Selasa, September 29, 2026
  • Info Iklan
Parade.id
  • Login
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Pertahanan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Opini
  • Profil
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Internasional
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Sosial dan Budaya
Parade.id
Home Opini

[Opini] Kesadaran Profetik Kenaikan Harga BBM

redaksi by redaksi
2022-09-05
in Opini
0
0
SHARES
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Yons Achmad
(Kolumnis, tinggal di Depok)

Hanya dengan kesadaran profetik, kita akan lebih obyektif memandang problem kenaikan harga BBM. Tapi, sebelum masuk ke dalam bahasan lebih detail, kita ingat dulu seorang tokoh bernama Paulo Freire. Dalam dunia aktivis dan pergerakan, nama ini tentu sangat akrab didengar. Tokoh pendidikan kritis asal Brazil yang cukup piawai dalam memotret beragam problem sosial.

Related posts

Dasco dan Politik Mendengar di Tengah Demokrasi

Dasco dan Politik Mendengar di Tengah Demokrasi

2026-09-14
AS Paksa China Tutup Konsulat Houston Dalam 72 Jam

Hormuz, Trump, dan Manuver Sunyi China

2026-05-08

Salah satu bahasan menarik tentangnya adalah soal “Teori” kesadaran. Dalam pandangan Paulo Freire, kesadaran manusia itu terbagi menjadi tiga, yakni kesadaran magis, kesadaran naif dan kesadaran kritis. Konsep kesadaran tersebut bisa dijadikan pijakan sebagai bekal untuk melawan para kaum penindas. Termasuk di dalamnya, rezim “plonga-plongo” yang tak kreatif dalam pengambilan kebijakan publik.

Lantas, bagaimana penjelasan beragam kesadaran itu bekerja?

Pertama, kesadaran magis. Mereka percaya bahwa yang terjadi di dunia ini sudah takdir. Akhirnya menjadi pasrah saja dalam beragam keadaan. Bahkan percaya bahwa nasib dan misalnya kemiskinan yang melanda sebagai sesuatu yang harus diterima saja. Padahal, mereka inilah orang-orang yang tertindas dan sengaja dimiskinkan oleh sistem. Hanya, kesadaran itu tidak hadir karena dibelenggu oleh permasalahan kehidupan keseharian yang sudah kompleks.

Kedua, kesadaran naif. Kesadaran demikian dimiliki orang. Misalnya saat kenaikan BBM. Mereka mengerti ini kebijakan yang tidak benar. Tapi, cenderung acuh tak acuh, tak mau bersuara. Terlihat tampak kurang peduli terhadap keadaan dan nasib di sekitarnya. Yang ada, cukup menyelamatkan diri sendiri saja. Kumpulkan uang sebanyak mungkin agar tak kesusahan beli BBM. Hasilnya, dalam perspektik politik pegerakan, golongan ini cenderung menerima saja kenaikan harga BBM, toh tak jadi persoalan bagi pribadinya. Ironi.

Ketiga, kesadaran paling tinggi dalam kesadaran manusia menurutnya adalah kesadaran kritis. Manusia dalam kesadaran ini mampu berpikir dan bertindak sebagai subjek serta mampu memahami realitas keberadaannya secara menyeluruh. Mereka melihat misalnya problem kenaikan harga BBM sebagai problem sistemik dari kebijakan yang keliru. Mereka bakal melihat secara kritis bagaimana kenaikan BBM disaat perekonomian masyarakat morat marit sebagai kebijakan yang tidak benar, hanya semakin memberatkan publik. Termasuk tentu pada akhirnya mau bersusah payah mengorganisir kekuatan untuk melakukan perlawanan.

Pandangan Paulo itu cukup membantu kita memotret problem sosial. Tapi, kurang lengkap. Dalam dunia pergerakan Islam, kita mengenal istilah kesadaran profetik (kesadaran kenabian). Bagaimana kita memandang problem sosial dengan perspektif wahyu. Permasalahannya, apakah ada basis “teoriNya” dalam perspektif wahyu dalam memotret kenaikan harga BBM? Di dalam Al-Quran, ada.

Salah satu basisnya surat Ali-Imran ayat 110. Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Melalui ayat di atas, dalam dunia akademik dan pergerakan, kita bisa menurunkannya menjadi “Teori” kesadaran komprehensif. Sebut saja yang demikian sebagai “Kesadaran Profetik” (kesadaran kenabian).

Berbeda dengan Paulo Freire yang memisahkan atau membuat kategori pembedaan kesadaran. Dalam kesadaran profetik, semuanya harus berjalan beriringan. Misalnya, amar ma’ruf kita menyebutnya humanisasi. Para Dai, para ulama ketika ada kenaikan BBM sering menyuruh kita untuk bersabar saja. Tentu ini tidak salah, tapi kurang lengkap karena seolah hanya pasrah saja. Harus ada upaya lain yaitu nahi munkar (liberasi). Para ulama, dai, penceramah, tokoh pergerakan, dosen, intelektual harus bersuara dalam melakukan pembebasan. Bahkan harus lantang bersuara kalau kebijakan menaikan BBM itu keliru. Harus ada suara-suara perlawanan. Tidak hanya pasrah dan bersabar saja.

Terakhir, masuk perspektif spiritual. Tukminunabillah (Transendensi). Apa yang kita lakukan. Pikiran kita, gerak kita, bukan semata perspektif duniawi semata.

Tapi, upaya bersama mengamalkan perintah Allah. Di mana, Rasulullah sendiri sepanjang hidupnya selalu membela kaum lemah. Mungkin ada bantahan, Islam bagi semua, bukan hanya bagi kaum tertindas. Sekilas benar, tapi faktanya sekarang, dibelahan bumi manapun tidak ada umat yang benar-benar terbebas dari penindasan.

Itu sebabnya harus tetap ada dan hadir para pejuang dan penegak keadilan. Keadaran profetik harus hadir dan diamalkan. Kesadaran humanisasi, liberasi, transendensi harus berjalan beriringan. Agar keadilan dan tatanan sosial yang lebih baik bisa tercapai. Namun tetap mendapatkan ridha Allah dalam setiap laku pergerakan para pejuangnya.

Tags: #BBM#Opini#Yons
Previous Post

Ketua Majelis Pertimbangan PPP Plt Ketum Suharso Monoarfa

Next Post

Gubernur DKI Anies Dipanggil KPK, soal Apa?

Next Post

Gubernur DKI Anies Dipanggil KPK, soal Apa?

Masyarakat Adat Dayak Tolak Dituding Penyebab Karhutla

Masyarakat Adat Dayak Tolak Dituding Penyebab Karhutla

2026-09-29
Aksi Warga Kebon Pala Kecamatan Makassar Menyoal SSI, Sebut Camat tak Netral

Aksi Warga Kebon Pala Kecamatan Makassar Menyoal SSI, Sebut Camat tak Netral

2026-09-28
Akar Kabut Asap Kalteng: LSM Progress Tuntut Status Darurat Nasional

Akar Kabut Asap Kalteng: LSM Progress Tuntut Status Darurat Nasional

2026-09-28

Sidak Ombudsman di Lapas Cibinong: Penolakan, Temuan Hunian Mewah hingga Respons Yusril

2026-09-25

APPI Desak DPR Coret Nyoman Adhi Suryadnyana Calon Anggota BPK

2026-09-24
Herdman Diuji, Timnas Indonesia Buka FIFA ASEAN Cup 2026

Herdman Diuji, Timnas Indonesia Buka FIFA ASEAN Cup 2026

2026-09-24

Twitter

Facebook

Instagram

@paradeid

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Berita Populer

  • Aksi Warga Kebon Pala Kecamatan Makassar Menyoal SSI, Sebut Camat tak Netral

    Aksi Warga Kebon Pala Kecamatan Makassar Menyoal SSI, Sebut Camat tak Netral

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • APPI Desak DPR Coret Nyoman Adhi Suryadnyana Calon Anggota BPK

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lepi Ali Firmansyah Kembali Terpilih Menjadi Ketua PKB Cianjur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Asal Mula Berdirinya Kesultanan Utsmani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soal Pemimpin Dibiayai Cukong Direspon Politisi: Tunjuk Hidung Saja

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Tagar

#Anies #ASPEKIndonesia #Buruh #China #Cianjur #Covid19 #Covid_19 #Demokrat #Ekonomi #Hukum #Indonesia #Internasional #Jakarta #Jokowi #Keamanan #Kesehatan #Kolom #KPK #KSPI #MK #Muhammadiyah #MUI #Nasional #Olahraga #Opini #Palestina #Pariwisata #PartaiBuruh #PDIP #Pendidikan #Pertahanan #Pilkada #PKS #Polri #Prabowo #Presiden #Rusia #RUUHIP #Siber #Sosbud #Sosial #Teknologi #TNI dpr politik

Arsip Berita

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kontak
Email: redaksi@parade.id

© 2020 parade.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Pertahanan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Opini
  • Profil
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Internasional
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Sosial dan Budaya

© 2020 parade.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In