Minggu, Februari 22, 2026
  • Info Iklan
Parade.id
  • Login
No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Pertahanan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Opini
  • Profil
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Internasional
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Sosial dan Budaya
Parade.id
Home Nasional Politik

Barisan Oposisi Indonesia (BOI) Tolak Undangan Istana

redaksi by redaksi
2026-02-22
in Politik
0

Foto: Aktivis 98 Ubedilah Badrun

0
SHARES
Share on FacebookShare on Twitter

Jakarta (parade.id)-   Akademisi Ubedilah Badrun menegaskan bahwa Barisan Oposisi Indonesia (BOI) tidak akan memenuhi undangan ke Istana Negara jika Presiden Prabowo Subianto mengulurkan tangan. Sebaliknya, BOI mempersilakan Prabowo untuk datang ke markas mereka.

“Kalau seandainya ada undangan dari istana, bersepakat kami tidak akan hadir. Tapi kalau misalnya Prabowo mau datang ke markas kami, silakan,” ujar Ubedilah dalam wawancara bersama Indra J. Piliang di kanal Forum Keadilan TV, Kamis (19/2/2026).

Related posts

Dana Rp529 M untuk 3.000 Faskes Sumatra Jangan Sampai Terhambat Birokrasi

2026-02-20

KPK Diminta Dikembalikan ke UU Lama

2026-02-20

Ubedilah menjelaskan sikap tersebut bukan bentuk arogansi, melainkan upaya menegaskan bahwa rakyat perlu benar-benar didengar—bukan sekadar dijadikan agenda seremonial kunjungan ke istana. Ia juga mengingatkan agar Presiden lebih banyak mendengar daripada berbicara.

BOI Lahir dari Keprihatinan Mendalam atas Kondisi Republik

BOI dideklarasikan oleh sejumlah aktivis lintas generasi sebagai respons atas kekosongan oposisi yang dinilai mengkhawatirkan dalam sistem demokrasi Indonesia. Ubedilah, salah satu deklaratornya, menyebut forum ini sebagai entitas epistemik—kumpulan kaum cendikiawan, pegiat demokrasi, dan aktivis yang berdiskusi secara mendalam tentang akar persoalan bangsa.

Dalam diskusi panjang yang menjadi cikal bakal BOI—berlangsung sejak siang hingga menjelang magrib—berbagai perspektif dibahas: hukum tata negara, ekonomi, hak asasi manusia, korupsi, hingga hubungan internasional.

“Kami melihat persoalan itu bukan di permukaan. Kami melihat sampai ke akar-akarnya,” kata Ubedilah.

Indonesia Disebut Berada di Tepi Jurang

Ubedilah memaparkan sejumlah indikator yang menurutnya menunjukkan kondisi Indonesia sedang kritis. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia disebut anjlok ke skor 34—jauh di bawah angka 50 yang sudah dianggap merah dalam standar internasional.

Ia juga mengkritik penggunaan standar kemiskinan yang dinilai tidak tepat. Bila menggunakan standar Bank Dunia (sekitar Rp50.000–60.000 per hari), jumlah orang miskin di Indonesia bukan 25–27 juta, melainkan bisa mencapai 194 juta jiwa. “Kalau data orang miskin lebih dari 50 persen, maka kebijakan negara akan lebih tepat,” ujarnya.

Kesenjangan ekonomi pun disoroti: sekitar 1 persen penduduk Indonesia disebut menguasai hampir 40 persen kekayaan nasional.

Kritik atas Program MBG dan Kebijakan Populis

BOI juga melancarkan kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Ubedilah, anggaran MBG yang mencapai sekitar Rp335 triliun—diambil sebagian dari pos pendidikan—seharusnya bisa digunakan untuk menggratiskan kuliah seluruh mahasiswa aktif Indonesia atau membangun puluhan kampus berkelas dunia.

Ia mengutip laporan dari berbagai daerah yang menyebut makanan dalam program MBG tidak sesuai standar gizi, bahkan ada indikasi diganti dengan produk yang mengandung zat kimia berbahaya. “Semangat awal MBG untuk menghidupi ekonomi desa, tapi yang terjadi makanan kota masuk ke desa-desa,” kritiknya.

Soal Politik Luar Negeri: Indonesia Disebut Tinggalkan Prinsip Bebas Aktif

Ubedilah turut mengkritik keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) yang digagas Amerika Serikat di bawah Donald Trump, yang juga melibatkan Israel di bawah Netanyahu.

“Kami meyakini bahwa bergabungnya Indonesia ke BoP itu jalan yang salah,” tegasnya. Ia mengkhawatirkan Indonesia kini tidak lagi menjalankan politik luar negeri bebas aktif, dan menyebut pengeluaran Rp16 triliun untuk rekonstruksi Gaza sebagai langkah yang keliru selama Indonesia turut membenarkan pihak yang menghancurkannya.

Oposisi di Luar Parlemen: Bukan Makar, tapi Menyelamatkan Republik

Ubedilah menjelaskan posisi BOI dalam kerangka teori demokrasi: dalam sistem presidensial, oposisi nonparlemen justru memiliki peran penting sebagai penyeimbang ketika fungsi trias politika—legislatif, eksekutif, dan yudikatif—mengalami disfungsi.

BOI, menurutnya, masuk dalam kategori oposisi kritis sekaligus radikal—bukan dalam arti revolusi fisik, melainkan dalam arti filosofis: radix, berpikir hingga ke akar persoalan.

“Revolusi tidak bisa direncanakan, tidak ada panitianya. Dia akan hadir sendiri ketika prasyaratnya terpenuhi,” ujar Ubedilah. “Kami bukan revolusi, kami adalah entitas epistemik yang bergerak progresif.”

Ia menutup dengan ajakan terbuka: siapapun cendikiawan, profesor, pegiat demokrasi, dan aktivis yang ingin menyelamatkan republik dari kehancuran dipersilakan bergabung dengan BOI. Jaringan BOI diklaim sudah tersebar di hampir seluruh pulau besar Indonesia.

Tags: Barisan oposisi IndonesiaBOI oposisiubedilah badrun
Previous Post

Siswa Tewas Diduga Dipukul Oknum Brimob Tragedi Kemanusiaan

Please login to join discussion

Barisan Oposisi Indonesia (BOI) Tolak Undangan Istana

2026-02-22
Siswa Tewas Diduga Dipukul Oknum Brimob Tragedi Kemanusiaan

Siswa Tewas Diduga Dipukul Oknum Brimob Tragedi Kemanusiaan

2026-02-22
Aksi Lintas Pemerhati Tipikor Indonesia di KPK dan Indoraya Besok terkait Skandal Proyek

Aksi Lintas Pemerhati Tipikor Indonesia di KPK dan Indoraya Besok terkait Skandal Proyek

2026-02-22
Ruang Fiskal Indonesia Semakin Sempit

Ruang Fiskal Indonesia Semakin Sempit

2026-02-22

Dana Rp529 M untuk 3.000 Faskes Sumatra Jangan Sampai Terhambat Birokrasi

2026-02-20

KPK Diminta Dikembalikan ke UU Lama

2026-02-20

Twitter

Facebook

Instagram

@paradeid

    The Instagram Access Token is expired, Go to the Customizer > JNews : Social, Like & View > Instagram Feed Setting, to refresh it.

Berita Populer

  • Laporan KPF: 13 Tewas dan 703 Tahanan Politik dalam Demonstrasi Agustus 2025

    Laporan KPF: 13 Tewas dan 703 Tahanan Politik dalam Demonstrasi Agustus 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Diminta Dikembalikan ke UU Lama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fadli Zon: Jokowi Sudah Selesai

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • GMKR Deklarasikan Perang terhadap Oligarki: Gibran dan Jokowi Jadi Target Utama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kogabwilhan III Kebut Pembangunan Markas Komando di Timika

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Tagar

#Anies #ASPEKIndonesia #Buruh #China #Cianjur #Covid19 #Covid_19 #Demokrat #Ekonomi #Hukum #Indonesia #Internasional #Jakarta #Jokowi #Keamanan #Kesehatan #Kolom #KPK #KSPI #Muhammadiyah #MUI #Nasional #Olahraga #Opini #Palestina #Pariwisata #PartaiBuruh #PDIP #Pendidikan #Pertahanan #Pilkada #PKS #Polri #Prabowo #Presiden #Rusia #RUUHIP #Siber #Sosbud #Sosial #Teknologi #TNI #Vaksin dpr politik

Arsip Berita

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • SOP Perlindungan Wartawan
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
  • Kontak
Email: redaksi@parade.id

© 2020 parade.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum
  • Pertahanan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Opini
  • Profil
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Internasional
    • Pariwisata
    • Olahraga
    • Teknologi
    • Sosial dan Budaya

© 2020 parade.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In