Selasa, Mei 26, 2026
  • Info Iklan
Parade.id
  • Login
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Pertahanan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Opini
  • Profil
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Internasional
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Sosial dan Budaya
Parade.id
Home Nasional Hukum

KPK Diminta Dikembalikan ke UU Lama

redaksi by redaksi
2026-02-20
in Hukum, Politik
0

Foto: gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta

0
SHARES
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta (parade.id)- Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2025 kembali melorot. Dari skor 37 pada 2024, Indonesia hanya meraih skor 34 dari skala 100 — turun tiga poin sekaligus merosot dari peringkat 99 ke peringkat 109 dari 182 negara yang disurvei. Hal itu diungkap dalam perbincangan di kanal YouTube Media Novel Baswedan, Rabu (18/2/2026), bersama pegiat antikorupsi Aulia Postiera.

Pengumuman IPK dilakukan serentak oleh Transparansi Internasional Indonesia pada Selasa, 10 Februari lalu. Skor Indonesia kini jauh di bawah rata-rata global yang berada di angka 42, maupun rata-rata kawasan Asia Pasifik yang mencapai 45.

Related posts

Target Ambisius 5.200 MW Panas Bumi Terkendala Tarif tak Atraktif

2026-05-21
Masyarakat Adat Aceh (MAA) Jakarta Junjung Tinggi Toleransi dan Persatuan

Masyarakat Adat Aceh (MAA) Jakarta Junjung Tinggi Toleransi dan Persatuan

2026-05-16

Lima Faktor Penyebab Anjloknya IPK

Aulia Postiera memaparkan lima faktor utama yang menyebabkan IPK Indonesia terperosok. Pertama, meningkatnya praktik suap dan korupsi. Survei IMD World Competitiveness Yearbook mencatat penurunan hingga 19 poin pada indikator ini. Para pebisnis yang disurvei mempersepsikan praktik suap dan korupsi semakin parah dan marak ditemui dalam kegiatan sehari-hari.

Kedua, ketidakefektifan sistem pencegahan korupsi. Indikator dari Bertelsmann Foundation Transformation Index turun 9 poin, mengindikasikan bahwa sistem pencegahan dan penegakan hukum terhadap korupsi dinilai tidak berjalan efektif.

Ketiga, penyempitan ruang sipil. Terdapat korelasi kuat antara represi terhadap kebebasan sipil dengan tingginya korupsi. Berbagai tindakan yang dipersepsikan sebagai kriminalisasi terhadap pengkritik pemerintah turut mempengaruhi indikator ini.

Keempat, melemahnya independensi peradilan. Akses terhadap keadilan dinilai semakin sulit dan diskriminatif. Di antaranya disoroti pelemahan lembaga seperti KPK serta intervensi politik dalam seleksi hakim, termasuk di Mahkamah Konstitusi.

Kelima, meningkatnya konflik kepentingan dan nepotisme di kalangan pejabat publik. Pengangkatan jabatan yang tidak berdasarkan meritokrasi dinilai memperburuk persepsi terhadap integritas pemerintahan.

Tren Mundur 11 Tahun

Aulia mengingatkan bahwa capaian ini membawa Indonesia mundur lebih dari satu dekade. Pada periode 2014–2019, IPK Indonesia naik signifikan dari angka 34 ke 40. Namun sejak revisi Undang-Undang KPK pada 2019 yang dinilai melemahkan lembaga tersebut, skor IPK terus melorot hingga menyentuh angka 34 pada 2022–2023. Sempat bangkit ke angka 37 pada 2024, kini kembali terpuruk ke posisi 34.

“Kalau kita lihat dalam potret lebih besar, IPK kita dari 2014 sampai 2025 tidak ke mana-mana. Sebelas tahun kita mundur,” ujar Aulia.

Solusi: Kembalikan KPK ke UU Lama

Ditanya soal langkah konkret yang harus diambil pemerintah, Aulia menegaskan jawabannya singkat: kembalikan KPK ke Undang-Undang lama. Menurutnya, ada dua jalur yang bisa ditempuh — melalui DPR atau melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) yang dikeluarkan Presiden.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia telah meratifikasi United Nations Convention Against Corruption (UNCAC) sejak 2006, yang mensyaratkan adanya lembaga antikorupsi yang independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan mana pun.

“KPK harus menjadi leading sektor dalam pemberantasan korupsi. Biarkan penegak hukum bekerja, ke mana pun korupsi itu pergi, jangan diintervensi,” tegasnya.

Dampak ke Ekonomi dan Investasi

Penurunan IPK dinilai bukan sekadar persoalan hukum, melainkan langsung berdampak pada kepercayaan investor asing. Aulia mengingatkan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, Indonesia juga menerima sejumlah sinyal negatif dari lembaga internasional — termasuk tekanan di pasar modal yang berujung mundurnya sejumlah pejabat Bursa Efek Indonesia dan OJK, serta kekhawatiran dari Moody’s soal kemampuan fiskal negara.

“Seorang investor tidak akan mau menitipkan modalnya pada negara yang bermasalah dengan korupsi. Ini secara tidak langsung berdampak langsung pada ekonomi kita,” kata Aulia.

Ia juga menyoroti kasus operasi tangkap tangan (OTT) di institusi bea cukai dan penangkapan ketua serta wakil ketua Pengadilan Negeri Depok sebagai bukti bahwa korupsi yudisial masih menjadi ancaman serius yang menggerus kepercayaan publik terhadap hukum.

Pesan untuk Pemerintah

Novel Baswedan dalam perbincangan itu menegaskan bahwa pemberantasan korupsi tidak boleh bersifat seremonial atau hanya menyentuh aktor-aktor kecil. “Yang disampaikan dengan fakta yang dilakukan harus sama. Jangan hanya retorika,” ujarnya.

Keduanya sepakat bahwa pemberantasan korupsi dan pemulihan ekonomi harus berjalan beriringan — bukan diperdebatkan mana yang lebih dulu. “Kalau bicara mana yang lebih dulu, itu seperti soal telur dan ayam. Kerjakan saja dua-duanya sekaligus,” kata Aulia.

Tags: aulia postieraKPK UU lamanovel baswedanUU KPK
Previous Post

Laporan KPF: 13 Tewas dan 703 Tahanan Politik dalam Demonstrasi Agustus 2025

Next Post

Dana Rp529 M untuk 3.000 Faskes Sumatra Jangan Sampai Terhambat Birokrasi

Next Post

Dana Rp529 M untuk 3.000 Faskes Sumatra Jangan Sampai Terhambat Birokrasi

Target Ambisius 5.200 MW Panas Bumi Terkendala Tarif tak Atraktif

2026-05-21
Pentingnya Rawat Data Wilayah Demi Cegah Sengketa

Pentingnya Rawat Data Wilayah Demi Cegah Sengketa

2026-05-19
Israel Cegat Kapal Flotilla, WNI Ikut Ditahan

Israel Cegat Kapal Flotilla, WNI Ikut Ditahan

2026-05-19
Masyarakat Adat Aceh (MAA) Jakarta Junjung Tinggi Toleransi dan Persatuan

Masyarakat Adat Aceh (MAA) Jakarta Junjung Tinggi Toleransi dan Persatuan

2026-05-16
Izin Masuk Ditangguhkan Arab Saudi Bisa Berdampak ke Kuota Haji

Perhatian Serius terhadap Penyelenggaraan Ibadah Haji Ditekankan Anggota Dewan

2026-05-13
Bank Plat Merah  Beri Cashback di Gerai Kopi Ini

Bank Plat Merah Beri Cashback di Gerai Kopi Ini

2026-05-13

Twitter

Facebook

Instagram

@paradeid

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Berita Populer

  • Pentingnya Rawat Data Wilayah Demi Cegah Sengketa

    Pentingnya Rawat Data Wilayah Demi Cegah Sengketa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Hadir untuk Ikut Aksi Mahasiswa? Ketua Presidium FPPI: Memastikan Kondusif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Target Ambisius 5.200 MW Panas Bumi Terkendala Tarif tak Atraktif

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Memahami Urgensi Pengalihan Subsidi BBM

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Serial Bahasa Indonesia: Apa Itu “Nyali”?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Tagar

#Anies #ASPEKIndonesia #Buruh #China #Cianjur #Covid19 #Covid_19 #Demokrat #Ekonomi #Hukum #Indonesia #Internasional #Jakarta #Jokowi #Keamanan #Kesehatan #Kolom #KPK #KSPI #Muhammadiyah #MUI #Nasional #Olahraga #Opini #Palestina #Pariwisata #PartaiBuruh #PDIP #Pendidikan #Pertahanan #Pilkada #PKS #Polri #Prabowo #Presiden #Rusia #RUUHIP #Siber #Sosbud #Sosial #Teknologi #TNI #Vaksin dpr politik

Arsip Berita

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kontak
Email: redaksi@parade.id

© 2020 parade.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Pertahanan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Opini
  • Profil
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Internasional
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Sosial dan Budaya

© 2020 parade.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In