Jakarta (parade.id)- Pengamat politik Hendri Satrio menilai komunikasi publik pemerintahan Prabowo-Gibran sudah berubah dari sekadar masalah menjadi “penyakit”. Ia menyampaikannya dalam diskusi di Graha Sanusi Hardjadinata, Unpad, Bandung, Senin (19/10/2026).
Dalam penilaian rapor dua tahun pemerintahan, Hendri memberi angka tertinggi di antara narasumber, yakni 6,9. Ia berkelakar angka itu muncul karena hari diskusi adalah Jumat berkah. “Kalau bukan hari Jumat mungkin ini lebih turun lagi. Susah juga mencari yang disyukuri, tapi ya sudahlah, kan Jumat berkah,” ujarnya, dikutip tayangan Terus Terang Mahfud MD.
Hendri, alumnus Fikom Unpad, menyebut komunikasi sebagai satu dari tiga masalah besar negeri ini bersama ekonomi dan hukum. “Tadinya saya pikir komunikasi hanya sekadar masalah. Semakin ke sini tidak lagi menjadi masalah, sudah mulai menjadi penyakit yang luar biasa yang harus segera diperbaiki,” katanya. Ia menilai buruknya komunikasi membuat banyak persoalan tak kunjung selesai.
Ia membagi masyarakat dalam tiga kelas: kelas super kaya, kelas menengah, dan kelas bawah. Menurutnya, kelas menengah paling tertekan. “Kelas menengah sama sekali tidak disentuh pemerintah. Makan tabungan, makan utang, mampus,” ujarnya.
Sebaliknya, kelas bawah yang ia temui, mulai dari tukang bakso hingga pengamen, cenderung menilai rezim sekarang lebih baik. “Mereka bilang saya dapat bansos, saya dapat MBG, sekolah anak murah, walaupun penghasilan saya berkurang,” tutur Hendri. Ia menyebut program Prabowo memang berorientasi pada kelas bawah, seperti MBG, Sekolah Rakyat, dan koperasi desa.
Hendri juga menyinggung para menteri. “Banyak menteri yang sudah tidak mampu menangani bidangnya tapi tidak mau mundur. Kalau memang sudah tidak mampu, ya mundur saja,” ucapnya. Ia menyebut para menteri itu masih menunggu Presiden melakukan reshuffle.
Meski kritis, Hendri mengajak melihat persoalan secara adil. “Apakah Prabowo memulai pemerintahan ini dari angka 10, 5, atau 0? Jangan-jangan Pak Jokowi sudah menempatkan negeri ini di angka empat sehingga Pak Prabowo susah bergerak,” katanya. Menurutnya, kompleksnya masalah membuat Presiden sendiri tampak kesulitan menempatkan orang-orang terbaik.
Ia menutup dengan nada getir soal daya tahan rakyat. “Pemerintah tinggal bilang: hai rakyatku, inilah Indonesia, silakan survive sendiri-sendiri. Karena kita diperintahkan survive, ya kita survive sendiri-sendiri,” ujarnya.








