Jakarta (parade.id)- Rocky Gerung menilai rekan-rekan aktivis yang masuk lingkar Istana pada era Joko Widodo gagal mengubah arah pemerintahan. Karena itu, ia mengaku tidak mau mengikuti jalan yang sama saat bergabung dengan pemerintahan Prabowo Subianto.
Hal itu disampaikan Rocky dalam wawancara di kanal YouTube Akbar Faizal, Kamis (8/10/2026). Rocky menyebut sejumlah aktivis seperti Teten Masduki dan Emmy Hafild, yang berasal dari LBH dan Walhi, masuk Kantor Staf Presiden (KSP) pada masa Jokowi.
“Waktu itu saya bilang, ‘Oke, kami izinkan kalian masuk dengan kesepakatan diam-diam. Kalian harus berani menegur pejabat yang merusak lingkungan dan melanggar HAM’,” tutur Rocky. Namun, menurutnya, mereka gagal. “Jokowi jadi otoriter. Jokowi merasa tidak butuh demokrasi,” katanya.
Rocky menilai sepuluh tahun era Jokowi sebagai kegagalan. Ia menyebut kelompok yang sama kini kebingungan menyikapi Prabowo. “Itu orang-orang gagal,” ujarnya. Ia mempertanyakan, “Kenapa saya harus memberi mereka izin, padahal mentalitasnya mediokre sejak awal?”
Terhadap kelompok kabinet bayangan (shadow cabinet), Rocky mengaku tetap berteman, tetapi menyebut mereka pendukung status quo. “Saya ingin patahan radikal. Kalian hanya membayang-bayangi menteri, bahkan sampai ke kamar mandi,” katanya. Ia menyebut kemarahan sebagian dari mereka sebagai “kemarahan ke segala arah”, yakni marah tanpa arah.
Rocky menilai ujian tertinggi integritas ialah berani menatap mata kekuasaan. “Dari jauh boleh, tidak masalah. Tapi akhirnya kamu harus berani tahu apa sebenarnya yang ada di dalam Istana,” ujarnya.








