Jakarta (parade.id)- Ketua Harian Aliansi Pemuda ALA sekaligus Ketua Umum IMGL Jabodetabek, Tiro Irawan, mengajak generasi muda Aceh untuk lebih mengenal Alam Peudeuëng, panji kebesaran Kesultanan Aceh Darussalam, sebagai bagian dari upaya menjaga identitas dan warisan sejarah daerah.
Menurut Tiro, pemahaman terhadap sejarah bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan sarana membangun kesadaran jati diri dan karakter yang diwariskan para pendahulu. Ia menilai simbol-simbol sejarah seperti Alam Peudeuëng perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya kalangan pemuda.
“Sejarah harus dikenalkan kembali kepada generasi muda agar mereka memahami bahwa Aceh memiliki peradaban besar yang telah memberikan kontribusi penting dalam perjalanan bangsa Indonesia,” ujar Tiro yang merupakan putra daerah asal Gayo Lues itu, dalam keterangannya, Jumat (3/7/2026).
Alam Peudeuëng dikenal dalam catatan sejarah sebagai panji kerajaan yang digunakan pada masa kejayaan Aceh, saat kesultanan tersebut berkembang sebagai pusat perdagangan, pendidikan Islam, dan kekuatan politik berpengaruh di Asia Tenggara. Bendera ini memiliki ciri khas berupa latar merah dengan lambang bulan sabit, bintang, dan pedang berwarna putih.
Setiap elemen pada bendera tersebut mengandung makna filosofis. Bulan sabit dan bintang mencerminkan identitas keislaman masyarakat Aceh, pedang melambangkan keberanian dan keteguhan dalam menjaga kehormatan serta keadilan, sementara warna merah menggambarkan semangat perjuangan dan pengorbanan.
Tiro menegaskan bahwa Alam Peudeuëng tidak hanya berfungsi sebagai simbol kerajaan pada masanya, tetapi juga menjadi lambang pemersatu masyarakat Aceh dalam mempertahankan martabat dan kedaulatan sepanjang sejarah.
Ia berharap pengenalan sejarah Alam Peudeuëng dilakukan melalui kajian ilmiah, literasi sejarah, dan diskusi yang objektif serta bertanggung jawab, sehingga warisan tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi sekarang dalam membangun masa depan.
“Semakin kita mengenal sejarah kita sendiri, semakin kuat pula identitas dan rasa tanggung jawab kita dalam menjaga warisan budaya yang dimiliki,” pungkasnya.*








