutnya tidak ada satu model demokrasi yang cocok untuk semua bangsa. Nilai universal seperti kedaulatan rakyat, konstitusionalisme, checks and balances, pemilu yang bebas dan adil, serta supremasi hukum perlu dipadukan dengan sejarah dan budaya Indonesia.

Soal sistem pemerintahan, SBY memilih sistem presidensial dengan checks and balances yang baik. Ia juga lebih menyukai negara kesatuan dengan desentralisasi dan otonomi daerah yang adil. Kekuasaan presiden, kata dia, tidak boleh terlalu lemah agar pemerintahan bisa bekerja, tetapi juga tidak boleh berlebihan agar tidak menjurus ke otoritarianisme.

“Jangan senang merusak, melanggar konstitusi. Karena itu buat kita adalah jangkar, koridor, tiang penyangga kehidupan bernegara,” katanya.

Ekonomi: “Sustainable Growth with Equity”

Dalam bidang ekonomi, SBY mengaku memilih mekanisme pasar karena lebih efisien, tetapi dengan keadilan sosial dan keberlanjutan. Ia menyebut mantra pembangunannya adalah “sustainable growth with equity”, yang dijalankan lewat strategi empat jalur: pro-growth, pro-job, pro-poor, dan pro-environment.

Ia memaparkan capaian pemerintahannya. Pertumbuhan ekonomi yang semula 4,3 persen bertahan sekitar 6 persen selama 10 tahun. Pengangguran turun dari sekitar 11 persen menjadi 5–6 persen. Kemiskinan turun dari 17 persen, yang sempat naik ke 19 persen, menjadi sekitar 10 persen. Deforestasi juga menurun dari jutaan hektare menjadi ratusan ribu hektare.

SBY juga mengkritik kapitalisme murni. “Iklim berubah karena kapitalisme itu rakus,” ujarnya. Namun ia menilai peran negara yang berlebihan juga merusak ekonomi, dan menyebut negara-negara komunis dulu rontok karena kontrol negara yang berlebihan.

Politik Luar Negeri dan Kritik untuk PBB

Di bidang hubungan internasional, SBY menegaskan prinsip “zero enemy, thousand friends” dengan tetap mengutamakan kepentingan nasional. Ia menilai semboyan “Indonesia first” tidak salah, selama diiringi kewajiban internasional.

“Indonesia first bukan titik. Indonesia first koma, dilengkapi dengan kewajiban internasional kita,” katanya.

Ia menyoroti defisit kepercayaan (trust deficit) antarnegara besar, termasuk antara Amerika Serikat dan Tiongkok serta di Timur Tengah. Menurutnya, selama defisit itu tinggi, perdamaian sulit tercapai dalam waktu dekat. SBY juga menyebut PBB sedang “mati suri” dan berharap terbangun tatanan multipolar yang adil.

Soal keutuhan NKRI, ia menyatakan negara harus tegas tetapi tetap bijaksana. Ia mencontohkan penyelesaian konflik Aceh. “Tidak berubah tujuannya, yang berubah caranya,” ujarnya. Ia mengingatkan para politisi agar tidak membiarkan perdamaian Aceh mundur.

Cemas terhadap Perkembangan AI

Menutup pembahasan isu strategis, SBY mengaku cemas terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI).

“Saya agak cemas dengan AI, dan cemas itu hak saya. Jangan dimarahi,” katanya. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah insinyur dan pemimpin perusahaan AI sendiri mulai khawatir. Ia mendorong PBB dan negara-negara besar, terutama Amerika Serikat dan Tiongkok, menyepakati batasan pengembangannya.

“Harus ada konvensi, harus ada protokol, harus ada konsensus. How far should AI go?” ujarnya. Meski begitu, ia optimistis Indonesia tetap bisa memanfaatkan AI untuk pendidikan, pertahanan, ekonomi, hingga penanganan perubahan iklim.

Pesan untuk Unpad dan Mahasiswa

SBY meminta FISIP Unpad tetap menjadi rumah bagi pemikiran yang cerdas, kritis, dan independen. “Jangan takut menyampaikan kebenaran berdasarkan ilmu pengetahuan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa “politics must follow science” dan bahwa politisi perlu bekerja bersama para teknokrat.

Ia juga meminta kampus menawarkan solusi, bukan hanya kritik. “Kalau hanya mau caci maki, itu banyak. Setiap orang bisa,” katanya. Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup melahirkan orang pintar. “Lahirkan juga orang-orang yang bijaksana dan berkarakter. Itu baru 100 persen.”

Kepada mahasiswa, SBY berpesan agar memiliki tujuan hidup, can-do spirit, dan never give up mentality. Ia juga meminta mereka mencintai Indonesia dalam kondisi apa pun dan memilih menjadi bagian dari solusi. “Jangan senang menjadi bagian dari masalah. Indonesia kita sudah banyak yang memproduksi masalah itu. Jangan ditambah lagi,” ujarnya.

Hadiah Buku dan Lukisan

Di akhir acara, SBY menyerahkan cenderamata berupa lima judul buku kepada Rektor Unpad, Dekan FISIP, dan perpustakaan universitas. Buku-buku itu termasuk kumpulan pidatonya, buku oral history, dan buku puisinya Garis Waktu Tak Bertepi.

Ia juga menyerahkan lukisan karyanya berjudul A Foggy Day in Jatinangor untuk FISIP Unpad. Lukisan itu ia selesaikan sehari sebelumnya, berdasarkan foto kabut ke arah Gunung Geulis yang ia ambil saat berkunjung ke Jatinangor.

“Mudah-mudahan Indonesia tidak berkabut. Tolong sama-sama mencegah supaya tetap bright, cerah, dan membawa berkah untuk kita semua,” katanya.

Exit mobile version