Jakarta (parade.id)- Ketegangan geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah antara Iran dan sekutu Israel-Amerika, kini menjadi ujian serius bagi kedaulatan pangan dan energi nasional. Meski pemerintah mengklaim Cadangan Beras Nasional (CBN) mencapai angka aman 4,6 juta ton, transparansi kebijakan tetap menjadi kunci agar stabilitas tersebut bukan sekadar kesan administratif.
Ujian Kedaulatan di Balik Angka
Tokoh agama KH Bachtiar Nasir menyoroti bahwa dampak krisis global tidak hanya berhenti pada isu militer, melainkan merambat hingga ke meja makan masyarakat melalui fluktuasi harga pangan dan BBM. Ia menekankan bahwa angka cadangan 4,6 juta ton perlu diverifikasi secara kritis terkait asal-usul stok dan keterjangkauan harganya di tingkat konsumen.
“Pertanyaannya bukan sekadar berapa banyak beras di gudang, melainkan dari mana stok itu berasal, siapa yang membiayai, serta apakah masyarakat dapat mengaksesnya dengan harga terjangkau,” ujarnya dalam sebuah catatan reflektif.
Bahaya ‘Quiet Policy’
Kebijakan pangan nasional diingatkan agar tidak terjebak dalam quiet policy atau politik senyap. Kedaulatan pangan yang substantif harus memenuhi tiga aspek utama:
1. Stok yang aman.
2. Petani yang terlindungi (harga jual layak).
3. Harga terjangkau bagi masyarakat luas.
Tanpa transparansi mengenai besaran impor dan regulasi distribusi, cadangan yang tinggi dikhawatirkan hanya menjadi kesan stabilitas sementara petani lokal tetap tertekan.
Refleksi Perang Khandaq dan Ketahanan Mental
Menghadapi tekanan ekonomi dan ketidakpastian global, masyarakat diajak mengambil pelajaran dari peristiwa Perang Khandaq yang diabadikan dalam QS. Al-Ahzab: 10. Saat itu, kaum Muslimin dikepung dari berbagai arah dan menghadapi tekanan mental yang luar biasa.
“Bangsa yang kuat bukanlah yang paling cepat panik, melainkan yang paling jernih membaca realitas dan paling disiplin menjaga ketahanan dalam negeri,” tegas Bachtiar Nasir.
Ia menambahkan bahwa selain kebijakan pemerintah yang harus dikawal berbasis data, fondasi utama menghadapi krisis adalah ketahanan mental, prasangka baik kepada Tuhan, serta menjaga persatuan nasional agar tidak terjadi perpecahan internal di tengah himpitan global.*









