Jakarta (parade.id)- Ratusan warga sekolah di SMP Negeri 2 Cisarua, Desa Leuwimalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mendadak jatuh sakit pada Rabu (21/10/2026) pagi. Sebanyak 103 siswa diduga keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan minum susu di sekolah. Mereka dirawat di Rumah Sakit Paru dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua. Penyebab pasti belum diketahui dan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Kronologi
Menurut Kapolsek Cisarua AKP Budi Suratman, gejala mulai dirasakan siswa sekitar pukul 08.00 WIB. Para siswa mengeluhkan mual, pusing, dan sakit perut, sementara sebagian lainnya muntah. Korban berasal dari kelas VII dan VIII yang menyantap hidangan bersama-sama.
Pihak sekolah dan warga mengerahkan ambulans untuk membawa para siswa ke ruang IGD RSPG Cisarua secara bertahap. Ambulans terlihat hilir mudik di Jalan Raya Puncak. Di rumah sakit, para orang tua berdatangan dengan cemas. Seorang ibu terlihat menangis dan meminta izin melihat anaknya yang dirawat.
Jumlah korban berubah
Angka korban bertambah seiring pendataan. Polisi awalnya menyebut sekitar 80 siswa, lalu 92 siswa dirawat di rumah sakit. Camat Cisarua Heri Risnandar menyebut 90 siswa dan guru ditangani di RSPG, ditambah 8 orang di Puskesmas Cibulan. Bupati Bogor Rudy Susmanto kemudian menyampaikan angka 103 siswa. Perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) bernama Heiger menyatakan jumlah itu berasal dari 881 siswa SMPN 2 Cisarua.
Dugaan penyebab
MBG yang dikonsumsi siswa disebut berasal dari SPPG Bogor Cisarua Leuwimalang 01. Informasi yang dihimpun media menyebut dugaan sementara mengarah pada susu UHT dalam paket MBG. Namun polisi belum menyimpulkan apakah pemicunya makanan utama atau susu. Kapolsek menegaskan kepastian penyebab menunggu keterangan dokter, sedangkan tugas kepolisian saat ini mengamankan evakuasi siswa.
Pernyataan pejabat
Bupati Rudy Susmanto meninjau langsung RSPG. Ia menyatakan 102 dari 103 siswa dalam kondisi stabil. Satu siswi secara fisik baik, tetapi mengalami kepanikan sehingga memerlukan pendampingan psikologis. Pemkab Bogor menanggung seluruh biaya perawatan para siswa.
Rudy juga meminta Dinas Kesehatan meneliti makanan dan minuman MBG yang dikonsumsi siswa dan segera mengirim sampelnya ke Labkesda. Ia menyebut Pemkab hanya mencari dugaan penyebab dan tidak berwenang menjatuhkan sanksi kepada pengelola dapur SPPG.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr. Fusia Meidiawaty, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengaku ikut menangani pasien di RSPG. Menurutnya, tim puskesmas dan Dinkes sudah bergerak dan berkolaborasi dengan tim RSPG. Dinkes berkoordinasi intensif dengan rumah sakit dan masih mendata siswa yang bergejala.
Direktur Utama RSPG Cisarua, dr. Zulfayanti, SpOG, menyatakan para siswa ditangani secara medis dan berharap tidak ada korban jiwa. Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, mengaku baru mengetahui kejadian itu setelah menerima informasi dugaan keracunan.
Langkah penanganan
Pihak sekolah melaporkan kejadian ke Dinkes Kabupaten Bogor. Dinkes mengambil sampel makanan untuk uji laboratorium, dan pelaksanaan MBG di sekolah itu akan dievaluasi. Distribusi MBG dilaporkan dihentikan sementara hingga penyebab dipastikan. Perwakilan BGN menyebut operasional dapur SPPG Bogor Cisarua Leuwimalang dihentikan selama 20 hari ke depan. Dapur itu hanya melayani siswa SMPN 2 Cisarua.
Menurut Camat Heri Risnandar, sekolah masih diobservasi tim medis yang didampingi tim RSUD Ciawi.
Hingga berita ini disusun, hasil uji laboratorium belum diumumkan, dan angka korban masih dapat berubah mengikuti pendataan petugas. (dbs)







