Minggu, Februari 22, 2026
  • Info Iklan
Parade.id
  • Login
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Pertahanan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Opini
  • Profil
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Internasional
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Sosial dan Budaya
Parade.id
Home Nasional Ekonomi

Ruang Fiskal Indonesia Semakin Sempit

redaksi by redaksi
2026-02-22
in Ekonomi
0
Ruang Fiskal Indonesia Semakin Sempit

Foto: Riza A. Pujarama/tangkapan layar

0
SHARES
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta (parade.id)- Tekanan fiskal Indonesia semakin menguat. Di tengah ambisi pemerintah menjalankan berbagai program prioritas, ruang gerak Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) justru kian menyempit. Peneliti Center Macroeconomics and Finance Institut untuk Pembangunan Ekonomi dan Keuangan (INDEF), Riza Anisa Pujarama, mengungkap akar persoalan ini dalam program What’s on Economy di kanal YouTube resmi INDEF, Kamis (19/2/2026).

Penerimaan Pajak Melambat, Belanja Terus Agresif

Related posts

Menko Airlangga Klaim Penyaluran KUR pada Sektor Pertanian Meningkat Pesat

Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,39 Persen di Kuartal IV, Tertinggi di G20

2026-02-13
Presiden Prabowo Tekankan Swasembada Pangan dan Energi di Rakornas 2026

Presiden Prabowo Tekankan Swasembada Pangan dan Energi di Rakornas 2026

2026-02-02

Menurut Riza, tekanan fiskal muncul dari dua sisi sekaligus: penerimaan yang melambat dan belanja yang terus meningkat. Setelah pandemi Covid-19, lonjakan harga komoditas sempat mendongkrak penerimaan perpajakan hingga melampaui target pada 2022–2023. Namun ketergantungan terhadap komoditas menjadi bumerang ketika harga mulai turun.

“Pertumbuhan perpajakan mulai turun terus, dan puncaknya di 2025 ketika shortfall-nya lumayan besar, lebih dari Rp200 triliun dari target,” ujar Riza.

Di sisi lain, belanja pemerintah terus tumbuh agresif, termasuk program perlindungan sosial yang sebagian masih diteruskan pascapandemi.

Belanja Bunga Utang Nyaris Rp600 Triliun, Belanja Modal Tinggal 7%

Riza menyoroti struktur belanja pemerintah pusat yang semakin rigid. Belanja pegawai dan belanja barang saja sudah mengonsumsi sekitar 40% dari total belanja pemerintah pusat. Ditambah belanja bunga utang yang kini mendekati 20%, ruang yang tersisa untuk belanja modal — pos yang punya efek pengganda terbesar bagi ekonomi — hanya sekitar 7%.

“Untuk pembangunan kita hanya nyisa 7%. Ibaratnya untuk infrastruktur yang justru multiplier effect-nya banyak,” kata Riza.

Adapun nilai pembayaran bunga utang pada 2025 tercatat lebih dari Rp500 triliun, dan pada 2026 diperkirakan mendekati Rp600 triliun.

Efisiensi Anggaran Pukul Daerah Tanpa Persiapan

Kebijakan efisiensi anggaran yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto turut memangkas Transfer ke Daerah (TKD), termasuk Dana Bagi Hasil (DBH). Riza menilai hal ini menimbulkan guncangan bagi pemerintah daerah yang tidak mendapat cukup waktu untuk menyesuaikan diri.

“Daerah itu kebingungan karena penganggaran mereka di-cut saat itu tanpa persiapan,” jelasnya.

Dampaknya langsung terasa. Sejumlah daerah menaikkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) dan memperketat berbagai pungutan lokal, memicu demonstrasi di berbagai wilayah. Bahkan DKI Jakarta — daerah dengan kapasitas fiskal tertinggi — pun terdampak signifikan akibat pemotongan DBH, mengingat besarnya kontribusi pajak penghasilan dari pusat ekonomi tersebut.

29% Anggaran Pendidikan 2026 Tersedot MBG

Salah satu isu yang paling disorot Riza adalah besarnya porsi anggaran pendidikan yang dialokasikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari Rp56 triliun pada 2025, anggaran MBG melonjak menjadi sekitar Rp233 triliun pada 2026 — setara 29% dari total anggaran pendidikan nasional.

“Di tahun 2026, 29% anggaran pendidikan itu adalah MBG,” ungkap Riza.

Ia mengingatkan bahwa MBG memang bermanfaat bagi perbaikan gizi anak, namun dampaknya terhadap kualitas pendidikan tidak bisa berdiri sendiri. Faktor penentu utama kualitas pendidikan justru terletak pada kualitas guru dan rasio murid per kelas.

“Kalau untuk pendidikan, itu ada proses yang panjang. Tidak hanya dipengaruhi oleh gizi semata,” tegasnya.

Yang lebih mengkhawatirkan, anggaran pendidikan yang mengalir ke daerah justru berkurang, sementara Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik untuk sektor pendidikan tidak tercantum dalam postur APBN 2026. Riza menduga kewenangan tersebut kini ditarik kembali ke pemerintah pusat — sebuah indikasi resentralisasi fiskal yang perlu dicermati.

Rekomendasi: Diversifikasi Pajak dan Skala Prioritas Belanja

Untuk keluar dari jebakan fiskal ini, Riza mendorong pemerintah mempercepat diversifikasi sumber penerimaan pajak agar tidak lagi bergantung pada komoditas. Dari sisi belanja, ia menekankan pentingnya skala prioritas dan pelaksanaan program secara bertahap demi menjaga keberlanjutan.

Khusus untuk sektor pendidikan, Riza mendesak evaluasi menyeluruh atas pola belanja yang selama ini masih terlalu berat pada infrastruktur fisik, sementara investasi pada kualitas pengajaran tertinggal.

“Ke depannya perlu menitikberatkan kepada kualitas, dibandingkan yang berupa fisik. Karena saat ini masih heavy ke fisik, belum mengejar kualitas,” pungkasnya.

Tags: #INDEFfiskal Indonesia
Previous Post

Dana Rp529 M untuk 3.000 Faskes Sumatra Jangan Sampai Terhambat Birokrasi

Please login to join discussion
Ruang Fiskal Indonesia Semakin Sempit

Ruang Fiskal Indonesia Semakin Sempit

2026-02-22

Dana Rp529 M untuk 3.000 Faskes Sumatra Jangan Sampai Terhambat Birokrasi

2026-02-20

KPK Diminta Dikembalikan ke UU Lama

2026-02-20
Laporan KPF: 13 Tewas dan 703 Tahanan Politik dalam Demonstrasi Agustus 2025

Laporan KPF: 13 Tewas dan 703 Tahanan Politik dalam Demonstrasi Agustus 2025

2026-02-19
Fadli Zon: Jokowi Sudah Selesai

Fadli Zon: Jokowi Sudah Selesai

2026-02-19

Sekjen KPCDI: Pemblokiran BPJS PBI Pasien Cuci Darah Langgar HAM

2026-02-15

Twitter

Facebook

Instagram

@paradeid

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Berita Populer

  • Laporan KPF: 13 Tewas dan 703 Tahanan Politik dalam Demonstrasi Agustus 2025

    Laporan KPF: 13 Tewas dan 703 Tahanan Politik dalam Demonstrasi Agustus 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Diminta Dikembalikan ke UU Lama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sekjen KPCDI: Pemblokiran BPJS PBI Pasien Cuci Darah Langgar HAM

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fadli Zon: Jokowi Sudah Selesai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • GMKR Deklarasikan Perang terhadap Oligarki: Gibran dan Jokowi Jadi Target Utama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Tagar

#Anies #ASPEKIndonesia #Buruh #China #Cianjur #Covid19 #Covid_19 #Demokrat #Ekonomi #Hukum #Indonesia #Internasional #Jakarta #Jokowi #Keamanan #Kesehatan #Kolom #KPK #KSPI #Muhammadiyah #MUI #Nasional #Olahraga #Opini #Palestina #Pariwisata #PartaiBuruh #PDIP #Pendidikan #Pertahanan #Pilkada #PKS #Polri #Prabowo #Presiden #Rusia #RUUHIP #Siber #Sosbud #Sosial #Teknologi #TNI #Vaksin dpr politik

Arsip Berita

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kontak
Email: redaksi@parade.id

© 2020 parade.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Pertahanan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Opini
  • Profil
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Internasional
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Sosial dan Budaya

© 2020 parade.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In