Jakarta (parade.id)- Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mochammad Firman Hidayat menyampaikan bahwa nilai ekspor hilirisasi Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 50 miliar dolar AS hingga akhir 2026. Angka itu naik hampir 45 persen dibandingkan 2024. Hal ini disampaikan kepada awak media, Selasa (20/10/2026), seusai DEN memaparkan sejumlah kajian kepada Presiden.
Menurut Firman, hilirisasi tidak lagi bertumpu pada nikel. Dua sektor lain berkembang pesat, yakni aluminium dan komponen baterai litium.
“Sekarang yang terjadi bukan hanya hilirisasi nikel yang terjadi secara masif di Indonesia, tapi ada dua komponen hilirisasi lain yang juga berkembang cukup pesat,” ujarnya.
Ekspor Aluminium Naik Dua Kali Lipat
Firman memperkirakan ekspor produk aluminium tahun ini sekitar 7,2 miliar dolar AS, naik dari sekitar 3,5 miliar dolar AS pada 2024. Ia memproyeksikan angkanya bisa melampaui 10 miliar dolar AS ke depan, seiring bertambahnya investasi smelter aluminium baru di dalam negeri.
Indonesia Produsen Komponen Baterai Litium
Firman juga menyoroti perkembangan hilirisasi komponen baterai litium. Menurutnya, Indonesia kini menjadi salah satu produsen komponen seperti katoda baterai, dan sudah memiliki kilang (refinery) litium.
“Artinya Indonesia sudah bisa melakukan industrialisasi dari sumber daya alam yang kita tidak miliki,” kata Firman.
Ia menegaskan bahwa industrialisasi tersebut merupakan bagian dari ekosistem yang lebih lengkap. Ia menyebut hal ini sebagai jawaban atas kritik terhadap kebijakan hilirisasi.
Berdasarkan hitungan DEN, gabungan hilirisasi nikel, aluminium, dan komponen baterai litium akan mencapai sekitar 50 miliar dolar AS pada akhir tahun ini. Pada 2024, nilainya sekitar 34,5 miliar dolar AS.
“Ini prestasi yang sangat baik, karena selama 2 tahun periode pemerintahan beliau, ekspor hilirisasi kita bisa meningkat sekitar 45 persen,” tuturnya. Firman menambahkan bahwa capaian ini menjadi sumber tambahan devisa bagi Indonesia.
Selain hilirisasi, DEN menyampaikan kajian terkait bahan bakar minyak (BBM). Firman menyebut langkah pemerintah menjaga harga BBM bersubsidi sudah tepat untuk menopang daya beli masyarakat.
“Kami menyampaikan kepada Bapak Presiden bahwa langkah pemerintah untuk menjaga harga BBM bersubsidi ini sudah tepat, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat saat ini,” ujarnya.
DEN juga mendiskusikan sejumlah strategi fiskal yang dapat dijalankan Kementerian Keuangan dengan dukungan Danantara. Tujuannya agar harga BBM tetap terjaga hingga akhir tahun dengan kondisi fiskal yang berkelanjutan. Firman menyebut pula adanya perbaikan jangka panjang agar subsidi energi lebih tepat sasaran.
Perlinsos Digital Sudah Menjangkau 514 Kabupaten/Kota
Dalam kesempatan yang sama, DEN melaporkan perkembangan uji coba perlindungan sosial (Perlinsos) digital. Program ini kini telah mencakup seluruh 514 kabupaten/kota di Indonesia, dengan 11,5 juta kepala keluarga (KK) terdaftar. Sebanyak 775.000 agen Perlinsos membantu pendaftaran warga yang membutuhkan bantuan sosial. Data harian mencatat lebih dari 600.000 pendaftar per hari di portal Perlinsos.
Studi piloting di Provinsi Bali menunjukkan bahwa digitalisasi menurunkan exclusion error sebesar 24,1 persen dan inclusion error sebesar 4,1 persen. Menurut DEN, digitalisasi membuat penyaluran bansos lebih transparan dan tepat sasaran.
Studi MBG: Absensi Turun, Semangat Belajar Naik
DEN turut memaparkan studi dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tahun lalu, DEN bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah lembaga lain menyusun modul khusus dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang berjalan sejak September tahun lalu dan mencakup seluruh Indonesia. Modul itu menilai dampak MBG terhadap absensi, semangat belajar, dan rasa lapar siswa.
“Terlepas dari segala kekurangan yang dialami program MBG ini, kami melihat temuannya cukup menarik,” kata perwakilan DEN.
Temuannya, siswa penerima MBG lebih jarang absen daripada non-penerima. Selisihnya paling besar pada kelompok desil 1 (paling miskin), dan absensi makin berkurang seiring tingginya intensitas penerimaan MBG di sekolah.
Semangat belajar siswa penerima MBG juga meningkat, dengan syarat kualitas menu baik. Saat kualitas menu sangat baik, sebanyak 95 persen siswa penerima mengaku lebih semangat belajar. Namun angkanya turun drastis ketika kualitas menu buruk.
DEN juga mencatat sebaran penerima MBG per September masih terkonsentrasi di perkotaan dan lebih banyak dinikmati siswa kaya. Karena itu, DEN merekomendasikan perbaikan kualitas menu serta prioritas lebih baik bagi daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), wilayah pedesaan, dan masyarakat miskin.








