#Taliban Arsip - Parade.id https://parade.id/tag/taliban/ Bersama Kita Satu Mon, 23 May 2022 05:29:17 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0.2 https://parade.id/wp-content/uploads/2020/06/cropped-icon_parade-32x32.jpeg #Taliban Arsip - Parade.id https://parade.id/tag/taliban/ 32 32 Taliban Keluarkan Perintah kepada Penyiar TV Wanita untuk Menutup Wajah https://parade.id/taliban-keluarkan-perintah-kepada-penyiar-tv-wanita-untuk-menutup-wajah/ Mon, 23 May 2022 05:29:17 +0000 https://parade.id/?p=19739 Afghanistan (PARADE.ID)- Pemerintah Taliban baru-baru ini mengeluarkan kebijakan berupa perintah kepada pewarta TV wanita untuk menutup wajahnya. Kebijakan ini bersifat wajib kepada penyiar wanita Afghanistan. Ketika perintah itu dikeluarkan, otomatis tidak semua penyiar wanita TV yang mengikutinya. Namun, ketika pemerintah mengeluarkan dekrit, penyiar wanita TV mulai mematuhinya. Kementerian Informasi dan Kebudayaan sebelumnya mengumumkan bahwa kebijakan […]

Artikel Taliban Keluarkan Perintah kepada Penyiar TV Wanita untuk Menutup Wajah pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Afghanistan (PARADE.ID)- Pemerintah Taliban baru-baru ini mengeluarkan kebijakan berupa perintah kepada pewarta TV wanita untuk menutup wajahnya. Kebijakan ini bersifat wajib kepada penyiar wanita Afghanistan.

Ketika perintah itu dikeluarkan, otomatis tidak semua penyiar wanita TV yang mengikutinya. Namun, ketika pemerintah mengeluarkan dekrit, penyiar wanita TV mulai mematuhinya.

Kementerian Informasi dan Kebudayaan sebelumnya mengumumkan bahwa kebijakan tersebut “final dan tidak dapat dinegosiasikan”.

“Itu hanya budaya luar yang dipaksakan pada kami, memaksa kami untuk memakai topeng, dan itu dapat membuat masalah bagi kami saat menyajikan program kami,” kata Sonia Niazi, pembawa acara TV TOLOnews Afghanistan.

Niazi mengatakan kepada media bahwa untuk pertama kalinya, dia “tidak enak badan sama sekali”, saat mempresentasikan program.

“Keputusan ini tidak dapat diprediksi untuk semua presenter wanita, karena Islam tidak memerintahkan kami untuk menutup wajah kami,” kata Niazi, dikutip Al Jazeera.

“Setiap cendekiawan dan tokoh politik Islam menentang keputusan ini.”

Taliban juga mengatakan presenter wanita bisa memakai masker medis sebagai gantinya. Meski demikian, Niazi mengaku merasa terjebak dengan perintah untuk menutupi wajahnya.

“Jika keputusan seperti itu dikeluarkan dan dikenakan pada perempuan, maka perempuan di seluruh Afghanistan akan tersingkir, seperti yang kita lihat sekarang bahwa perempuan secara bertahap dihilangkan,” katanya.

Dalam aksi solidaritas dengan rekan-rekan wanita, personel pria saluran itu menutupi wajah mereka dengan topeng, termasuk pembaca berita malam utama.

(Irm/PARADE.ID)

Artikel Taliban Keluarkan Perintah kepada Penyiar TV Wanita untuk Menutup Wajah pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Taliban Larang Penanaman Opium https://parade.id/taliban-larang-penanaman-opium/ Mon, 04 Apr 2022 12:50:05 +0000 https://parade.id/?p=18782 Jakarta (PARADE.ID)- Pemerintahan yang dipimpin oleh Taliban melarang warganya membudidaya opium. Pengumuman pelarangan penanaman opium ini diumumkan kemarin, Ahad (4/4/2022) oleh Mawlawi Abdul Salam Hanafi, Deputi Administrasi Perdana Menteri saat konferensi pers di Kementerian Dalam Negeri. Pelarangan ini tentu sebuah langkah yang akan memiliki konsekuensi bagi banyak petani opium. “Semua rekan senegaranya diberitahu sejak tanggal […]

Artikel Taliban Larang Penanaman Opium pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Pemerintahan yang dipimpin oleh Taliban melarang warganya membudidaya opium. Pengumuman pelarangan penanaman opium ini diumumkan kemarin, Ahad (4/4/2022) oleh Mawlawi Abdul Salam Hanafi, Deputi Administrasi Perdana Menteri saat konferensi pers di Kementerian Dalam Negeri.

Pelarangan ini tentu sebuah langkah yang akan memiliki konsekuensi bagi banyak petani opium.

“Semua rekan senegaranya diberitahu sejak tanggal dikeluarkannya keputusan ini, penanaman opium benar-benar dilarang di seluruh negeri dan tidak ada yang bisa mencoba menanamnya,” kata keputusan itu, yang dikeluarkan oleh pemimpin Taliban, Haibatullah Akhundzada.

“Jika seseorang melanggar ini, budidayanya akan dihancurkan dan pelanggarnya akan ditindak sesuai dengan hukum Islam,” sambung dia, seperti dikutip nytimes.com.

Keputusan Taliban untuk melarang opium poppy di Afghanistan, yang menyumbang sekitar 80 persen dari pasokan opium dunia, muncul ketika kelompok itu berada di bawah tekanan internasional yang meningkat setelah serangkaian dekrit yang menargetkan perempuan, termasuk kemampuan mereka untuk bersekolah di sekolah menengah.

Keputusan yang dikeluarkan pada hari Ahad ini juga melarang penggunaan, penjualan, transfer, pembelian, impor dan ekspor anggur, heroin dan obat-obatan lainnya.

Namun setelah itu tidak ada rencana atas hal itu untuk menghentikan atau memberantas penanaman, padahal Afghanistan di tengah-tengah krisis ekonomi.

Pengumuman Taliban pada hari Ahad datang selama panen opium.

Petani opium di Provinsi Kandahar, yang dianggap sebagai tempat kelahiran Taliban, mengatakan pada hari Ahad bahwa mereka tidak mengetahui jenis larangan apa pun.

(Irm/PARADE.ID)

Artikel Taliban Larang Penanaman Opium pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Akademisi Tolak Narasi Talibanisasi KPK https://parade.id/akademisi-tolak-narasi-talibanisasi-kpk/ Sat, 09 Oct 2021 04:11:00 +0000 https://parade.id/?p=15425 Jakarta (PARADE.ID)- Akademisi yang juga Rais Syuriah PCI (Pengurus Cabang Istimewa) Nahdlatul Ulama (NU) di Australia dan New Zealand Nadirsyah Hosen, mengaku menolak narasi talibanisasi KPK, dan kini HTI-isasi KPK. “Perlu org waras & berani utk menjaga NKRI dari politisasi agama & korupsi. Soal Taliban, HTI & benderanya, akun @na_dirs dari dulu termasuk paling keras […]

Artikel Akademisi Tolak Narasi Talibanisasi KPK pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Akademisi yang juga Rais Syuriah PCI (Pengurus Cabang Istimewa) Nahdlatul Ulama (NU) di Australia dan New Zealand Nadirsyah Hosen, mengaku menolak narasi talibanisasi KPK, dan kini HTI-isasi KPK.

“Perlu org waras & berani utk menjaga NKRI dari politisasi agama & korupsi. Soal Taliban, HTI & benderanya, akun @na_dirs dari dulu termasuk paling keras melawan & menjaga agar umat tdk terkecoh,” demikian bunyi akun Twitter @na_dirs, Sabtu (9/10/2021).

Dalam persepsinya, saat ini ada dua kepentingan yang sebetulnya yang bertemu saat ini. Pertama soal koruptor yang resah dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kedua soal pendukung Presiden Jokowi yang ingn KPK menangkap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan,

“Yg ditarget sosok Novel Baswedan. Itu saja inti masalah KPK,” kata dia.

Kalau kalian benar-benar pro NKRI, kata dia, maka seharusnya KPK terus diperkuat, bukan dibonsai. Kalau ada bukti kuat Anies korupsi, silakan tangkap.

“Tapi jangan hanya utk kepentingan politik, lantas kalian gandengan tangan dg para koruptor yg tertawa melihat kondisi KPK saat ini.”

Akun itu mengingatkan agar jangan menggunakan teknik yang sama untuk melemahkan KPK demi kebencian pada Anies. Kalau demikian, maka menurutnya sama saja (kalian) melakukan politisasi agama dengan narasi taliban di KPK.

“Akun ini tdk setuju Ahok menista agama dan tetap kritis dg Anies. Tapi kami menolak pelemahan KPK. ”

Sebab akun ini, lanjutnya, sejak dahulu tegas melawan politisasi agama saat Pilkada DKI.

“Terakhir, tanya diri kalian sendiri: kalian Pro NKRI atau Pro Koruptor atau Pro Politisasi agama sih? Kalau kami posisinya jelas: Menjaga NKRI, Mendukung pemberantasan korupsi dan Mempromosikan Islam rahmatan lil alamin, serta Mendukung Jokowi sampai 2024.”

(Sur/PARADE.ID)

Artikel Akademisi Tolak Narasi Talibanisasi KPK pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Gorbachev: Pengerahan Tentara AS di Afghanistan Gagal Sejak Awal https://parade.id/gorbachev-pengerahan-tentara-as-di-afghanistan-gagal-sejak-awal/ Wed, 18 Aug 2021 11:33:50 +0000 https://parade.id/?p=14476 Moscow (PARADE.ID)- Mikhail Gorbachev, pemimpin yang mengawasi penarikan pasukan Uni Soviet dari Afghanistan pada 1989, pada Kamis menyatakan bahwa invasi AS dan NATO ke negara itu sudah gagal sejak awal. Mantan presiden Uni Soviet yang kini berusia 90 tahun tersebut menganggap keberadaan Soviet di Afghanistan sebagai kesalahan politik yang menguras sumber daya berharga saat itu […]

Artikel Gorbachev: Pengerahan Tentara AS di Afghanistan Gagal Sejak Awal pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Moscow (PARADE.ID)- Mikhail Gorbachev, pemimpin yang mengawasi penarikan pasukan Uni Soviet dari Afghanistan pada 1989, pada Kamis menyatakan bahwa invasi AS dan NATO ke negara itu sudah gagal sejak awal.

Mantan presiden Uni Soviet yang kini berusia 90 tahun tersebut menganggap keberadaan Soviet di Afghanistan sebagai kesalahan politik yang menguras sumber daya berharga saat itu ketika negaranya menghadapi “senjakala” eksistensinya sendiri.

Pemerintah dukungan Soviet di Afghanistan bertahan selama tiga tahun setelah Moskow menarik pasukannya, namun tidak pernah pulih dari keputusan Rusia yang memangkas bantuan kepada mereka setelah Soviet runtuh pada Januari 1992. Pemerintah Afghanistan pun jatuh di tahun yang sama.

Seperti dikutip kantor berita Rusia RIA, Gorbachev mengatakan NATO dan AS tak punya peluang untuk berhasil di Afghanistan dan telah salah menangani keberadaan mereka sendiri di sana.

“Mereka (NATO dan AS) harus mengakui kegagalan mereka sebelumnya. Hal yang penting sekarang adalah mengambil pelajaran dari apa yang terjadi dan memastikan kesalahan yang sama tidak terulang,” kata Gorbachev kepada RIA.

“(Pengerahan pasukan AS) itu adalah upaya gagal sejak awal meskipun Rusia mendukungnya di tahap-tahap awal,” kata dia.

“Seperti banyak proyek serupa lain, di mana ancaman dilebih-lebihkan dan gagasan geopolitik ditetapkan dengan buruk. Ditambah upaya tidak realistis untuk mendemokratisasi masyarakat yang terdiri dari banyak suku.”

*Sumber: antaranews.com

Artikel Gorbachev: Pengerahan Tentara AS di Afghanistan Gagal Sejak Awal pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Taliban Rasul https://parade.id/taliban-rasul/ Tue, 17 Aug 2021 12:20:03 +0000 https://parade.id/?p=14463 Jakarta (PARADE.ID)- “Tahu saya, Taliban itu ya seperti ISIS.” Itulah jawaban yang dikirim ke WA saya. Pengirimnya seseorang yang sering mengatakan ”Pancasila adalah kita”. Saya memang bertanya padanya: “apa yang Anda ketahui tentang Taliban?” Jawabnya, ya itu tadi, seperti kalimat pertama itu: Taliban sama dengan ISIS. Saya perlu bertanya karena dia baru saja kirim WA […]

Artikel Taliban Rasul pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- “Tahu saya, Taliban itu ya seperti ISIS.”

Itulah jawaban yang dikirim ke WA saya. Pengirimnya seseorang yang sering mengatakan ”Pancasila adalah kita”.

Saya memang bertanya padanya: “apa yang Anda ketahui tentang Taliban?” Jawabnya, ya itu tadi, seperti kalimat pertama itu: Taliban sama dengan ISIS.

Saya perlu bertanya karena dia baru saja kirim WA ke saya. “Waduh GAWAT!!!” tulisnya.

Yang dia anggap gawat adalah Taliban kini kembali menguasai Afghanistan. Tapi yang dia anggap gawat juga ini: salinan komentar Mantan Wapres Jusuf Kalla: “Afghanistan akan lebih baik di tangan Taliban.”

Dia menganggap komentar seperti itu sangat berbahaya. Kok ada tokoh Indonesia begitu pro-Taliban.

Gara-gara komentar itu Jusuf Kalla pun dia beri gelar ”juru bicara Taliban untuk Asia Tenggara”.

Rupanya, selama ini, ia benci Taliban sekaligus benci Jusuf Kalla.

Saya cermati lagi WA yang dikirim ke saya itu. Oh… ternyata itu bukan WA asli buatannya sendiri. Itu WA yang dia terima dari orang lain. Lalu di-forward ke saya.

Berarti bunyi WA seperti itu sudah beredar luas. Taliban itu ISIS. Dan JK itu pro-Taliban.

Rasanya memang sangat banyak yang punya kesan seperti itu.

Bayangan umum tentang Taliban adalah kekejamannya. Termasuk kekejaman kepada wanita. Luar biasa kejam. Bengis. Brutal. Beberapa film Hollywood juga mengambil tema kekejaman itu.

Saya sudah membaca beberapa novel dengan latar belakang Afghanistan. Yang ditulis novelis Afghanistan yang sudah jadi warga negara Amerika.

Isi novelnya juga seperti itu: zaman pemerintahan Taliban adalah zaman kegelapan Afghanistan. Kejam, bengis, brutal menjadi satu.

Maka ketika hari Minggu kemarin Taliban berhasil menduduki ibu kota Afghanistan, Kabul, bayangan lama itu muncul kembali. Afghanistan akan kembali menjadi negara horor.

Warga Berebut Naik Pesawat Meninggalkan Kabul Afghanistan Setelah Dikuasai Taliban disway.id Dahlan Iskan.jpegWarga berebut naik pesawat untuk bisa meninggalkan Kabul, Afghanistan.

Tanda-tanda bahwa Taliban akan kembali menguasai Afghanistan sebenarnya sudah terlihat sebulan lalu. Satu-per satu kota-kota di Afghanistan bagian utara dikuasai Taliban.

Amerika Serikat pun tahu persis: Taliban akan kembali berkuasa. Mungkin dalam waktu sebulan ke depan. Amerika kelihatannya tidak peduli lagi. Amerika tetap memutuskan menarik semua pasukan dari Afghanistan.

Ternyata perkiraan ”satu bulan” itu salah. Tidak sampai dua minggu seluruh Afghanistan sudah jatuh ke tangan Taliban. Pun ketika masih ada 6.000 tentara Amerika yang lagi menunggu jadwal ditarik pulang.

Sejak dua minggu lalu Amerika juga sudah ”mencicil” menerbangkan orang-orang sipil Afghanistan ke Amerika. Yakni mereka yang memenuhi syarat mendapatkan visa. Sudah 2.000 orang Afghanistan yang mendapat visa Amerika.

Maka hari Minggu kemarin adalah hari tergopoh-gopoh nasional di sana. Tentara Amerika, para diplomat, orang-orang yang sudah mengajukan visa. Semua berbondong ke bandara. Bayangan umum: akan terjadi apa yang pernah terjadi di Saigon tahun 1975. Mereka akan diangkut dengan pesawat meninggalkan Afghanistan dalam keadaan panik.

Di tahun 1975 itu, ketika Vietnam Selatan yang didukung Amerika kalah perang, mereka berbondong ke bandara. Diangkut terbang ke Bangkok –untuk selanjutnya jadi imigran di Amerika. Penguasa baru, komunis dari Vietnam Utara, membiarkan mereka meninggalkan Saigon.

Yang terjadi di Kabul tidak sama. Amerika, yang sudah 20 tahun ”menduduki” Afghanistan, memang kalah. Tapi oleh keputusan Amerika sendiri. Untuk menarik diri dari negara itu.

Keputusan Amerika itu dibuat oleh Presiden Donald Trump, dua tahun lalu. Joe Biden, pengganti Trump, mempercepatnya. Kini Trump berkoar agar Biden mengundurkan diri: membuat Amerika malu. Langkah Biden dianggap menjadi penyebab Taliban kembali berkuasa. Dan itu akan membuat maraknya kembali terorisme internasional.

Yang juga ikut terbirit-birit adalah Presiden Afghanistan hasil Pemilu yang lalu: Ashraf Gani. Ia meninggalkan istana menuju bandara. Lalu terbang ke arah utara: Tajikistan. Gani ingin mengungsi di negara tetangga itu.

Tapi Tajikistan menolak.

Pesawat Gani tidak jadi mendarat di Tajikistan. Pesawat itu belok ke arah barat daya. Menuju Oman. Dari sini Gani akan meneruskan perjalanan ke Amerika.

Amerikalah yang dulu menciptakan Taliban –untuk melawan Rusia yang waktu itu masih bernama Uni Soviet.

Setelah Taliban berkuasa di Afghanistan, jadilah negara itu sarang terorisme internasional.

Amerika pun memusuhi Taliban. Menggulingkan pemerintahannya. Yakni setelah terjadi serangan dua pesawat ke menara kembar New York, 9 September 2010. Yang menewaskan lebih 3.000 orang.

Setelah menguasai Afghanistan, Amerika membangun demokrasi di sana. Mengizinkan banyak partai berdiri. Untuk ikut pemilu.

Tapi tidak pernah ada partai yang berhasil menang. Pemerintahan Afghanistan selalu dibentuk berdasar hasil kompromi yang tidak kukuh.

Politik tidak pernah stabil. Hasil pembangunan juga tidak segera terlihat. Rakyat frustrasi. Mereka juga merasa terhina. Mirip negara jajahan. Rakyat Afghanistan adalah orang yang harga dirinya amat tinggi.

Dari sinilah Taliban kembali mendapat simpati. Terutama ketika muncul pemimpin baru yang berbeda.

Di dalam Taliban sendiri memang terpecah-belah. Terlalu banyak faksi. Salah satunya yang dipimpin Mullah Muhamad Rasul.

Rasul inilah yang membawa Taliban berwajah baru. Rasul berumur 56 tahun. Ia dari daerah selatan, dekat perbatasan Pakistan.

Rasul berasal dari suku Pastun, suku terbesar di Afghanistan. Ia berpikiran moderat. Ia Islam mazhab Sunni.

Taliban versi Rasul ini membawa ideologi Islam-nasional-Afghanistan.

Rasul melarang orang asing menjadi pejuang di Taliban. Tidak seperti Taliban lama. Yang begitu banyak dipegang orang asing. Bahkan pemimpin Taliban dari sayap Al-Qaeda adalah Osama Bin Laden, orang Saudi.

Di tangan Rasul, Al-Qaeda tidak akan boleh beroperasi di Afghanistan. Demikian juga ISIS, dilarang.

Hizbut Tahrir pernah menawarkan sistem kekhalifahan untuk Afghanistan. Rasul menolak.

ISIS juga menawarkan sistem pemerintahan Islamnya untuk Afghanistan. Rasul juga menolak.

Jelaslah bahwa Taliban di bawah Rasul sangat berbeda dengan yang kita kenal di masa lalu.

Taliban yang sekarang ini lebih tepat disebut sebagai nasionalisme Islam Afghanistan. Mereka lebih mencintai Afghanistan dari pada demokrasi Amerika. Mereka lebih mencintai Afghanistan dari pada Islam dari mana pun.

Mayoritas Islam di Afghanistan menganut aliran Deobandi. Aliran ini lahir di kota Deobandi, dekat Mumbai, India. Di zaman dinasti Moghul tahun 1800-an.

Sampai sekarang sekitar 15 persen Islam di India dan Pakistan dari aliran Deobandi. Aliran ini lebih berpegang pada Quran dan Hadis sesuai dengan teksnya. Agak mirip Wahabi. Karena itu Wahabi pernah mewarnai Islam di Afghanistan.

Bahwa Taliban era Rasul ini berbeda, sudah mereka buktikan selama dua minggu terakhir. Perebutan kota-kota di utara itu misalnya, tanpa diwarnai pertumpahan darah. Bahkan ketika mereka merebut ibu kota Kabul, tidak satu pun yang kena tembak.

Media di negara tetangga melaporkan memang terjadi beberapa kasus penjarahan, tapi hanya minor.

Sikap Presiden Gani sendiri mendukung peralihan yang damai itu. Di satu pihak, Gani memang dianggap pengecut. Tapi Gani sendiri berdalih, ia meninggalkan negeri itu agar tidak terjadi pertumpahan darah.

Para pejuang Taliban itu masuk Kabul memang bersenjata. Ketika mereka memasuki Istana juga dengan senjata lengkap. Tapi mereka hanya mengagumi kehebatan fasilitas di istana itu.

Mereka pun mencoba seluruh sofa yang ada di Istana. Duduk-duduk di situ. Dengan gaya duduk pejuang –sejenak mereka, tanpa aturan protokol Istana.

Sebagian lagi pergi ke gym milik Istana. Para pejuang itu terlihat mencoba alat-alat olahraga di gym itu. Sambil tetap mencangklong senjata.

Mereka menduduki Istana dengan damai. Mereka menjadi penguasa baru. Mereka berjanji akan membentuk pemerintahan inklusi –melibatkan kelompok lain. Mereka juga berjanji menghormati wanita. Mereka ingin Afghanistan maju di tangan bangsa sendiri.

Tiongkok kelihatannya sudah siap untuk digandeng. Keduanya memang berbatasan di salah satu sudut sempit pegunungan mereka.

Amerika sudah tahu semua itu.

Tiongkok juga sudah tahu semua itu.

*Dahlan Iskan

 

Artikel Taliban Rasul pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Ashraf Ghani, Presiden Afghanistan yang Gagal Berdamai dengan Taliban https://parade.id/ashraf-ghani-presiden-afghanistan-yang-gagal-berdamai-dengan-taliban/ Tue, 17 Aug 2021 00:45:35 +0000 https://parade.id/?p=14447 Kabul (PARADE.ID)- Presiden Afghanistan Ashraf Ghani pada Minggu meninggalkan istana kepresidenan di Kabul kepada gerilyawan Taliban yang melengserkan kekuasaannya dalam waktu beberapa pekan. Dua kali terpilih sebagai presiden, keduanya dilalui dengan sengketa yang sengit, Ghani meninggalkan negaranya tanpa mengatakan kemana akan pergi. Al Jazeera melaporkan kemudian dia telah terbang ke Uzbekistan. “Untuk menghindari pertumpahan darah, […]

Artikel Ashraf Ghani, Presiden Afghanistan yang Gagal Berdamai dengan Taliban pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Kabul (PARADE.ID)- Presiden Afghanistan Ashraf Ghani pada Minggu meninggalkan istana kepresidenan di Kabul kepada gerilyawan Taliban yang melengserkan kekuasaannya dalam waktu beberapa pekan.

Dua kali terpilih sebagai presiden, keduanya dilalui dengan sengketa yang sengit, Ghani meninggalkan negaranya tanpa mengatakan kemana akan pergi. Al Jazeera melaporkan kemudian dia telah terbang ke Uzbekistan.

“Untuk menghindari pertumpahan darah, saya pikir lebih baik pergi,” kata dia

Ghani pertama kali menjabat sebagai presiden pada 2014 menggantikan Hamid Karzai yang memimpin Afghanistan setelah invasi pasukan sekutu pimpinan AS pada 2001.

Dia mengawasi penyelesaian misi tempur AS, penarikan pasukan asing yang hampir selesai dari Afghanistan, dan proses perdamaian yang kacau dengan pemberontak Taliban.

Ghani berupaya mengakhiri perang puluhan tahun sebagai prioritas meski gerilyawan Taliban terus menyerang pemerintahan dan pasukan keamanan. Dia memulai pembicaraan damai dengan mereka di ibu kota Qatar, Doha, pada 2020.

Namun negara lain merasa frustrasi dengan lambatnya kemajuan pembicaraan itu dan pada reaksi Ghani yang makin tajam. Seruan untuk membentuk pemerintah sementara pun makin meningkat.

Selama menjabat, dia telah mengangkat kaum muda dan berpendidikan untuk memimpin posisi yang dulu dijabat oleh sekumpulan figur elite dan jaringan patronasi.

Ghani berjanji memerangi korupsi yang merajalela, membenahi ekonomi yang rusak, dan menjadikan Afghanistan penghubung perdagangan regional antara Asia Tengah dan Selatan. Namun, dia tak mampu memenuhi sebagian besar janjinya.

Jalan Panjang

Ghani, ahli antropologi didikan AS berusia 72 tahun, menempuh program doktor di Universitas Columbia, New York. Dia pernah dinobatkan sebagai salah satu dari “100 Pemikir Global Teratas di Dunia” oleh majalah Foreign Policy pada 2010.

Jalan menuju kursi presiden diperjuangkannya dengan berat.

Dia menghabiskan hampir seperempat abad hidupnya di luar negeri selama beberapa dekade kekuasaan Soviet yang bergejolak, perang saudara, dan tahun-tahun Taliban berkuasa.

Selama periode itu dia bekerja sebagai pengajar di AS, lalu pindah ke Bank Dunia dan badan-badan PBB di Asia Timur dan Selatan.

Beberapa bulan setelah pasukan asing pimpinan AS menginvasi Afghanistan, dia mundur dari pekerjaannya dan kembali ke Kabul untuk menjadi penasihat senior Karzai yang baru ditunjuk menjadi presiden.

Dia bertugas sebagai menteri keuangan Afghanistan pada 2002, namun kemudian berselisih dengan Karzai. Pada 2004 dia ditunjuk sebagai konselor Universitas Kabul, di mana dia dipandang sebagai reformis yang efektif.

Dia juga membentuk kelompok pemikir di Washington yang bekerja membuat kebijakan untuk memberdayakan orang-orang miskin di dunia.

Pada 2009, Ghani yang berasal dari etnis mayoritas Pashtun seperti Karzai, mengikuti pemilihan presiden namun berada di urutan keempat dengan raihan hanya 4 persen suara nasional.

Dia terus bekerja di sejumlah posisi penting di negara itu, termasuk sebagai “tsar peralihan” Afghanistan dengan mengepalai badan yang mengawasi transisi keamanan dari NATO ke Afghanistan.

Saat Karzai tak lagi bisa dipilih sebagai presiden, Ghani meraih sukses dalam pencalonan dirinya yang kedua pada 2014. Dia lalu terpilih lagi pada 2019.

Hubungannya dengan Washington dan negara Barat lain tidak berjalan mudah.

Dia menjadi kritikus yang vokal atas apa yang disebutnya sebagai bantuan internasional yang sia-sia di Afghanistan dan sering tidak sejalan dengan strategi Barat di negara itu, terutama terkait proses perdamaian yang lambat dan menyakitkan dengan Taliban.

Dalam sebuah wawancara dengan BBC, Ghani mengatakan: “Masa depan kami ditentukan oleh orang-orang Afghanistan, bukan oleh seseorang yang duduk di belakang meja sambil bermimpi”.

*Sumber: antaranews.com

Artikel Ashraf Ghani, Presiden Afghanistan yang Gagal Berdamai dengan Taliban pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Mantan Jubir Menduga Ada yang Ingin Menguasai KPK https://parade.id/mantan-jubir-menduga-ada-yang-ingin-menguasai-kpk/ Wed, 26 May 2021 15:36:06 +0000 https://parade.id/?p=12759 Jakarta (PARADE.ID)- Mantan Juru Bicara (Jubir) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah menduga ada yang ingin menguasai lembaga antirasuah tersebut. Dugaan tersebut lahir dari disingkirkannya 75 pegawai terbaik KPK, sehingga membuat KPK mudaj dikuasai. “Siapa yg ingin kuasai KPK? Siapa yg berkepentingan KPK melemah? Atau Siapa yg akn gunakan KPK demi kepentingan pribadi/kelompok & habisi […]

Artikel Mantan Jubir Menduga Ada yang Ingin Menguasai KPK pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Mantan Juru Bicara (Jubir) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah menduga ada yang ingin menguasai lembaga antirasuah tersebut. Dugaan tersebut lahir dari disingkirkannya 75 pegawai terbaik KPK, sehingga membuat KPK mudaj dikuasai.

“Siapa yg ingin kuasai KPK? Siapa yg berkepentingan KPK melemah? Atau Siapa yg akn gunakan KPK demi kepentingan pribadi/kelompok & habisi lawan2nya? Siapapun itu, di sinilah pentingnya sebuah KPK yg INDEPENDEN,” demikian cuitannya, Rabu (26/5/2021).

Awalnya, dugaannya, mereka pikir KPK sudah bisa dikuasasi dan dilemahkan sejak revisi UU KPK berhasil dilakukan, sepaket dengan Pimpinan KPK yang lahir dari proses dan calon yang kontroversial. Tapi sejumlah Pegawai KPK mencoba terus berbuat hingga OTT duakasus besar tak terbendung dan dua menteri dari parpol jadi tersangka.

“Ini tmpaknya jd salah1 alasan kenapa #75PegawaiKPK harus disingkirkan meskipun tenggat waktu 2 tahun yg diamanatkan UU msh sd Okt-Nov. Disinilah “wawasan kebangsaan” dibajak utk kepentingan penyingkiran tsb. Bahkan Put MK tdk dilaksanakan & arahan Presiden tdk dihargai.”

Isu Konyol: Taliban

Febri mengamati hal-hal yang dianggap menjadi alasan untuk menyingkirkan pegawai terbaik KPK, salah satunya itu tuduhan Taliban. Dan menurutnya, isu itu konyol dan konsisten digunakan sejak 2019 lalu.

Isu itu, kata dia, dikembangkan sedemikian rupa untuk mematikan akal sehat publik. Tak bisa dpungkiri, sejumlah oranglun dilihatnya tertipu dengan isu ini.

“Skrg isu itu diolah lagi.. Tp entah krn apa cap ‘merah’ berubah dari 75 jd 51..”

Isu Selain Taliban

Isu lainnya yang tampaknya menurut dia konyol dan digunakan untuk menyerang Novel Baswedan yang sejak dulu memimpin pembongkaran sejumlah skandal korupsi besar di Indonesia adalah ia diberikan stigma, dituduh dan dihubung-hubungkan dengan Gubernur DKIJakarta.

Padahal, kata Febri, penugasan penanganan kasus merupakan wewenang Pimpinan, Deputi dan Direktur.

“Kt paham, semua isu dpt digunakan, bahkan fitnah & kebohongan akan dijahit sedemikian rupa agar KPK tumbang, hancur dan mati,” katanya, yang seorang aktivis antikorupsi.

Namun hal-hal itu menurutnya tampak biasa dan telah terjadi sebelumnya. Sekarang, ia melihat, bahkan arahan Presiden yang disampaikan secara terbuka tidak dihargai. Diabaikan.

Sehingga menurutnya wajar jika kita bertanya, siapa yang sangat berkepentingan saat ini menyingkirkan 75 pegawai terbaik kPK itu. Atau, lanjut dia, siapa yang sekuat itu bisa mengabaikan arahan Presiden dan tidak melaksanakan Putusan MK secara utuh.

“Apa kepentingan besar ke depan yg sedang disusun?”

Jangan lelah, kata dia, menyaksikan hal yang sedemikian rupa pada KPK. Kita masih harus berjuang dengan sehormat-hormatnya. Dan juga dengan hati gembira, karena kita percaya, pemberantasan korupsi adalah ikhtiar untuk bangsa ini ke depan.

“Saya buat Utas ini sbg kecintaan thd bangsa ini, utk KPK dan hormat yg sungguh thd teman2 #75PegawaiKPK.”

(Rgs/PARADE.ID)

Artikel Mantan Jubir Menduga Ada yang Ingin Menguasai KPK pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Taliban Tewaskan 291 Personel Keamanan Afghanistan Dalam Sepekan https://parade.id/taliban-tewaskan-291-personel-keamanan-afghanistan-dalam-sepekan/ Mon, 22 Jun 2020 11:09:56 +0000 https://parade.id/?p=1144 Kabul (PARADE.ID)- Kelompok militan Taliban dilaporkan menewaskan setidaknya 291 personel keamanan Afghanistan dalam waktu sepekan terakhir. Pejabat tinggi pemerintah Afghanistan, Javid Faisal, mengatakan bahwa sepekan terakhir ini merupakan yang paling mematikan dalam 19 tahun konflik di negeri tersebut. Namun, kelompok Taliban membantah jumlah korban yang disampaikan tersebut. Faisal yang menjabat juru bicara Dewan Keamanan Nasional Afghanistan, mengatakan bahwa Taliban […]

Artikel Taliban Tewaskan 291 Personel Keamanan Afghanistan Dalam Sepekan pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Kabul (PARADE.ID)- Kelompok militan Taliban dilaporkan menewaskan setidaknya 291 personel keamanan Afghanistan dalam waktu sepekan terakhir.

Pejabat tinggi pemerintah Afghanistan, Javid Faisal, mengatakan bahwa sepekan terakhir ini merupakan yang paling mematikan dalam 19 tahun konflik di negeri tersebut. Namun, kelompok Taliban membantah jumlah korban yang disampaikan tersebut.

Faisal yang menjabat juru bicara Dewan Keamanan Nasional Afghanistan, mengatakan bahwa Taliban melakukan 422 serangan di 32 provinsi dalam sepekan terakhir, yang menewaskan 291 personel keamanan dan melukai 550 orang lainnya.

“Komitmen Taliban untuk mengurangi kekerasan tidak ada artinya, dan tindakan mereka tidak sesuai dengan retorika mereka tentang perdamaian,” katanya dalam cuitan di Twitter seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (22/6/2020).

Namun, Taliban menolak angka korban terbaru yang disampaikan pemerintah Afghanistan tersebut.

“Musuh bertujuan untuk merusak proses perdamaian dan pembicaraan intra-Afghanistan dengan mengeluarkan laporan palsu seperti itu,” Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban di Afghanistan, mengatakan kepada AFP.

“Kami memang melakukan beberapa serangan minggu lalu, tetapi itu sebagian besar untuk mempertahankan diri,” imbuhnya.

Kekerasan telah menurun di banyak wilayah Afghanistan sejak Taliban mengumumkan gencatan senjata selama tiga hari pada 24 Mei lalu, untuk menandai liburan Idul Fitri. Namun, para pejabat Afghanistan menuduh militan meningkatkan serangan dalam beberapa pekan terakhir.

Tuduhan terbaru pemerintah ini muncul di saat pemerintah Afghanistan dan Taliban telah mengisyaratkan bahwa mereka semakin dekat untuk meluncurkan perundingan damai yang tertunda.

Presiden Ashraf Ghani telah berjanji untuk menyelesaikan pembebasan tahanan Taliban yang merupakan syarat utama untuk memulai negosiasi damai dengan para pemberontak, yang bertujuan mengakhiri hampir dua dekade perang.

Pihak berwenang Afghanistan telah membebaskan sekitar 3.000 tahanan Taliban, dan berencana untuk membebaskan 2.000 lagi, sebagaimana diatur dalam kesepakatan Taliban dengan Amerika Serikat yang ditandatangani pada Februari lalu.

Taliban telah mengatakan mereka siap untuk pembicaraan damai tetapi hanya setelah pembebasan 2.000 pemberontak yang tersisa.

(detik/PARADE.ID)

Artikel Taliban Tewaskan 291 Personel Keamanan Afghanistan Dalam Sepekan pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>