Amersfoort (parade.id)- Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mendorong peningkatan visibilitas Pencak Silat sebagai warisan budaya Indonesia di tingkat internasional sekaligus memperkuat dukungan global agar cabang bela diri tersebut masuk Olimpiade. Hal itu ia sampaikan dalam sambutan pembukaan 1st International Pencak Silat Culture & Heritage Festival di Amersfoort, Belanda, Sabtu (10/10/2026).
Fadli mengungkapkan hal tersebut melalui akun X pribadinya, Ahad (11/10/2026). “Saya mendorong peningkatan visibilitas Pencak Silat sebagai warisan budaya Indonesia di tingkat internasional, sekaligus memperkuat dukungan global terhadap aspirasi Pencak Silat untuk menjadi cabang olahraga Olimpiade,” tulisnya.
Menurut Fadli, Belanda memiliki peran penting dalam upaya itu. “Belanda memiliki peran penting sebagai jembatan untuk memperluas pengenalan dan pengembangan Pencak Silat di kawasan Eropa,” ujarnya.
Selain aspek kebudayaan, Fadli menyoroti aspirasi Indonesia membawa Pencak Silat ke panggung Olimpiade, sebagaimana juga ditegaskan Presiden Prabowo Subianto. “Kita memiliki aspirasi bersama agar Pencak Silat dapat menjadi bagian dari Olimpiade. Untuk mencapainya, diperlukan kerja sama internasional dan partisipasi yang semakin luas,” katanya.
Ia berharap komunitas Pencak Silat di berbagai negara turut mendukung tujuan tersebut. “Kami berharap komunitas Pencak Silat di berbagai negara dapat turut mendukung tujuan ini, dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya dan tradisi yang menjadi fondasinya,” ucap Fadli.
Fadli juga mengapresiasi kontribusi Federasi Pencak Silat Belanda/Nederlandse Pencak Silat Federatie (NPSF) yang saat ini menaungi sekitar 50 perguruan dengan lebih dari 700 praktisi terdaftar. “Keterlibatan komunitas lokal dalam menjaga tradisi Indonesia ini menunjukkan peran penting hubungan antar masyarakat atau people-to-people relations,” tuturnya.
Dukungan Kementerian Kebudayaan terhadap festival ini disalurkan melalui Dana Indonesia Raya, dana abadi kebudayaan yang diarahkan untuk memperluas kesempatan bagi pelaku dan komunitas budaya Indonesia. “Kami harap dukungan ini dapat memberikan manfaat langsung bagi para seniman, maestro, dan praktisi kebudayaan dalam mengembangkan kapasitas, melestarikan tradisi, serta memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada masyarakat dunia,” kata Fadli.
Ia pun berharap festival perdana tersebut berkembang menjadi wadah kerja sama berkelanjutan. “Saya berharap festival perdana ini dapat berkembang menjadi wadah kerja sama berkelanjutan antara komunitas Pencak Silat Indonesia dan Belanda. Kami berharap Pencak Silat semakin dikenal oleh masyarakat dunia, sekaligus terus menjadi jembatan persahabatan dan fondasi hubungan antar bangsa yang kokoh melalui kebudayaan,” ujarnya.
Festival yang berlangsung pada 10–11 Oktober 2026 ini diselenggarakan NPSF dengan menghadirkan pertunjukan budaya, demonstrasi, lokakarya, dan kelas pelatihan yang mempertemukan para maestro dan praktisi Pencak Silat Indonesia dengan komunitas pesilat di Belanda. Kegiatan turut dihadiri Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, L. Amrih Jinangkung, serta Presiden NPSF, Olivier Blancquaert.
Tiga delegasi Pencak Silat dari Indonesia tampil dalam festival tersebut, yakni Panglipur Indonesia dari Jawa Barat, Harimau Singgalang dari Sumatera Barat, serta Persaudaraan Setia Hati Tunas Muda Winongo Madiun dari Jawa Timur. Ketiganya menampilkan kekayaan tradisi Pencak Silat Nusantara melalui pertunjukan serta pertukaran pengetahuan dan keterampilan dengan praktisi di Belanda.
Fadli menjelaskan, Pencak Silat merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki keragaman filosofi, ekspresi seni, dan nilai-nilai luhur. Hingga kini, Kementerian Kebudayaan telah mencatat 3.277 elemen Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTb), termasuk tradisi Pencak Silat yang telah diinskripsi UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2019.
Menurutnya, Pencak Silat juga merupakan ekspresi hidup identitas budaya Indonesia yang memadukan keterampilan bela diri, ekspresi seni, musik tradisional, dan ajaran spiritual. “Kelestariannya bergantung pada para maestro, praktisi, dan komunitas yang terus mengajarkan serta mewariskan pengetahuan ini kepada generasi berikutnya,” katanya.







