#TereLiye Arsip - Parade.id https://parade.id/tag/tereliye/ Bersama Kita Satu Fri, 02 Jul 2021 11:56:06 +0000 id hourly 1 https://wordpress.org/?v=6.8.2 https://parade.id/wp-content/uploads/2020/06/cropped-icon_parade-32x32.jpeg #TereLiye Arsip - Parade.id https://parade.id/tag/tereliye/ 32 32 Lip Service https://parade.id/lip-service/ https://parade.id/lip-service/#respond Fri, 02 Jul 2021 11:56:06 +0000 https://parade.id/?p=13552 Jakarta (PARADE.ID)- Kalian tahu core value kementerian BUMN yang fantastis keren itu: AKHLAK. Lihat gambar yg diposting bersama tulisan ini. Keren badai. Istilah ‘akhlak’ itu sendiri sangat mulia. Dicatut dari istilah agama. Harapannya benar2 akan begitu. Tapi sorry, itu cuma lip service doang. Apa bukti lip service doang? Lihatlah, salah satu komisaris yg memposting hendak […]

Artikel Lip Service pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Kalian tahu core value kementerian BUMN yang fantastis keren itu: AKHLAK.

Lihat gambar yg diposting bersama tulisan ini. Keren badai.

Istilah ‘akhlak’ itu sendiri sangat mulia. Dicatut dari istilah agama. Harapannya benar2 akan begitu.

Tapi sorry, itu cuma lip service doang.

Apa bukti lip service doang? Lihatlah, salah satu komisaris yg memposting hendak meludahi bangsat (orang lain) secara terbuka, di medsos apakah dia dipecat? Tidak. Itu perusahaan barusaja mengganti pejabatnya kemarin, orang ini masih dipertahankan. Seolah hendak menunjukkan ke siapapun. Kebal. Terserah kami.

Nah, sekarang mari kita tunggu soal rangkap jabatan Rektor UI. Lagi2, apakah mereka tetap akan menunjukkan ke semua. Kebal. Terserah kami.

Inilah negeri lip service. Yang saat dikritik, bukannya fokus ke substansi, dia malah ribut bahas tata krama. Bahkan dia bisa ribut bahas typo loh, subtansinya dibahas? Tidak mau. Inilah negeri lip service. Yang bahkan jelaaas sekali substansinya, dia tetap bodo amat.

Apakah ber-akhlak orang yang secara terbuka mau meludahi bangsat? Apakah ber-akhlak orang yg jelas ditulis DILARANG rangkap jabatan, dia tetap rangkap jabatan.

Tapi terserah kamu sajalah.

Ini cuma dunia. 10-20 tahun lagi, kamu boleh jadi telah dilupakan. Yg tersisa cuma post power syndrome; orang2 sih sdh tidak peduli lagi sama kamu. Kamu saja yg tetap merasa ‘punya nama’. Bahkan sekarang pun, orang2 sudah malas, orang2 cuma tertawa melihatmu. Anak buahmu, kelompokmu saja yg masih nunduk2.

*Tere Liye, Penulis Novel ‘Negeri Para Bedebah’

Artikel Lip Service pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/lip-service/feed/ 0
Nyanyi di Masjid https://parade.id/nyanyi-di-masjid/ https://parade.id/nyanyi-di-masjid/#respond Tue, 18 May 2021 23:21:18 +0000 https://parade.id/?p=12604 Jakarta (PARADE.ID)- Kejadian Bipang Ambawang seharusnya membuat pejabat manapun lebih hati2. Segala sesuatu yg bisa membuat ribut, hindari. Jika kita tidak paham, maka bertanya dulu, cross check kemana2. Tapi sepertinya, meskipun Bipang Ambawang sudah terjadi, tetap saja tidak kapok2nya. Kali ini giliran pemda DKI yang melakukannya. Lewat akun resmi milik Pemda DKI, mereka memposting paduan […]

Artikel Nyanyi di Masjid pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Kejadian Bipang Ambawang seharusnya membuat pejabat manapun lebih hati2. Segala sesuatu yg bisa membuat ribut, hindari. Jika kita tidak paham, maka bertanya dulu, cross check kemana2. Tapi sepertinya, meskipun Bipang Ambawang sudah terjadi, tetap saja tidak kapok2nya.

Kali ini giliran pemda DKI yang melakukannya. Lewat akun resmi milik Pemda DKI, mereka memposting paduan suara di masjid Istiqlal dalam rangka menyambut lebaran. Niatnya sih baik. Samalah kayak Bipang Ambawang, baik niatnya. Percaya. Tapi seriusan, kamu tidak tahu bagi sebagian besar muslim, bernyanyi di masjid itu termasuk dilarang?

Masa’ masjid kamu jadikann tempat nyanyi2, paduan suara? Bahkan kalaupun hanya jadi latar video, itu sensitif sekali. Yes. Tahu, niatnya baik, dalam rangka menyambut lebaran. Biar meriah. Ramai. Tapi itu berlebihan. Sama kayak promo babi panggang pas libur lebaran, itu baiiik banget niatnya. Karena bukan cuma umat Islam yg liburan pas lebaran. Tapi ayolah, sensitif sedikit.

Video2 ini sudah dihapus dari akun medsos Pemda DKI. Pejabatnya sudah minta maaf. Maka semoga yang tersisa adalah: yuks mari tingkatkan sedikit literasi kita dalam banyak hal.

Ketahuilah, saat literasi kita memadai. Pengetahuan kita luas, maka kita bisa lebih sensitif, lebih bersimpati, lebih berempati ke orang lain. Karena duuuh, hidup ini bukan sekadar niat baik saja. Hidup ini juga tentang toleransi, menjaga perasaan orang lain. Apalagi hal2 yg sangat sensitif.

Tapi kan, tapi kan di tempat lain boleh saja tuh mau pesta2, joget2, nyanyi2 di rumah ibadah. Duuh, dik, saat nyepi di Bali, kamu dilarang total berisik. Dan itu final. End discussion. Kalau kamu memang hobi mengkritisi ritual dan keyakinan agama lain, maka apapun akan jadi masalah bagi kamu. Karena bagi kamu, agama sendiri pun kamu phobia.

Mulailah saling memahami, bukan saling mengkritisi ritual agama.

Termasuk pahamilah: kita bisa tetap bernyanyi dengan latar Monas, Ancol, dan ribuan spot lainnya dalam rangka memeriahkan lebaran Idul Fitri. Termasuk bisa mempromosikan pempek palembang, siomay Bandung, dan ribuan makanan lainnya dalam rangka libur lebaran.

*Tere Liye, Penulis Novel ‘Selamat Tinggal’

Artikel Nyanyi di Masjid pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/nyanyi-di-masjid/feed/ 0
Dunia Influencer https://parade.id/dunia-influencer/ https://parade.id/dunia-influencer/#respond Tue, 01 Sep 2020 05:32:04 +0000 https://parade.id/?p=6519 Jakarta (PARADE.ID)- Bagaimana sih mengumumkan ke seluruh dunia kalau kita itu hebat sekali? Mudah jawabannya: dengan prestasi. Sekali prestasi kita memang mentereng, wah, nggak perlu nyuruh siapapun ngomonginnya, mereka telah ramai2 ngomongin. Pemain bola, mentereng dgn level permainannya di lapangan. Pengusaha, terkenal dengan kesuksesan nyata, perusahaannya banyak, real, nyata. Dokter, terkenal dengan prestasi menyembuhkan pasiennya. […]

Artikel Dunia Influencer pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Bagaimana sih mengumumkan ke seluruh dunia kalau kita itu hebat sekali? Mudah jawabannya: dengan prestasi. Sekali prestasi kita memang mentereng, wah, nggak perlu nyuruh siapapun ngomonginnya, mereka telah ramai2 ngomongin.

Pemain bola, mentereng dgn level permainannya di lapangan. Pengusaha, terkenal dengan kesuksesan nyata, perusahaannya banyak, real, nyata. Dokter, terkenal dengan prestasi menyembuhkan pasiennya. Pekerja kreatif, terkenal dengan karya2nya yang dinikmati banyak orang. Dsbgnya, dstnya.

Ini logika sederhana sekali.

Tapi apa yang terjadi saat seseorang tidak punya prestasi tapi pengin terkenal, dianggap hebat?

Mulailah drama sensasi, heboh, settingan, dan segala hal yang tidak ada hubungannya dengan karya, kualitas, apalagi nilai tambah. Nol, alias zong saja. Yang penting rame. Dan orang lain menganggapnya berprestasi. Padahal kalau dilihat lagi, ada karyanya? Nggak ada.

Kalau ini dilakukan oleh orang, silahkan saja, maklumin sajalah. Namanya dunia akhir jaman. Toh, minimal dia tidak pakai uang orang lain. Bebas saja.

Tapi masalahnya, duuh, Gusti, metode ini juga dilakukan oleh orang2 di lembaga yang jelas2 dibiayai oleh rakyat banyak. Karena pengin dianggap sukses, berhasil, berprestasi, pejabat lembaga ini meniru gaya settingan tsb. Dengan cara apa? Membayar ‘influencer’. Mulailah mereka membuat settingan seolah berprestasi sekali.

Dulu, saat internet belum ada, orang2 ini nebeng di baliho, spanduk yang dipajang di pinggir jalan. Ada sosialisasi KB, eh wajah dia nongol. Ada sosialisasi Repelita, eh wajah dia nongol. Juga di selebaran, paket2 sembako, nyelip wajahnya di sana. Padahal duit dia juga bukan, itu pakai duit rakyat. Sekarang sih masih, lihatlah, banyak dimana2. Kasihan lihatnya, dia mungkin takut orang2 lupa siapa pejabat, bupati, walikota atau menteri, gubernur. Maklum sih, karena zong prestasi, rakyat memang sering lupa sama pejabatnya.

Saat dunia internet datang, media sosial ada, trik ini mengalami modifikasi. Membayar ‘influencer’ untuk jadi corong betapa sukses dan berprestasinya kinerja mereka. Nggak usah pura2 bodo lah, di twitter gampang lihat kerja orang2 ini. Juga di media sosial lainnya. Belum lagi berita2 yang dikasih tanda ‘adv’ atau ‘iklan’.

Separuh mau ketawa lihatnya, separuh sungguh sedih. Ya amplop, mereka lupa jika cara terbaik mengumumkan prestasi kita itu lewat: prestasi itu sendiri. Bekerja sebaik mungkin. Bekerja profesional, sungguh2, lantas hasil nyata-nya muncul. Tidak perlu bayar siapapun, rakyat akan bersorak memujinya. Sayangnya, cara berpikir orang2 ini terbalik.

Maka itulah yang terjadi. Mereka bersorak lewat influencer seolah semua hebat, brilian, saat situasi sedang buruk sekali. Ada lembaga yang bersorak lewat influencer seolah aparat penegak hukum sedang top banget prestasinya, tapi kenyataannya bumi langit. Ada yg bersorak di internet semua lancar, semua hepi, tapi kenyataannya orang banyak sedang kesal. Dsbgnya, dstnya. Dan sorakan itu semua bayar. Puluhan milyar.

Uang siapa? Rakyat.

Adik2 sekalian, jika besok lusa kalian jadi pejabat, semoga kalian tidak begini. Percayalah, cara terbaik agar kita itu dianggap sukses, berprestasi, adalah dengan prestasi itu sendiri. Cara terbaik mensosialisasikan sesuatu, adalah dengan teladan dari kalian.

Dan itupun tidak menjamin semua orang akan mengakuinya, tetap akan ada yang tidak suka. Apalagi saat kalian sudah tak berprestasi, eh sibuk pencitraan segala, sibuk memastikan anak, mantu, cucu, keluarga kalian jadi pejabat, lebih banyak lagi yang tidak suka. Tapi nasib memang, negeri ini masih butuh waktu panjang mendidik literasi politik rakyatnya. Agar tidak termakan strategi ‘influencer’.

Semoga generasi kalian mau merubah banyak hal. Sungguh kita tidak perlu membayar agar orang lain bersorak utk kita. Dan kita juga tidak perlu membayar orang lain untuk menangis di proses pemakaman. Kasihan memang. Bahkan untuk terlihat banyak yg sedih, banyak yg peduli, juru tangis pun harus dibayar.

*Novelis, Tere Liye

Artikel Dunia Influencer pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/dunia-influencer/feed/ 0
Menurun https://parade.id/menurun/ https://parade.id/menurun/#respond Thu, 06 Aug 2020 08:35:55 +0000 https://parade.id/?p=5405 Jakarta (PARADE.ID)- Infografis ini dibuat oleh BPS. Perhatikan dengan seksama. Jangan bertengkar. Fokus saja dengan memperhatikan grafik. Angka2 ini dikeluarkan oleh lembaga negara, resmi. BPS. Adalah fakta, pertumbuhan ekonomi kita itu sejak awal 2019, hingga akhir 2019, terus turun, menyentuh angka 4%. Bahkan sebelum krisis pandemi, sudah begitu. Jangan dibalik argumennya. Nanti krisis ini jadi […]

Artikel Menurun pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Infografis ini dibuat oleh BPS.

Perhatikan dengan seksama. Jangan bertengkar. Fokus saja dengan memperhatikan grafik. Angka2 ini dikeluarkan oleh lembaga negara, resmi. BPS.

Adalah fakta, pertumbuhan ekonomi kita itu sejak awal 2019, hingga akhir 2019, terus turun, menyentuh angka 4%. Bahkan sebelum krisis pandemi, sudah begitu. Jangan dibalik argumennya. Nanti krisis ini jadi pembenaran.

Meski ini cuma angka2, tapi itu sebenarnya pesan yang jelas sekali: kita itu tidak kemana2, dan begitu2 saja, malah terus menurun. Ternyata, tidak se-spesial itu toh? Sama saja. Bahkan lebih rendah.

Maka semoga, pemerintahan sekarang mau bercermin. Minimal ayolah, lihat angka2 ini. Lantas melakukan sesuatu. Yang benar2 kongkrit. Ayolah, bekerja sedikit jenius. Bukan cuma kerja, kerja, kerja. Itu tugas kalian, sudah diberi gaji toh? Saya tahu, jadi pemerintah itu tidak mudah, tapi ssst, bukankah kalian sendiri dulu yang berebut? Menjanjikan banyak hal? Saking penginnya berkuasa, lihat, anak, menantu, keluarga, semua pengin berkuasa.

Ternyata, tidak mudah toh? Tidak semudah janji2 kalian saat minta dipilih. Dan jangan lupa satu lagi, dengan situasi yang terus menurun, utang negara ini telah membengkak dua kali lipat lebih.

Rileks, buat kalian yang mau ngamuk2 baca postingan ini, ketahuilah, meski saya nyinyir dengan pemerintahan, sy ini peduli dengan negara ini. Sebagai penulis, saya tetap produktif merilis buku sekacau apapun ekonominya, sekacau apapun perlindungan hukum atas buku2 saya yang dibajak. Tahun 2020 ini sy sudah merilis 2 buku, menyusul 7 lainnya jika lancar proses produksinya.

Dengan sy terus merilis buku, maka konsumsi masyarakat atas buku2 Tere Liye minimal bisa dijaga. Itu jelas kontribusi ke GDP negara (meski hanya nol koma nol nol nol nol nol sekian). Dan lebih penting lagi, pajak atas buku2 ini terus bisa ditarik oleh pemerintah. Misal, angkanya sekian milyar, lumayan sekali buat pemasukan negara.

Tidak apalah, meski jutaan buku2 BAJAKAN saya dijual bebasnya di Tokopedia, Shopee, Lazada, Bukalapak, pameran2, stand buku, toko2 buku fisik di seluruh negeri ini. Mau gimana lagi, berharap ke penegak hukum di negeri ini? Itu sih ngimpi. Jadi lebih baik tetap produktif. Syukur2, besok2 pembaca sendiri yg sadar, dan berhenti beli bajakan.

Ayo, buat yang mau ngamuk2 tidak terima postingan ini, juga buat yg mau maki2 ke negara, mari fokus produktif. Kita bantu negara ini. Mau setan, mau malaikat yg jadi pemerintahannya, nasib negara ini tetap tergantung ke kita. Tetap bekerja dgn giat, tetap produktif, itu semua berkontribusi ke angka GDP. Dengan produktif, penghasilan kita semoga tetap terjaga, konsumsi kita terjaga, GDP ikut oke punya.

Terakhir,

Buatlah di selembar kertas. Bikin dua kolom. Di kolom kiri tuliskan: ‘berapa uang yg saya berikan ke negara ini, pajak, dll’, di kolom kanan tuliskan: ‘berapa uang yang diberikan negara ke saya, gaji, tantiem, bansos, dll’. Sungguh, bahkan jika kalian hanya pedagang bakso, pedagang cilok, jika kolom kiri kalian lebih besar dibanding kolom kanan, itu sebuah prestasi keren. Bukan sebaliknya, jabatannya hebat sekali, kemana2 naik pesawat kelas bisnis, nginap di hotel bintang 5, dikawal, tapi pas lihat perbandingan dua kolom ini. What? Hasilnya kok minus?

*Novelis, Tere Liye

Artikel Menurun pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/menurun/feed/ 0
Jurus Primitif https://parade.id/jurus-primitif/ https://parade.id/jurus-primitif/#respond Thu, 06 Aug 2020 06:35:04 +0000 https://parade.id/?p=5403 Jakarta (PARADE.ID)- GDP (gross domestic product) atau dalam bahasa Indonesia-nya PDB (produk domestik bruto), bisa dihitung dari total 5 hal berikut: 1. Konsumsi rumah tangga. Jadi seluruh konsumsi kita (rumah tangga) ditotalkan, beli beras, beli mie, beli galon, gas, buku kuota internet, halan-halan, obat enteng jodoh, obat anti jomblo, skin care biar cakep pas selfie, […]

Artikel Jurus Primitif pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- GDP (gross domestic product) atau dalam bahasa Indonesia-nya PDB (produk domestik bruto), bisa dihitung dari total 5 hal berikut:

1. Konsumsi rumah tangga.

Jadi seluruh konsumsi kita (rumah tangga) ditotalkan, beli beras, beli mie, beli galon, gas, buku kuota internet, halan-halan, obat enteng jodoh, obat anti jomblo, skin care biar cakep pas selfie, dsbgnya, ditotalkan semua. Semakin banyak konsumsi rumah tangga, semakin tinggi nilai PDB-nya. Catat baik2, PDB Indonesia itu 50% lebih disumbang dari konsumsi rumah tangga. Artinya, jika angkanya jelek, maka dampaknya besar sekali.

2. Konsumsi LNPRT

Konsumsi Lembaga Non Profit yang melayani Rumah Tangga. Ini adalah lembaga2 kayak yayasan, sosial dan sejenisnya. Dihitung juga konsumsi mereka berapa. Kecil kontribusinya, hanya 1-2%. Tapi tetap harus dihitung. Termasuk kalau kamu punya ‘Yayasan Jomblo Setia’, itu bisa dihitung konsumsinya (asumsi ada loh ya). Kalau cuma buat kumpul2 curhat, tidak masuk.

3. Konsumsi pemerintah

Ini jelas, segala yang dibelanjakan oleh pemerintah. Masuk ke sini semua angkanya. Termasuk belanja militer. Kontribusinya ke PDB kita sekitar 6-8%.

4. PMTB alias Pembentukan Modal Tetap Bruto

Adalah belanja modal, dkk. Yang umur pemakaiannya lebih dari satu tahun, dan tidak utk konsumsi. Pabrik, mesin2, peralatan, kendaraan produksi, dsbgnya, masuk ke sini. Termasuk cultivated biological resource (CBR), serta produk kekayaan intelektual. Kontribusi bagian ini besar, bisa 30-40%.

5. Terakhir, selisih Ekspor dan Impor.

Kalau ekspor lebih besar dibanding impor, maka kontribusinya positif ke PDB. Tapi kalau ternyata impor kita lebih banyak, maka kontribusinya negatif. Termasuk ekspor-impor jasa.

Nah, 5 komponen ini kemudian ditotalkan. Bravo! Dapat berapa PDB Indonesia. Per Juni 2020, PDB kita sebesar: Rp 3.687.700.000.000.000. Alias Rp 3.687 trilyun. Banyak? Tergantung. Kalau dibandingin PDB Amerika atau China sih kecil, hanya 1/20 saja. Tapi kalau kita bandingin PDB negara Timor Leste, gedean kita.

Ahya, sebagai informasi tambahan, 60% PDB kita itu bersumber dari Pulau Jawa. Sumatera 21%, sisanya kecil2 di Kalimantan, Sulawesi, Papua, Maluku, Bali, NTB, NTT, dll.

Tiap tiga bulan, PDB ini dihitung. Siapa yang ngitung? BPS. Pusing ngitungnya? Iyalah. Jelimet, satu-persatu, kecil2, dihituuung. Ada satu anak yg ngaco ngasih rumus, bum! salah angkanya. Anak ini dipecat, bikin malu saja. Eh, becanda ding. Tentu mereka check and re-check, berkali2. Divalidasi, dll. Saya tahu2 dikitlah kerjaan BPS ini. Saya tiga kali lebih ngisi acara di kampus STIS. Lihat mahasiswa2nya, wajah saya ikutan terlipat2, angka semua soalnya. Di sini semua mahasiswanya serius. Mereka ngobrol dengan angka2. Eh, becanda lagi ding. Mereka ini baik2 semua, insya Allah, akan jadi aparat pemerintah yg amanah. Mengawal data2 ini dengan baik.

Baik, balik lagi ke soal PDB.

BPS baru saja merilis data PDB kuartal 2, tahun 2020. Untuk pertama kalinya, setelah 20 tahun lebih, pertumbuhan PDB kita minus 5%. Tentu ini salah corona, pandemi. Terlepas dari fakta sejak triwulan 2 2018 memang terus turun, biang masalah ini jadi minus 5% adalah virus corona. Kalau tidak ada virus corona, mungkin malah jadi 7-8%. Meroket. Eh? Sorry, bablas.

Baik, baik, mari fokus lagi.

Bagaimana biar PDB kita tidak minus lagi? Itu yang sedang dilakukan pemerintah. Ada jurus pamungkas mereka. Apa? Coba perhatikan, Konsumsi rumah tangga menyumbang 50% lebih. Itu artinya, mari dongkrak habis2an konsumsi RT tsb. Ngarepin ekspor? Ngimpi. Ngarepin PMTB? lagi normal saja susah, apalagi pandemi.

Konsumsi rumah tangga adalah jalan ninja kita.

Satu, gelontorkan bantuan sosial ke rakyat. 10-20 trilyun misalnya. Bungkus. Dua, gaji ke-13 PNS cairkan, 30 trilyun, misalnya lagi. Tiga, bantu penduduk dgn penghasilan di bawah 5 juta, 20-30 trilyun misalnya berikutnya. Kasih kartu pra kerja buat korban PHK, lagi2, 20 trilyun gelontorkan.

Saat uang puluhan trilyun ini menyebar ke seluruh rakyat, asumsinya mereka akan belanja. Konsumsi rumah tangga naik lagi. Roda perekonomian naik. Masuk akal.

Tapi jurus ini sebenarnya ‘primitif’. Sorry. Tidak ada spesialnya. Kalau cuma begitu doang, percuma debat ekonomi saat setiap pilpres. Ujung2nya cuma begitu. Sejak dulu, iniii saja solusinya pas krisis. Lagian, menggelontorkan uang banyak tsb, dari mana coba uangnya? Utang. Itu bukan duit pejabat negara. Itu utang yang besok2 dibayar oleh anak cucu.

Lantas, kalau begitu, apa dong jurusnya? Elu Tere Liye, cuma bisa kritik doang, tapi nggak ngasih solusi. Lu kira jadi pemerintah itu mudah? Coba kasih solusi?

Nasib memang. Saya itu, sudah bayar pajak (banyak loh pajaknya), sudah gitu jutaan buku saya dibajak (banyak loh buku bajakan ini), eh, setiap kali bahas beginian, tetap disuruh mikir pula coba sama netizen? Sementara idola mereka, yg rebutan jadi pejabat, saking pengennya, anak, mantu, keluarga juga ikutan. Idola mereka, yg kemana2 naik pesawat dibayarin negara, dikasih gaji, hotel bintang, dll, mereka ini MIKIR nggak?

Baiklah, kalau kalian mau jawabannya, ijinkan saya kasih sebuah ilustrasi.

Persis pandemi terjadi awal 2020, semua penjualan buku tumbang 80%. Hancur lebur. Bahkan ada yang sampai 99,99%, alias zong, laku 100 saja sudah bagus, numpuk di toko. Saya kena krisis ini, tapi bagaimana solusinya buat saya? Simpel: tetap produktif. ‘Paksa’ orang lain tetap belanja dengan merilis novel2 yg mereka pengen banget baca. Selena+Nebula dirilis Maret 2020. September nanti, saya akan merilis ‘Selamat Tinggal’. dan akhir 2020, jika semua lancar, sy akan merilis 6 buku lain. Habis2an. Gelontorkan produk di sana. Belum lagi sy merilis ebook2 di Google Play Books, seru ini. Meski banyak pembajak, banyak ebook ilegal, saya akan bertarung menghadapinya di dunia maya. Page ini lebih gencar lagi menyerang pembajak dan pembeli produk bajakan.

Begitulah cara menggerakan ekonomi menurut saya. Dengan tetap produktif. Kalahkan krisisnya dengan tangguh, gagah. Bukan malah bagiin duit kemana2. Jangan keliru, kita bilang kena krisis, banyak loh yang justeru ‘menikmati’ krisis ini dengan kreatifitas. Mereka malah untung, melesat maju saat orang2 lain buntu.

Itu yang tidak pernah terlihat di negeri ini. Berpikir kreatif. Sorry. Saat ekspor migas kita turun misalnya, mikir dong, saatnya kita ekspor karya. Mari kita ubah, bukan lagi jual minyak, kelapa sawit, dll. Mari jual film misalnya. Aduh, kalian kira jualan film itu remeh? Film Avatar, Avenger, laku 2,7 milyar dollar, alias 40 trilyun. Dua film ini totalnya 80 trilyun. Cukup 120 film model begini, lunas hutang negeri ini.

Dalam pandemi ini, ayolah, jenius sedikit mikirnya. Menteri banyak, staf presiden banyak, suruh semua mikir. Bukan cuma mikirin platform prakerja. Melainkan mikir untuk menggerakkan rakyat produktif menciptakan produk/jasa yang bisa laku di dunia. Cari terobosan. Biar kita ini semua meroket betulan.

Kami mah, rakyat kecil, sepanjang bayar pajak, tertib bayar BPJS, dll, sudah genap tugasnya. Kalian yang di atas sana, mikir dong. Giliran jadi pejabat, bukannya rebutan? Waktu disuruh mikir, kenapa malah lempar ke rakyat kecil?

Atau sejatinya. Sungguh, ternyata ini sama saja. Tidak ada yang spesial. Setiap kali lima tahun berlalu. Setiap 10 tahun berlalu. Tidak se-spesial yang dia kira.

*Tere Liye, Penuli Novel “Negeri Para Bedebah”

**kalau ada yg salah2 di tulisan ini, harap dimaafkan. sy dulu waktu kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, bukanlah mahasiswa yang pandai.

Artikel Jurus Primitif pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/jurus-primitif/feed/ 0
Belajarlah https://parade.id/belajarlah/ https://parade.id/belajarlah/#respond Tue, 04 Aug 2020 11:25:27 +0000 https://parade.id/?p=5273 Jakarta (PARADE.ID)- Perintah saling menasihati itu ada di agama. Jika kamu Islam, maka itu ada di kitab suci, Alquran. Maka, jika hari ini, ada nasihat, lantas netizen malah bilang: ‘Dasar tukang nyinyir.” Sejatinya, dia sedang bilang ‘Dasar agama Islam tukang nyinyir.’ Atau ketika ada nasihat, lantas netizen komen: ‘Elu ini nyinyir banget.’ Sejatinya, dia sedang […]

Artikel Belajarlah pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Perintah saling menasihati itu ada di agama. Jika kamu Islam, maka itu ada di kitab suci, Alquran.

Maka, jika hari ini, ada nasihat, lantas netizen malah bilang: ‘Dasar tukang nyinyir.” Sejatinya, dia sedang bilang ‘Dasar agama Islam tukang nyinyir.’ Atau ketika ada nasihat, lantas netizen komen: ‘Elu ini nyinyir banget.’ Sejatinya, dia sedang bilang, ‘nabi Muhammad adalah orang paling nyinyir sedunia’, karena nabi adalah pembawa risalah tsb. Nabi loh yg membawa risalah saling menasihati.

Kacaunya netizen nyolot ini tidak tahu, jika dia sejak SD, bahkan TK, diajarkan ayat2 tentang saling menasihati ini. Dimana? Coba ingat, waktu kita disuruh ramai2 baca: wal-‘aṣr, innal-insāna lafī khusr, illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr.

Sayup2 suara anak ramai2 membaca surat ini. Terdengar hingga lapangan, jalanan.

Nah, kenapa netizen sekarang kesal sekali menerima nasihat?

Simpel: karena kita tidak mengenal agama sendiri. Lah, gimana mau kenal, tiap hari cuma sibuuuk melototin layar HP. Lihat baju bagus, lihat orang lagi liburan dimana, pesawat mewah, hotel mewah, dan semua dunia lainnya. Sibuuk menghabiskan waktu nonton hal2 yg entah apa manfaatnya.

Kita sih mau nerima nasihat, kalau itu cocok untuk kita. Wah, pas itu cocok, kita suka banget. Apalagi jika itu bisa digunakan utk nyindir orang lain (mungkin). Atau untuk caption akun medsos foto pamer, postingan akun medsos apalah. Wah, kita bergegas suka. Tapi saat nasihat itu telak menghantam kedunguan, kegoblokan, kita pasti marah.

Sebentar, kalian pasti tidak terima kosakata dungu, goblok?

Lagi2, ehem, netizen hari ini tidak kenal agamanya sendiri. Buka kitab suci kalian, Al Qu’ran, kosakata ‘bodoh’ digunakan di sana berkali2. Konteksnya apa? Merujuk ke orang2 yang menolak kebenaran. Mereka akan sibuk komen, “Kasar banget sih ini.” Wow, dia tidak tahu, Al Qur’an bahkan menyamakan orang dengan binatang ternak, saat orang itu bebal sekali. Jadi Alquran adalah biangnya kasar? Maksud kalian begitu? Ayo, berani nggak bilang itu?

Kalian tahu tidak? Saat kita tidak kenal dengan agama sendiri, kita bisa melanggar sesuatu yang jahat sekali. Misal, suka bergunjing. Ketahuilah: hukum bergunjing, membicarakan aib orang lain itu, bagai memakan bangkai mayat saudara sendiri. Fantastis, netizen sibuk melototin kehidupan artis, selebritis, tokoh2. Kawin-cerai, berita2 penuh aib, dia pelototin. Dia baca, suka sekali, scrol2. Tahu hukumnya dalam agama? Bagai memakan bangkai mayat.

Kita sih merasa kenal sekali dgn agama sendiri, mengaku sering ibadah, dll. Tapi ssst, masih suka bergunjing nggak? Masih suka membaca berita2 aib orang lain? Ini saking kacaunya, nasihat jangan pamer dia bilang nyinyir, ghibah. Eh, pas giliran ngikutin berita artis dia bilang bagus, oke punya. Seriusan? Definisi kamu terbalik sekali.

Dan lebih menarik lagi, kembali lagi ke topik utama tulisan ini, ssst, kita sudah tahu belum, kalau saling menasihati adalah perintah agama? Nah, jika kita memang tidak suka dengan sebuah nasihat, mending unlike, unfollow, unfriend, pergi saja. Diam adalah jalan ninja terbaik. Tidak perlu komen penuh drama, heboh sendiri, lebay; hanya untuk menunjukkan betapa tersinggungnya, sekaligus betapa benarnya nasihat tsb.

Baiklah, mari kita murojaah surah ini, dibaca yang kencang bareng2:

wal-‘aṣr, innal-insāna lafī khusr, illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr.

Yak, Agus, Putri, perhatikan waqaf-nya, diulang sekali lagi….

*Novelis, Tere Liye

Artikel Belajarlah pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/belajarlah/feed/ 0
Masker https://parade.id/masker/ https://parade.id/masker/#respond Wed, 29 Jul 2020 14:48:48 +0000 https://parade.id/?p=4979 Jakarta (PARADE.ID)- Saya terus-terang saja, tidak suka pakai masker. Itu bikin repot, toh saya juga sehat2 saja. Ngapain pakai masker? Dulu, sy bahkan posting tulisan di page ini tentang: yg sakit sajalah pakai masker. Jangan yang sehat disuruh juga. Kalian bisa keduk tulisan2 itu, sebagai buktinya. Masalahnya, dengan situasi terkini, orang2 mulai pakai masker, dan […]

Artikel Masker pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Saya terus-terang saja, tidak suka pakai masker. Itu bikin repot, toh saya juga sehat2 saja. Ngapain pakai masker? Dulu, sy bahkan posting tulisan di page ini tentang: yg sakit sajalah pakai masker. Jangan yang sehat disuruh juga. Kalian bisa keduk tulisan2 itu, sebagai buktinya.

Masalahnya, dengan situasi terkini, orang2 mulai pakai masker, dan kita disuruh untuk pakai masker. Kenapa disuruh? Ada argumennya: boleh jadi, tanpa kita sadari, kita itu membawa virus (tanpa gejala). Bukan cuma corona, mungkin virus lain, termasuk virus bokek, virus bebal, eh, maaf jadi ngelantur. Kan kasihan, gara2 kita orang lain tertular.

Wah, setelah dipikir2, masuk akal juga alasannya ini. Maka baiklah, saya mengalah pakai masker. Meskipun saya tetap ngomel dalam hati, kesal, marah, tapi minimal sy menghormati kelompok yang pakai masker dan menyuruh pakai. Itu namanya toleransi, toleran terhadap pendapat orang lain.

Lagian tenang saja, pakai masker itu tidak harus 24 jam. Di rumah, tidak perlu pakai. Lagi tidur, tidak perlu pakai. Sendirian, di lapangan luas, atau tempat terbuka, juga tidak mendesak pakai. Kapan sih masker itu penting? Saat di tempat publik, tertutup, dan bertemu dengan orang lain, dengan jarak kurang dari dua meter. Di luar itu, tidak harus pakai masker.

Tetap boleh kerja? Boleh. Silahkan berangkat. Tapi pakai masker, sering cuci tangan, social distancing. Tetap buka toko, dll? Boleh. Tapi patuhi protokol kesehatan. Ini sudah boleh semua loh? Cari uang boleh, ke rumah ibadah boleh, dll boleh sepanjang patuhi protokol kesehatan. Paling hanya sekolah saja yang masih dari rumah. Kok belum boleh sekolah? Lagi2 ada alasannya, kasihan anak2 kita. Rentan sakit. Nggak ada pandemi saja anak2 kita sering ingusan, srot-srot, dsbgnya. Masuk akal juga. Tapi kok kuliah belum boleh? Mereka kan bukan anak2. Kasihaaan, mahasiswa2 ini jomblo2, nanti sakit siapa yang bakal ngirim pesan ‘cepet sembuh beb’. Lagian, kasihan, mahasiswa2 ini sebenarnya juga suka libur panjang. Eh, bergurau saja.

Saya benci loh pakai masker itu. Lagi lari pagi, misalnya, aduh, pakai masker itu bikin larinya nggak asyik. Tapi baiklah, mengalah, saat saya harus melintasi gang2, trotoar atau tempat2 ramai penduduk, maka wajib pasang masker. Tapi kalau di rute lari yang sepi, jarak orang lain lebih dari dua meter, tidak mendesak pakai masker.

Kedewasan kita dalam situasi pandemi begini sangat penting. Mengalah. Bukan sebaliknya, menantang, bandel, dan show off kekuatan. Apalagi urusan masker ini, aduh, itu tuh sederhana sekali. Bisa pakai masker kain, bisa dicuci, dipakai lagi. Murah, harganya cuma 5.000-an. Cuma disuruh pakai masker, kita tidak diminta memindahkan gunung. Kalaupun memang corona ini hoax, konspirasi, lebay, percayalah: pakai masker itu tetap ada manfaatnya. Minimal ‘memaksa’ kita untuk menjaga kebersihan dan kesehatan.

Saya benci pakai masker. Bahkan sebelum pandemi corona ini tiba di Indonesia, sebelum ada penderita corona di negeri ini, sy sudah menuliskannya. Tapi benci bukan berarti harus mengotot memaksakan pendapat kita ke orang lain.

Bukan berarti sy bijak, bukaaan. Melainkan sy merujuk sebuah cerita. Di agama saya, ada cerita menarik. Saat seorang imam, sukarela qunut (padahal dia berpendapat qunut itu tidak harus). Imam ini sukarela dan dengan senang hati melakukannya, demi menghormati pendapat setempat yang sebaliknya. Sy hanya meneladani cerita itu.

*Novelis, Tere Liye

Artikel Masker pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/masker/feed/ 0
Buku Bekas https://parade.id/buku-bekas/ https://parade.id/buku-bekas/#respond Mon, 27 Jul 2020 10:49:54 +0000 https://parade.id/?p=4848 Jakarta (PARADE.ID)- Saya sungguh menghormati, menyayangi, para pemburu buku bekas. Juga penjual buku bekas. Waktu saya masih SD, majalah2 bekas adalah solusi nyata dari keinginan sy membaca. Saya butuh bacaan, tidak mungkin terbeli yang baru, maka solusinya, majalah2 bekas. Beli di kota kabupaten, jauh dari kampung saya. Berkelok jalannya, baru sampai di kota tsb. Selalu […]

Artikel Buku Bekas pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Saya sungguh menghormati, menyayangi, para pemburu buku bekas. Juga penjual buku bekas.

Waktu saya masih SD, majalah2 bekas adalah solusi nyata dari keinginan sy membaca. Saya butuh bacaan, tidak mungkin terbeli yang baru, maka solusinya, majalah2 bekas. Beli di kota kabupaten, jauh dari kampung saya. Berkelok jalannya, baru sampai di kota tsb. Selalu ada cara jika kita ingin membaca, dan itu solusi yang terhormat, legal.

Membeli buku bekas jelas sekali terhormat dan legal. Bahkan hari ini, dengan 40 buku yang saya tulis, duuh, saya masih suka buku bekas. Mengumpulkan koleksi album donal bebek, lucky luke, dll. Buku bekas. Harganya pun murah, ada yang 3.000 per buku. Crazy.

Kalian tahu, mekanisme buku bekas ini, bisa jadi sangat menakjubkan jika seluruh orang di dunia mau melakukannya. Ada yang suka baca buku serial Tin Tin misalnya. Saat dia dewasa, sibuk kerja, dia jarang menjenguk koleksinya ini, daripada hanya berdebu di lemari, atau mendekam dalam kardus, mending jual ke pemborong buku bekas, lantas koleksi Tin Tin ini diwariskan lagi, diwariskan lagi, dan seterusnya. Itu buku bisa bermanfaat bagi banyak orang, dan terus memberikan nilai ekonomis bagi pembeli dan penjualnya. Daripada jadi pembungkus kertas atau malah rusak sia-sia.

Pemilik toko buku bekas, adalah orang2 yang sangat berjasa menumbuhkan minat baca. Dan mereka legal. Sah. Karena bukunya tetap satu, tidak bertambah. Jangan keliru, ada banyak sekali buku bekas yang kualitasnya masih bagus. Karena sebekas-bekasnya sebuah buku, jika itu original, kualitasnya tetap lebih baik dibanding bajakan. Dan harganya juga murah.

Nah, jika kalian mau, belilah buku bekas. Itu legal. Bukan membeli buku bajakan yang kualitasnya jelek, tintanya bau. Beracun. Juga jangan membeli ebook ilegal di Tokopedia, Bukalapak, Lazada, Shopee, dkk. Ini kok bego kebangetan. Ebook itu bisa dibaca di perpustakaan online resmi seperti ipusnas. Juga perpustakaan resmi di daerah2, bahkan dari aplikasi perpustakaan luar negeri. Cari aplikasi resmi legalnya. Download, bisa baca gratis. Bukan malah beli ebook ilegal. Ada yg gratis ebooknya, eh dia beli bajakan di Tokopedia, dkk.

Ingatlah. Jika kalian ingin baca, banyak banget solusinya. Dan itu adalah solusi yang sehat. Kenapa buku bajakan itu jahat? Karena mereka menggandakan buku tersebut, tanpa sepeser pun bayar pajak, royalti. Buku bekas beda. Bukunya tetap satu. Dan atas buku yang satu itu, telah bayar pajak dan royalti kepada penulis. Kenapa ebook ilegal itu jahat? Lagi2, karena dia menggandakan ebooknya tanpa ijin. Enak banget dia copy paste. Sementara ebook legal yang dijual di Google Play Books, atau kalian akses ebook di perpustakaan yg gratis, jumlah file-nya tetap sama, tidak digandakan. Hanya gantian bacanya. Antri.

Percayalah, jika kalian mau membaca, selalu ada jalan.

Sungguh keren orang2 yang membeli buku bekas. Juga toko2 yang kerja keras menampung, mengumpulkan buku2 bekas, lantas kemudian menjualnya. Para pemilik dan penjual buku bekas ini, spesial sekali. Mereka tidak tergoda ikutan jual bajakan. Mereka teguh menjaga kemuliaan rezekinya.

Dan ngapain pula malu, keberatan beli buku bekas? Sepanjang original, sepanjang itu asli, sah, maka tetap saja itu ‘buku baru’. Bukan hasil mencuri seperti saat membeli buku bajakan atau ebook ilegal.

*Jika kalian ingin membeli buku, selalu tanyakan ke penjualnya, itu original atau bukan. kalau penjualnya tdk mau menjawab, atau marah ditanya begitu, lupakan saja dia, cari di toko lain.

**Tere Liye, Novelis

Artikel Buku Bekas pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/buku-bekas/feed/ 0
Tukang Boong https://parade.id/tukang-boong/ https://parade.id/tukang-boong/#respond Sun, 19 Jul 2020 10:49:55 +0000 https://parade.id/?p=4110 Jakarta (PARADE.ID)- Agus dapat rezeki nomplok, dia dapat undian tiket nonton Barcelona vs Madrid, hadiah dari sponsor. Berangkatlah Agus ke Barcelona sana bareng 2 pemenang lain, wussh. Tiket pesawat ditanggung, tiket nonton, hotel, uang saku. Malamnya nonton Barcelona vs Madrid. Bahagia banget Agus. Mimpinya terkabul. Lihat Messi langsung. Besok pagi2, dia punya jadwal kosong, sebelum […]

Artikel Tukang Boong pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Agus dapat rezeki nomplok, dia dapat undian tiket nonton Barcelona vs Madrid, hadiah dari sponsor. Berangkatlah Agus ke Barcelona sana bareng 2 pemenang lain, wussh. Tiket pesawat ditanggung, tiket nonton, hotel, uang saku.

Malamnya nonton Barcelona vs Madrid. Bahagia banget Agus. Mimpinya terkabul. Lihat Messi langsung.

Besok pagi2, dia punya jadwal kosong, sebelum nanti sore pulang ke Indonesia. Jadilah dia jalan2. Petugas hotel bilang, kalau mau lihat pantai, pergilah ke Barceloneta. Bisa jalan kaki. Agus mengangguk, mulai jalan kaki ke sono. Sambil lihat2 kota.

Sampai di Platja de la Barceloneta dia bingung, gue beli tiket masuknya di mana? Keliling dia jalan, ribuan orang memadati itu pantai, nggak nemu tiket masuk. Nanya sama bule, “Mister, beli tiket masuk pantai di mana?” Maklum, Agus itu kalau di Jakarta, masuk ke pantai bayar, mau ke toilet umum bayar, bahkan kentut pun bayar (karena kentutnya keciprit, jadi terpaksa harus ke toilet).

Bule itu nanya balik, “Kamu dari mana sih? Kok nanya tiket masuk?” Agus bilang, “Indonesia.” Bule itu tertawa, “Di sini gratis, bro. Masuk saja.” Agus bingung, “Gratis? Ini ulang tahun kota Barcelona?” Karena di negaranya, pantai gratis itu kalau lagi ultah saja. “No, gratis 24 jam, bebas.” Wah, Agus terkesima. Pantai sebagus ini, gratis.

Di kota2 maju, di negara2 maju, perhatikanlah, akses ke pantai itu dibuka. Mereka menjadikan sempadan pantai sebagai bagian kehidupan kota. Lucunya, di negeri ini, pantai dikavling, dibagi2kan ke perusahaan (mau swasta, BUMN, BUMD), sama saja. Lantas mereka mulai melotot ngusir pengunjung, atau mulai mengeluarkan tiket.

Kita itu sudah terlalu lama given, pasrah, alias nurut saja dengan situasi ini. Dan crazynya lagi, kadang pantai itu terbentuk dari hutang negara, dari APBD, APBN. Langsung maupun tidak langsung, bahkan dalam kasus itu 100% swasta, ingat, tetap ada fasilitas milik negara di sana. Hutangnya dibayar rakyat, masuk pantainya diusir (atau beli tiket).

Apakah pejabat2 itu pernah ke Australia? Eropa? Amerika? Pernah cuy. Mereka ini bahkan beberapa lulusan LN. Atau malah sering dinas ke sana. Bawa rombongan keluarga, dsbgnya. Lihat pantai orang gratis, pulang ke sini, otaknya tetap korslet. Tidak berubah.

Lihatlah foto ini. Inilah Platja de la Barceloneta, hanya 7 km jalan kaki dari Camp Nou, markas sepakbola klubnya Messi. Lihat fotonya, bedebah! Elu, pejabat2 pemda, pemkot, kementerian, jika elu pernah dinas ke LN, elu pernahlah foto2 selfie gaya di fasilitas publik yg gratis. Lantas kenapa elu nggak terilhami, pulang bawa konsepnya?

Biaya perawatan, biaya kebersihan, itu gampang sekali. Dari pajak. Kafe, restoran, hotel, dll itu dipajaki, uangnya buat itu semua. Di sini kebalik logikanya, kalau nggak bayar nanti kotor. Dasar bahlul, lantas tiket masuknya itu buat apa? Tetap jorok pantainya. Oala, untuk perawatan dan kebersihan siapa tuh?

Akan lahir generasi berikutnya yg paham sekali soal ini. Sepanjang kita mau mendidiknya. Kasih mereka tulisan yang menggugah. Kasih mereka pemahaman baru. Yg membuat mereka berpikir, Oh iya, betul juga ya. Oh iya, ini masuk akal. Karena akal sehat, rasionalitas itu urusan sederhana sekali. Dan silahkan merujuk peraturan, akses ke sempadan pantai 100meter itu adalah hak rakyat. Pantai itu anugerah Tuhan gratis. Sama seperti gunung, sungai, dll.

Lihatlah foto ini. Bayangkan jika Jakarta, kota2 lain di negeri ini punya beginian. Indah sekali toh? Kita merasa ada gunanya bayar pajak. Bukan malah, bayar pajak, hutang melangit, utk ke pantai saja bayar lagi. Ambyar.

Mari didik anak2 kita, biar mereka besok lusa tidak jadi pejabat tukang boong. Apalagi memanfaatkan hal2 beginian utk jadi pejabat, pas giliran jadi, dia boong lagi.

**agar diskusi ini bisa dua jalur, beberapa komentar kalian akan kami tanggapi. termasuk yg mau ngamuk, marah2, akan kami biarkan. satpam cipirili akan melonggarkan peraturan di postingan ini.

**Novelis, Tere Liye

Artikel Tukang Boong pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/tukang-boong/feed/ 0
Buronan, Polisi, dan Lelucon https://parade.id/buronan-polisi-dan-lelucon/ https://parade.id/buronan-polisi-dan-lelucon/#respond Wed, 15 Jul 2020 12:30:26 +0000 https://parade.id/?p=3782 Jakarta (PARADE.ID)- Djoko Tjandra, atau Tjan Kok Hui, adalah buronan negara dalam kasus korupsi. Kalian mungkin terlalu kecil saat Bali Gate alias skandal Bank Bali terjadi di negeri ini tahun 1999. Kasusnya melibatkan teknik keuangan tingkat tinggi. Meski tinggi, tidak rumit, hanya membutuhkan lobi2 dahsyat. Intinya adalah, Bank Bali ini punya piutang ke tiga bank […]

Artikel Buronan, Polisi, dan Lelucon pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
Jakarta (PARADE.ID)- Djoko Tjandra, atau Tjan Kok Hui, adalah buronan negara dalam kasus korupsi. Kalian mungkin terlalu kecil saat Bali Gate alias skandal Bank Bali terjadi di negeri ini tahun 1999.

Kasusnya melibatkan teknik keuangan tingkat tinggi. Meski tinggi, tidak rumit, hanya membutuhkan lobi2 dahsyat. Intinya adalah, Bank Bali ini punya piutang ke tiga bank lain. BDNI, BUN dan Bank Tiara, nilai totalnya 3 trilyun. Nah, tahun 1999, setahun setelah krisis moneter, tiga bank ini masuk perawatan BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Jangankan menyelesaikan piutang, hidup saja susah.

Datanglah trio kwek-kwek, eh, ‘pemberani’, Rudy Ramli sbg Dirut Bank Bali bikin kerjasama dengan PT EGP yg bosnya Djoko Tjandra, dan Setya Novanto (kalian mesti kenal nama ini). Mereka bersepakat, bahwa piutang ini di-cessie, dipindahkan ke PT EGP. Bahwa jika PT EGP berhasil menagih, maka PT EGP dapat 50%.

Daripada hilang 3 trilyun, kalau ada pihak lain yg sukses nagih, kan bagus loh. Misal dia berhasil nagih 2 Trilyun. Wah mantap dong, balik itu uang. Tidak apalah 1 trilyun kasih ke pihak pemegang cessie. Yg penting 1 trilyun selamat. Paham?

Ini sih sebenarnya lumrah sekali dalam bisnis hutang-piutang. Saat piutang dialihkan. Yang tidak lumrah itu adalah: betapa hebatnya lobi2 yang terjadi. Kadang cessie ini gagal total, nihil. Namanya nagih ke pihak sedang sekarat, mana ada duitnya.

Tapi yang ini wow, crazy, sukses, dari 3 trilyun itu, PT EGP berhasil menagih 905 milyar. Apakah BDNI, BUN dan Bank Tiara yang bayar 905 milyar ini? Kagak. Ingat, tiga bank ini sudah masuk BPPN. Disehatkan pemerintah. Maka siapa yang bayar? BI dan BPPN-lah. Pemerintah. Ngocor itu duit, 905 milyar.

Dan serunya lagi, ternyata yg seharusnya 50:50, ternyata kagak, Bank Bali cuma dapat 359 milyar (padahal dia harusnya dapat 50%), PT EGP malah dapat 546 milyar. Aneh kan? Pesta pora mereka, itu uang dari rakyat, jadi bancakan bersama. Entah mengalir kemana saja uang ini. Bertahun2 kemudian, bank2 ini sudah beralih nama semua, dijualbeli, dsbgnya, dan hanya ‘setan’ yg tahu, berapa uang yg pemerintah talangin dulu benar2 kembali. Karena namanya menyehatkan, kalau sudah sehat, tentu dijual dan untung. Tapi embuh.

Atas kasus ini, Djoko Tjandra (dan beberapa nama) dihukum, keputusan terakhir MA tahun 2008, dia dihukum penjara, dan uang 546 milyar dirampas untuk negara. Tapi ‘apes’-nya, sehari sebelum keputusan itu keluar, dia kabur ke LN, carter pesawat menuju Papua Nugini. Minggat. Sayonara. Adios. Bye bye. Jadilah dia buronan sejak 2009. Dramatis toh? Sehari sebelum keputusan keluar. Beh, jangan2 ini sudah ngalahin drama film mafia atau bos narkoba Amerika Latin.

Bertahun2 Djoko Tjandra menghilang. Tak ada daya penegak hukum negeri ini menangkapnya. Mereka sih kalau nangkap artis di hotel pasti sigap, tapi urusan koruptor, beraaat. Makanya kalau berhasil satu, ewow hebooh, dipanggil wartawan sebanyak2nya, karena jarang. Coba kalau sering nangkep, kan biasa saja.

Nah, menariknya lagi, Djoko Tjandra barusan datang ke Indonesia loh. Dia sempat buat e-KTP, sehari jadi, dia sempat halan-halan, seperti menertawakan seluruh aparat penegak hukum negeri ini. Dan fantastisnya, terbetik kabar jika surat jalan dia di Indonesia, dikeluarkan oleh BARESKRIM POLRI. Wah, ngeri ini. Kadiv Humas Polri sudah mengakui surat itu benar dibuat oleh bintang satu.

Jadi mari kita tunggu saja. Apa sanksi buat oknum ini. Ehem, kita harus pakai kata ‘oknum’. Apakah oknum ini dicopot? Mutasi? Dipecat? Atau masuk penjara? Karena pelanggaran ini super, itu tdk sepele, dia bukannya nangkep buronan, malah dikasih surat jalan. Tapi kita tunggu saja. Dan jangan sakit hati kalau beritanya hilang begitu saja. Diem-diem bae. Jiwa korsa memang penting. Jiwa korsaaa gitu loh.

Karena mau gimana lagi? Jika surat itu tidak sengaja, kalian mau bilang apa? Karena Tuhan YME saja sungguh pemaaf. Barangsiapa yg tidak sengaja, tidak ada dosa baginya. Bahkan ketika seorang Djoko Tjandra, konon katanya bisa berkeliaran 3 bulan terakhir di Indonesia, menertawakan semua aparatur penegak hukum, itu mungkin ketidaksengajaan saja.

Entahlah, saya lagi mikir, sebenarnya buat apa lagi sih bayar pajak di negeri ini? Bertahun2 tertib lapor, dsbgnya. Duitnya buat nalangin hutang orang. Duitnya buat bayar hutang ngeruk sungai, jadi pulaunya, eh, malah dikasih ke pihak lain. Duitnya buat proyek2 mbuh. Duitnya buat pilkada yg pesertanya anak, mantu, kerabat, itu2 saja. Proses demokrasi yg hanya dikangkangi oleh elit partai politik saja.

*Novelis, Tere Liye

Artikel Buronan, Polisi, dan Lelucon pertama kali tampil pada Parade.id.

]]>
https://parade.id/buronan-polisi-dan-lelucon/feed/ 0