Jakarta (parade.id)- Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan kekhawatirannya terhadap kemampuan para pemimpin dunia saat ini dalam mencegah eskalasi menuju konflik nuklir. Berbeda dengan era Perang Dingin yang masih memiliki kontrol moral, kondisi global kini jauh lebih rapuh.
“Tanggung jawab moral para pemimpin sekarang: jangan sampai karena ego dan ambisinya, karena ingin dapat legacy, gelap mata — mengorbankan nasib manusia sedunia,” tegas SBY saat diwawancarai di kanal YouTube pribadi yang tayang Selasa (3/3/2026).
SBY mengingatkan pelajaran dari Krisis Rudal Kuba di era Perang Dingin, ketika perang nuklir nyaris terjadi namun dicegah oleh rasionalitas pemimpin yang menahan diri untuk tidak menyerang lebih dahulu. “Selama 80 tahun tidak ada perang besar, meskipun permusuhannya sengit, karena ada kontrol,” katanya.
Kini tiga kekuatan paling dominan yang disorotinya Donald Trump, Vladimir Putin, dan Xi Jinping semuanya memiliki hak veto di PBB, kekuatan militer besar, dan ekonomi yang dominan. “Power must not go unchecked. Tidak boleh kekuasaan orang-orang kuat tidak ada yang mengontrol,” ujarnya.
SBY mengakui optimismenya terhadap diplomasi sedang diuji berat. “Harus realistik. Tidak mudah sekarang. Iklim tatanan dunia tidak kondusif. Tapi kita tidak boleh membiarkan. Pembiaran bukan opsi yang bagus,” pungkasnya.







