Minggu, Oktober 11, 2026
  • Info Iklan
Parade.id
  • Login
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Pertahanan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Opini
  • Profil
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Internasional
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Sosial dan Budaya
Parade.id
Home Nasional Hukum

Melawan Racun Radikalisme di Media Sosial: Strategi Kontranarasi BNPT di Era Digital

redaksi by redaksi
2025-07-12
in Hukum, Politik, Sosial dan Budaya
0

Foto: dok. istimewa

0
SHARES
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta (parade.id)- Ruang digital kini tak sekadar tempat berbagi cerita dan hiburan. Di balik layar gawai, algoritma tak hanya merekomendasikan musik dan film, tapi juga bisa menyodorkan paham-paham kebencian. Bagi kelompok radikal, media sosial menjadi ruang subur menyebarkan ideologi ekstrem. Di titik inilah kontranarasi negara diuji.

Penyebaran paham radikal terorisme melalui media sosial memiliki efek yang sangat luar biasa. Media sosial hadir bukan lagi sebagai pelengkap, tetapi telah menjadi medan utama penyebaran radikalisme, menggantikan pola-pola konvensional seperti ceramah tertutup atau selebaran gelap.

Related posts

Wantimpres Rocky Gerung: Aktivis di Istana Era Jokowi Gagal Total

Wantimpres Rocky Gerung: Aktivis di Istana Era Jokowi Gagal Total

2026-10-10
Pakar Hukum Sebut Karantina Berbeda dengan PSBB

MK Buktikan Gibran tak Punya Ijazah SMA, DPR Bisa Ajukan Pemberhentian

2026-10-10

Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, Prof. Adrianus Eliasta Meliala, dalam Podcast Kafe Toleransi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebut bahwa strategi kelompok radikal memang sudah lama bergeser ke dunia maya.

“Kalau kita lihat pada waktu dulu kita kenal organisasi teroris yang bernama ISIS ya, sekitar tahun 2011–2012, mereka memang memakai media sosial, media internet, sebagai media perjuangannya,” kata Adrianus.

Ia menambahkan, kelompok ini sadar bahwa media sosial adalah alat propaganda yang murah, menjangkau luas, dan mampu menanamkan pesan secara personal. Kreativitas propagandis radikal juga ikut berevolusi dengan menciptakan konten-konten menggungah bagi para calon korban.

“Dalam rangka mendapatkan massa baru, mendapatkan penggemar baru, maka mereka terpaksa melakukan cara-cara yang kreatif,” katanya.

BNPT mencatat, strategi baru ini telah melahirkan sederet kasus nyata. Mulai dari serangan tunggal oleh Zakia Aini di Mabes Polri hingga penangkapan jaringan di Purworejo. Semua menunjukkan pola rekrutmen dan radikalisasi digital yang kian sistematis.

Yang menjadi perhatian, jumlah pengguna media sosial Indonesia yang sangat besar. Menurut Adrianus, diperkirakan ada lebih dari 70 juta pengguna aktif dari populasi muda usia di bawah 30 tahun. Populasi ini menjadi pasar potensial bagi propaganda ekstrem. Lantaran jumlahnya bsangat banyak, niscaya belaka bila kemudian ada yang terpapar barang satu dua.

“Dari sekitar 70 juta itu, ada mungkin 0,001% yang nyangkut. Sekali lagi karena besarnya populasi itu, maka lalu pasti saja ada yang kemudian nyangkut dan kemudian menjadi radikal,” ujarnya.

Tapi, ia menggarisbawahi bahwa tidak semua yang mengakses konten radikal akan menjadi pelaku. Ada tahapan yang memisahkan antara simpati dan aksi: akses pada jaringan, pembiayaan, dan bahan aksi teror.

“Benar bahwa antara men-download, meng-upload, mem-post dan seterusnya itu satu hal, tapi kemudian melakukan kegiatan radikal adalah hal yang lain,” ucapnya.

Inilah ruang yang coba diisi BNPT dengan strategi kontranarasi. Lewat program Kafe Toleransi, literasi digital, penguatan narasi kebangsaan, hingga kemitraan dengan kampus dan komunitas muda, negara membangun tandingan atas propaganda yang massif.

Kontranarasi tak hanya berfungsi sebagai klarifikasi informasi, tapi juga sebagai vaksin ideologis dengan menanamkan nilai-nilai moderat sebelum virus kebencian menyebar lebih dalam. Apalagi, generasi muda pengguna digital adalah penentu masa depan.

BNPT melihat, untuk membendung radikalisasi, pencegahan lebih murah dan lebih manusiawi dibanding penindakan.

Kontranarasi tak sekadar menepis hoaks atau membantah ujaran kebencian. Ia harus hadir dengan gaya yang komunikatif, merangkul, dan relevan. Terutama bagi generasi digital yang lebih banyak menatap layar ketimbang podium.

Di tengah derasnya arus informasi, pertarungan ideologis berlangsung senyap di kolom komentar, unggahan video, hingga pesan instan. Di ruang itulah, BNPT kini menempatkan salah satu pertahanan utama bangsa.***

Tags: Radikalis sosial media
Previous Post

Pakar Hukum Dukung Putusan MK soal Pemisahan Pemilu Nasional dan Lokal

Next Post

Kenaikan Status Pelapor Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Prematur

Next Post
Kenaikan Status Pelapor Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Prematur

Kenaikan Status Pelapor Dugaan Ijazah Palsu Jokowi Prematur

Wantimpres Rocky Gerung: Aktivis di Istana Era Jokowi Gagal Total

Wantimpres Rocky Gerung: Aktivis di Istana Era Jokowi Gagal Total

2026-10-10
Pakar Hukum Sebut Karantina Berbeda dengan PSBB

MK Buktikan Gibran tak Punya Ijazah SMA, DPR Bisa Ajukan Pemberhentian

2026-10-10

Keadilan Harus Didahulukan atas Kepastian Hukum

2026-10-09
Integritas Lahir dari Hati Nurani, Bukan Pengawasan Polisi

Integritas Lahir dari Hati Nurani, Bukan Pengawasan Polisi

2026-10-09
Pesan Sekum PP Muhammadiyah Jelang Tahun Politik: Mengedepankan Rasionalitas-Objektif, Hindari Fanatisme

Siswa tak Lagi Otomatis Naik Kelas 2027, Ini Penjelasan Mendikdasmen

2026-10-08
Indonesia Bakal Gabung OECD, Dorong Kerja Sama Malaysia

Indonesia Bakal Gabung OECD, Dorong Kerja Sama Malaysia

2026-10-08

Twitter

Facebook

Instagram

@paradeid

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Berita Populer

  • Aksi Warga Kebon Pala Kecamatan Makasar Menyoal SSI, Sebut Camat tak Netral

    Aksi Warga Kebon Pala Kecamatan Makasar Menyoal SSI, Sebut Camat tak Netral

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kecelakaan Kerja Fatal di Lingkar Tambang Harita, AP3LT Ungkap Dugaan Kelalaian

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wisata Ramah Muslim Indonesia Tertinggal

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Ini Isi dan Respons Buruh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Drama Sidang MK dan Shadow Politics Jokowi: Ancam Demokrasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Tagar

#Anies #ASPEKIndonesia #Buruh #China #Cianjur #Covid19 #Covid_19 #Demokrat #Ekonomi #Hukum #Indonesia #Internasional #Jakarta #Jokowi #Keamanan #Kesehatan #Kolom #KPK #KSPI #MK #Muhammadiyah #MUI #Nasional #Olahraga #Opini #Palestina #Pariwisata #PartaiBuruh #PDIP #Pendidikan #Pertahanan #Pilkada #PKS #Polri #Prabowo #Presiden #Rusia #RUUHIP #Siber #Sosbud #Sosial #Teknologi #TNI dpr politik

Arsip Berita

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kontak
Email: redaksi@parade.id

© 2026 parade.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Pertahanan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Opini
  • Profil
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Internasional
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Sosial dan Budaya

© 2026 parade.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In