Senin, Oktober 12, 2026
  • Info Iklan
Parade.id
  • Login
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Pertahanan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Opini
  • Profil
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Internasional
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Sosial dan Budaya
Parade.id
Home Nasional Kesehatan

Menggagas New Normal Berbasis Risiko Daerah

redaksi by redaksi
2020-06-17
in Kesehatan, Nasional
0
Menggagas New Normal Berbasis Risiko Daerah
0
SHARES
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta (PARADE.ID)- New normal diklaim hanya diadopsi oleh daerah dengan angka reproduksi virus (Rt) dibawah 1, yang mengindikasikan tingkat penularan yang telah terkendali, sehingga diyakini tidak akan terjadi lonjakan kasus Covid-19 meski masyarakat melakukan aktivitas secara normal. Namun statistik Rt di Indonesia diyakini tidak akurat terkait rendahnya kualitas data.

Kapasitas pengujian yang rendah dan waktu pelaporan dari pengujian yang sangat lama, dikombinasikan dengan kemampuan yang rendah dalam identifikasi dan karantina kontak erat dari kasus, membuat estimasi Rt menjadi bias dan cenderung overestimate.

Related posts

Paradoks Putusan MK soal Ijazah Gibran, Pemakzulan Wapres Terbuka?

Paradoks Putusan MK soal Ijazah Gibran, Pemakzulan Wapres Terbuka?

2026-10-12
Fadli Zon Dorong Pencak Silat Tembus Olimpiade dari Belanda

Fadli Zon Dorong Pencak Silat Tembus Olimpiade dari Belanda

2026-10-11

Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS) memandang bahwa perlu ada indikator yang tepat lebih tepat untuk menggambarkan kesiapan daerah untuk adopsi new normal yaitu berdasarkan karakteristik daerah yang menjadi sumber penyebaran Covid-19.

“IDEAS mengidentifikasi tiga determinan resiko penyebaran Covid-19 Kabupaten-Kota, yaitu interaksi sosial, keterpaparan eksternal dan mobilitas penduduk,” ungkap Fajri Azhari, Peneliti IDEAS, pada acara diskusi online pemaparan hasil riset #IDEASTalk yang bertajuk ‘Pertaruhan New Normal di Tengah Pandemi’, di Jakarta, Selasa (16/06/2020).

Fajri menjelaskan determinan (faktor penentu) pertama yaitu interaksi social, dimana berperan signifikan dalam penyebaran Covid-19 karena mendorong intensitas kontak dan kedekatan fisik antar penduduk. Dia membagi interaksi sosial dengan 2 variabel yaitu kepadatan penduduk dan ukuran populasi suatu wilayah.

Kepadatan penduduk tertinggi didominasi daerah perkotaan, terutama kota-kota besar di Jawa. Sedangkan ukuran populasi tertinggi di dominasi kota besar dan daerah pedesaan penyangga metropolitan, terutama di Jawa.

“Dengan berakhirnya PSBB, menjadi tantangan besar untuk terus menjaga pembatasan sosial terutama di metropolitan utama Jawa yang kini merupakan episentrum wabah, demi melindungi lebih dari 150 juta penduduk Jawa,” kata Fajri.

Faktor penentu penyebaran wabah Covid-19 yang kedua adalah keterpaparan eksternal, dimana suatu daerah menarik minat kedatangan penduduk dari luar wilayah karena daya tarik yang dimiliki daerah tersebut.

“Arus masuk pelancong dan pendatang yang tinggi, lintas daerah dan bahkan lintas negara, membuat suatu daerah rentan menjadi klaster penyebaran Covid-19. Kami membagi keterpaparan eksternal ini dengan 2 variabel yaitu ukuran sektor pariwisata dan kekayaan sumber daya alam (SDA),” ujar Fajri.
Daerah dengan ukuran sektor pariwisata yang besar, diukur dari pangsa tenaga kerja yang bekerja di sektor akomodasi dan penyediaan makan-minum, didominasi oleh daerah-daerah di destinasi wisata utama nasional, seperti Bali dan Yogyakarta.

Serupa dengan daerah wisata, daerah dengan kekayaan SDA yang berlimpah cenderung menarik investasi dari luar daerah dan karenanya tenaga kerja luar wilayah, bahkan menarik investasi dan tenaga kerja asing. Daerah kaya SDA ini didominasi oleh daerah sentra tambang migas dan batu bara seperti Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Papua.

“Inilah sebab banyak daerah di luar Jawa meski memiliki kepadatan penduduk yang rendah, tetapi memiliki resiko penyebaran Covid-19 yang tinggi. Seperti kabupaten Mimika dimana PT Freeport berlokasi, tercatat menjadi episentrum wabah di Papua Barat. Kota Denpasar yang merupakan gerbang Bali sebagai destinasi wisata dunia, menjadi episentrum wabah di Bali,” tutur Fajri.

Faktor penentu penyebaran Covid-19 terakhir adalah mobilitas penduduk. Mobilitas penduduk baik yang dilakukan secara rutin maupun insidental dominan dipengaruhi oleh aktivitas bekerja. Mobilitas akibat motivasi ekonomi ini adalah sumber penyebaran Covid-19 yang signifikan terkait frekuensi dan jumlah pergerakan manusia-nya.

“Daerah dengan mobilitas penduduk yang sangat tinggi ini didominasi oleh kawasan aglomerasi, dimana kota inti menjadi pusat bisnis dengan daerah penyangga menjadi kawasan pemukiman. Hal ini menjadi sumber utama tingginya jumlah perjalanan harian, seperti di Jabodetabek, Surabaya Raya, Bandung Raya dan Medan Raya,” ungkap Fajri.

IDEAS membagi mobilitas penduduk ini dengan 3 variabel, yaitu penduduk yang bekerja di luar wilayah (asal komuter), penduduk daerah lain yang bekerja di dalam wilayah (tujuan komuter), dan penduduk yang bermigrasi ke daerah lain (asal diaspora).

Sebagai misal, 472 ribu penduduk Kota Bekasi dan 462 ribu penduduk Kota Depok pulang dan pergi setiap hari untuk bekerja ke luar wilayah. Sementara itu, Jakarta Selatan setiap hari menjadi tujuan dari 777 ribu orang dari daerah lain yang bekerja di wilayah Jakarta Selatan.

Peneliti IDEAS lainnya, Febbi Meidawati menyimpulkan dengan perbedaan tingkat resiko penyebaran Covid-19 antar daerah, maka menjadi penting untuk mendesain new normal yang berbeda antar daerah sesuai tingkat resiko penyebaran Covid-19. Semakin tinggi tingkat resiko penyebaran Covid-19 suatu daerah, semakin ketat protokol new normal yang harus diadopsi oleh daerah tersebut.

“Protokol new normal dasar untuk semua daerah meliputi mengenakan masker wajah dan face shield, kebiasaan mencuci tangan dan jaga jarak aman fisik. Protokol new normal untuk semua daerah lainnya adalah peningkatan kapasitas pengujian (testing) serta pelacakan dan karantina kontak erat kasus (tracing) secara masif,” kata Febbi dalam kesempatan yang sama.

Dia menambahkan untuk daerah dengan tingkat resiko lebih tinggi, maka protokol new normal yang lebih ketat harus diberlakukan. Misal, untuk daerah dengan resiko tinggi seperti kawasan perkotaan, sekolah tetap harus diliburkan (school from home). Untuk kawasan aglomerasi – metropolitan, terutama di Jawa, bahkan perkantoran dan pabrik pun tetap harus diliburkan (work from home). Protokol ini terus dilakukan hingga wabah benar-benar reda atau vaksin telah ditemukan.

“Peran pemerintah daerah menjadi krusial untuk menetapkan tingkat resiko penyebaran Covid-19 ini. Dengan lebih memahami kondisi riil epidemiologi dan kapasitas sistem kesehatan daerah, pemerintah daerah dapat menentukan protokol new normal mana yang paling sesuai untuk daerah mereka. Jangan pernah bertaruh dengan keselamatan masyarakat,” tutup Febbi.

(Robi/PARADE.ID)

Tags: #Covid19#IDEAS#Jakarta#Kesehatan#Nasional
Previous Post

RR: Menteri Jokowi Tidak Punya Pengalaman ‘Turn Around’, Kasihan Bangsa Kita

Next Post

Soal RUU HIP, Netty Prasetiyani: Mengkhianati Kesepakatan Pendiri Bangsa

Next Post
Soal RUU HIP, Netty Prasetiyani: Mengkhianati Kesepakatan Pendiri Bangsa

Soal RUU HIP, Netty Prasetiyani: Mengkhianati Kesepakatan Pendiri Bangsa

Paradoks Putusan MK soal Ijazah Gibran, Pemakzulan Wapres Terbuka?

Paradoks Putusan MK soal Ijazah Gibran, Pemakzulan Wapres Terbuka?

2026-10-12
Fadli Zon Dorong Pencak Silat Tembus Olimpiade dari Belanda

Fadli Zon Dorong Pencak Silat Tembus Olimpiade dari Belanda

2026-10-11
Visi Misi dan Program Kerja Cawapres Gibran pada Debat Keempat Pemilu 2024

Putusan MK Ijazah Gibran Bukan Pengesahan, Jalur Hukum Masih Terbuka

2026-10-11
FORMAD Jangkau 806 Siswa Kepulauan Aceh lewat Youth Education Roadshow

FORMAD Jangkau 806 Siswa Kepulauan Aceh lewat Youth Education Roadshow

2026-10-11
Ekonomi Digital dan UMKM 2 Tahun Prabowo-Gibran: Pertumbuhan Rapuh

Ekonomi Digital dan UMKM 2 Tahun Prabowo-Gibran: Pertumbuhan Rapuh

2026-10-11
Mahasiswa Muhammadiyah Kalbar Kecam Dugaan Teror terhadap Ketum IMM Pontianak

Mahasiswa Muhammadiyah Kalbar Kecam Dugaan Teror terhadap Ketum IMM Pontianak

2026-10-11

Twitter

Facebook

Instagram

@paradeid

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Berita Populer

  • Aksi Warga Kebon Pala Kecamatan Makasar Menyoal SSI, Sebut Camat tak Netral

    Aksi Warga Kebon Pala Kecamatan Makasar Menyoal SSI, Sebut Camat tak Netral

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPR Sahkan UU Pelindungan Ketenagakerjaan, Ini Isi dan Respons Buruh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Drama Sidang MK dan Shadow Politics Jokowi: Ancam Demokrasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yusril Tegaskan Pemerintah Tolak Konser Israel Houghton di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Paradoks Putusan MK soal Ijazah Gibran, Pemakzulan Wapres Terbuka?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Tagar

#Anies #ASPEKIndonesia #Buruh #China #Cianjur #Covid19 #Covid_19 #Demokrat #Ekonomi #Hukum #Indonesia #Internasional #Jakarta #Jokowi #Keamanan #Kesehatan #Kolom #KPK #KSPI #MK #Muhammadiyah #MUI #Nasional #Olahraga #Opini #Palestina #Pariwisata #PartaiBuruh #PDIP #Pendidikan #Pertahanan #Pilkada #PKS #Polri #Prabowo #Presiden #Rusia #RUUHIP #Siber #Sosbud #Sosial #Teknologi #TNI dpr politik

Arsip Berita

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kontak
Email: redaksi@parade.id

© 2026 parade.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Pertahanan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Opini
  • Profil
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Internasional
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Sosial dan Budaya

© 2026 parade.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In